MASJID SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM

Posted: Juni 20, 2010 in ke-masjid-an


( Tinjauan Historis )

Oleh Drs. Mangun Budiyanto

I.   PENGERTIAN MASJID

Kata “masjid” berasal dari akar kata bahasa Arab

yang berarti membungkuk dengan hormat dalam posisi sujud pada waktu sholat (Kamus Al-Munawwir, 1984: 650). Dari akar kata tersebut berubah menjadi “masjid” yang merupakan kata benda yang menunjukkan arti tempat sujud (isim “makan” dari fi’il “sajada”).

Sujud adalah merupakan perbuatan sholat yang paling mulia, yaitu agar seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya, maka isim “makan: (kata benda yang menunjukkan tempat untuk sholat-pun diambil dari kata sujud yang kemudian berubah bentuknya menjadi masjid. Masjid tidak dikatakan dengan  “marka” (tempat ruku’) atau kata lain dari bagian penting dalam kegiatan sholat.

Dari pengertian asal bahasa ini maka secara terminologi syar’i. Masjid adalah setiap bangunan atau tempat yang diperuntukkan keberadaannya untuk beribadah kepada Allah dan sujud kepada-Nya ditempat itu walaupun sebenarnya, Islam membolehkan sholat diseluruh bagian bumi, kecuali pada tempat yang sudah jelas-jelas ada najisnya.

Rasulullah SAW. Bersabda:

Artinya: “Telah dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri” (HR Bukhari dan Muslim)

M. Quraish Shihab (1996:459) menulis bahwa dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat sholat kaum muslimin. Tetapi karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakekat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Qur’an surat Al-Jin:18 misalnya, menegaskan bahwa :

Artinya: “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena itu janganlah kamu menyembah sesuatupun selain Allah”

Ayat ini mengandung larangan untuk menyembah selain Allah di dalam masjid. Kenyataan ini merupakan sindiran atas perbuatan kaum musyrikin dimana mereka menyembah selain Allah yang mereka lakukan di dalam Masjidil Haram. Yang mereka sembah adalah patung-patung dan berhala.

II.   FUNGSI MASJID

Al-Qur’an telah menjelaskan tentang fungsi masjid dan urgensinya sebagaimana dalam firman Allah QS. An-Nur:36-37.

Artinya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu siang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan sembahyang, dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS. An-Nur:36-37)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah telah menetapkan tentang beberapa hak masjid, yaitu ia berhak untuk dimuliakan, diagungkan dan dihormati kesuciannya karena ia merupakan rumah Allah yang digunakan untuk beribadah oleh orang-orang yang sholat.

Keagungan masjid adalah karena ia mampu melimpahkan berbagai kebaikan kepada orang yang senantiasa mengunjunginya, juga orang yang selalu mempersiapkan masjid dalam rangka menyambut kedatangan jama’ah untuk sholat dan beribadah di dalamnya. Sementara itu, asas dan fondasi bangunan masjid adalah kualitas takwa yang dikucurkan kepada umat Islam, karena keagungan dan ketinggian Islam juga karena kebesaran dan kehormatannya.

Masjid hanya digunakan untuk mengingat nama Allah. Sementara mengingat Allah itu mencakup beberapa bentuk yang sangat luas; antara lain sholat, adzan, membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya, mengajarkan beberapa cabang ilmu yang lain dan menyelenggarakan pendidikan di dalamnya.

Ibnu Abbas berkata, “Setiap tasbih (memuji Allah) di dalam Al-Qur’an menunjukkan makna kepada sholat. Sementara masjid dipersiapkan untuk melaksanakan sholat yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan duniawi; jauh dari keramaian pasar dan kesibukan perdagangan; dan jauh dari memikirkan pintu-pintu rezeki. Kondisi seperti itu menjadikan masjid tetap berada dalam keagungan dan kesuciannya yang layak untuk dijadikan sebagai tempat melaksanakan sholat yang penuh dengan kekhusu’an dan ketundukan kepada Allah. Saat itu pikirannya tidak membayangkan kesibukan pasar, perdagangan dan perbuatan-perbuatan kotor. Orang-orang mukmin yang sungguh-sungguh keimanannya, kehidupan dunianya tidak akan memalingkan dari melaksanakan sholat ketika muadzin mengumandangkan adzan; tidak memalingkannya dari melaksanakan sholat ketika waktunya telah tiba; juga tidak memalingkannya dari taat kepada Allah yang dengan ketaatan itu jiwanya menjadi suci dan selamat dari fitnah dunia.” (Depag DIY, 2003:7)

Dzikir dan tasbih menurut sebagian ulama adalah membebaskan dan mengosongkan diri dari kelalaian dan kealpaan dengan cara melanggengkan kehadiran hati bersama Allah. Sementara masjid dibangun untuk melaksanakan i’tikaf didalamnya dan berdiam diri di dalam masjid yang bertujuan untuk beribadah dengan cara tertentu dan disertai dengan niat yang tulus.

Allah SWT berfirman, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (QS. Al-Baqarah (2):125). Allah juga berfirman, “Dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia baik yang bermukim (i’tikaf) disitu maupun di padang pasir.” (QS. Al Hajj (22):25). Allah berfirman pula, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beri’tikaf di dalam masjid” (QS. Al Baqarah (2): 87).

III.   FUNGSI MASJID DI MASA RASULULLAH SAW

Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma. Dari sana beliau membangun masjid yang besar, membangun dunia ini, sehingga kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah ‘tempat peradaban’, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia.

Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW (M. Quraish Shihab, 1996:461) adalah Masjid Quba’, kemudian disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid yang dijuluki Allah sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa (QS. Al-Tawbah (9):108), yang jelas bahwa keduanya Masjid Quba dan Masjid Nabawi dibangun atas dasar ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan dan fungsi seperti itu. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka sebut masjid dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan fungsi masjid yang sebenarnya, yakni ketakwaan. Al-Qur’an melukiskan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut:

Artinya:

Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang Mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin, serta menunggu/mengamat-amati kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu (QS. Al-Tawbah (9):107).

Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sembilan peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai:

  1. 1. Tempat ibadah (sholat, dzikir dan sebagainya)

Didalam masjid Nabawi ini Rasulullah SAW bersama para sahabatnya senantiasa melaksanakan sholat fardlu lima waktu, sholat jum’at, berdzikir dan bentuk-bentuk ibadah yang lainnya. Dengan demikian, masjid di masa Rasulullah SAW benar-benar menjadi pusat kaum muslimin membina hubungan vertikal kepada Allah.

  1. 2. Sebagai tempat musyawarah

Masjid dijadikan sebagai tempat musyawarah oleh Nabi SAW bersama para sahabatnya dalam rangka mengatur dan mengelola urusan agama dan kehidupan dunia mereka. Ia merupakan tempat yang paling utama untuk melakukan musyawarah, karena didalamnya seorang muslim jauh dari hawa nafsu dan godaan-godaan syetan.

  1. 3. Pusat pendidikan dan memberi fatwa

Masjid juga dijadikan sebagai tempat memberi fatwa oleh nabi dan para alim ulama kepada kaum muslimin mengenai berbagai problema mereka, baik yang berkaitan dengan urusan agama atau persoalan keduniaan mereka.

Dari Abdullah bin Umar bahwasannya seseorang sedang berdiri di masjid lalu ia bertanya, “Hai Rasulullah, dari arah manakah engkau memerintahkan kami untuk mulai membaca talbiyah dengan suara keras?” Rasulullah SAW menjawab.

“Penduduk Madinah membaca talbiyah dengan keras dari daerah Dzul Khulaifah, penduduk Syam dari arah Juhfah, dan penduduk Najd dari Qorn. Abdullah berkata “Telah sampai berita kepadaku bahwa rasulullah bersabda, “Penduduk Yaman membaca talbiyah dengan keras dari arah Yalamlam”. (Hadits dikeluarkan oleh Bukhari, Al-Lu’lu’wal Majan, no. 735)

  1. 4. Sebagai tempat pengadilan.

Bila terjadi perselisihan, pertengkaran dan permusuhan diantara kaum muslimin, maka mereka harus didamaikan, diadili dan diberi keputusan hukum dengan adil yang pelaksanaannya dilakukan didalam masjid. Upaya-upaya tersebut dilakukan agar kaum muslimin mendapatkan kedamaian jiwa dan menemukan kenyamanan.

Malik berkata (Dep. Agama DIY, 2003: 9):

“Pelaksanaan qadha (peradilan) di dalam masjid merupakan kebiasaan yang telah lama dijalani, dan dalam mengadili apapun. Halaman masjidnya pun dapat digunakan sebagai tempat duduk agar orang-orang yang lemah, orang-orang musyrik atau wanita yang sedang haidh bisa hadir dan mengikuti acara yang digelar di masjid. Adapun pelaksanaan hudud (hukuman) tidak boleh dilaksanakan di dalam masjid”.

  1. 5. Sebagai tempat penyambutan utusan

Nabi Muhammad SAW pernah menyambut utusan dari Nasrani Najran di dalam masjid. Rombongan tersebut berjumlah enam puluh orang, diantaranya adalah empat belas orang yang menjadi para pembesar mereka. Rombongan tersebut memasuki masjid dengan menggunakan jubah (kenasranian) setelah selesai sholat ashar. Mereka menginap di Madinah beberapa hari untuk berdialog dengan Nabi Muhammad SAW tentang Isa AS.

Beliau membantah pendapat-pendapat rombongan Nasrani sampai mereka pulang. Beliau juga mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah agar menyelesaikan masalah dan mendamaikan mereka dalam perselisihan yang berkaitan dengan perbekalan yang mereka bawa.

  1. 6. Sebagai pusat penjagaan dan pengembangan kehidupan sosial

Dari Utsman bin Yaman, ia berkata, “Ketika para Muhajirin membanjiri kota Madinah tanpa memiliki rumah dan tempat tinggal, maka Rasulullah SAW menempatkan mereka di masjid dan beliau menamai mereka dengan Ashabush Shuffah. Beliau juga duduk bersama mereka dengan sikap yang sangat ramah”. (HR. Baihaqi) Abdullah bin Umar pun tidur di masjid Rasul saat masih bujangan.

  1. 7. Sebagai tempat akad nikah

Aisyah RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:

“Beritakanlah pernikahan ini dan selenggarakanlah ia di dalam masjid, lalu pukullah rebana-rebana”. (HR. Tirmidzi, Al Misykah, juz. II, no. 3152)

Tidak diragukan lagi bahwa tempat yang paling suci untuk mengikat janji pernikahan adalah di dalam masjid. Hal ini diharapkan agar masyarakat muslim yang datang untuk menghadiri acara pernikahan itu dapat ditampung. Pemilihan tempat pernikahan di masjid itu mendorong pengantin untuk senantiasa memelihara tali pernikahan, dan mendorong para saksi untuk memelihara persaksian atas pernikahan itu.

  1. 8. Sebagai pusat latihan perang

Masjid dijadikan sebagai pusat latihan perang, baik untuk pembinaan fisik maupun mental. Dari Aisyah RA, ia berkata:

“Aku melihat Nabi SAW menghalangi (pandangan)ku dengan serbannya, padahal aku sedang memperhatikan orang-orang Habsyi yang sedang bermain-main di masjid, sehingga aku keluar (hendak melihat mereka lagi). Aku perkirakan masih suka bermain.” (Shahih Bukhari dengan syarah Ibnu Hajar, juz IX, no. 5236).

Ibnu Hajar Al Asqalani mengomentari hadits tersebut bahwa yang dimaksud bermain-main di dalam hadits itu adalah “latihan perang”, bukan semata-mata bermain. Tetapi di dalamnya adalah melatih keberanian di medan-medan pertempuran dan keberanian menghadapi musuh”.

Sementara itu Ibnu Mahlab berkata, “Masjid merupakan tempat untuk memberi rasa aman kepada kaum muslimin. Perbuatan apa saja yang membuahkan kemanfaatan bagi agama dan bagi keluarganya boleh dilakukan di masjid. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz. II, hlm. 96).

  1. 9. Sebagai tempat pengobatan orang sakit

Nabi Muhammad SAW menjadikan masjid sebagai tempat untuk mengobati orang sakit, khususnya pada hari-hari terjadi peperangan. Aisyah RA berkata, “Pada hari terjadinya perang Khandaq, Sa’ad bin Mu’adz mengalami luka-luka karena dipanah oleh seseorang dari kafir Quraisy. Kata Khabban bin Araqah, orang itu memanah Sa’ad pada bagian lehernya. Maka, Nabi SAW membuatkan tenda di masjid agar beliau bisa pulang (istirahat) dari jarak yang dekat.

Demikianlah sebagian fungsi dari masjid yang digunakan pada masa Nabi SAW, juga bentuk pelayanan beliau terhadapnya. Nampak sekali bahwa masjid dijadikan sebagai tempat melayani urusan keagamaan dan keduniawian secara seimbang. Hal itu terealisasi dalam bentuk pemeliharaan beliau terhadap kesucian dan kemuliaan masjid, dan juga menjadikan masjid itu sebagai tempat berkembangnya kegiatan-kegiatan dan gerakan-gerakan untuk melayani kepentingan umum dalam berbagai bentuknya, termasuk sebagai pusat pendidikan, pengajaran dan memberi fatwa.

IV.   DARI MASJID KE MADRASAH

Fungsi masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran umat Islam terus berlangsung semenjak masa Rasulullah SAW, Khulafaur Rosyidin dan kholifah-kholifah sesudahnya. Baru pada tahun 459 H (Ahmad Syalabi, 1975:32), mulailah terjadi pergeseran, yaitu dengan didirikannya madrasah yang pertama di kota Baghdad. Semenjak tahun itu, mulailah bermunculan secara besar-besaran serangkaian sekolah-sekolah (madrasah-madrasah) yang didirikan oleh Nizamul Muluk, seorang mentri yang terkenal dari Bani Saljuk.

Tatkala madrasah-madrasah ini didirikan dan guru-guru serta murid-murid telah mendapatkan kesempatan yang lebih luas, maka masjid yang sebelumnya menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran pun mulai berkurang kesemarakannya.

Apa sebab pembelajaran berpindah dari masjid-masjid ke madrasah-madrasah? Prof. Dr. Ahmad Syalabi (1975:106) menjawab adanya dua faktor, yaitu:

  1. Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang didalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu, disamping sering pula mengganggu orang-orang yang beribadah dalam masjid. Keadaan demikian, mendorong untuk dipindahkannya khalaqah-khalaqah tersebut keluar lingkungan masjid, dan didirikanlah bangunan-bangunan sebagai ruang-ruang kuliah atau kelas-kelas yang tersendiri. Dengan demikian kegiatan pengajaran dari khalaqah-khalaqah tersebut tidak saling mengganggu satu sama lain.
  2. Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun umum maka diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran), yang tidak mungkin keseluruhan tertampung dalam ruang masjid.

Disamping itu, menurut Dra. Zuhairini, dkk (1997: 100-102) terdapat faktor-faktor lainnya yang mendorong bagi para penguasa dan pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan-bangunan yang terpisah dari masjid. Antara lain adalah:

  1. Pada masa bangsa Turki mulai berpengaruh dalam pemerintahan Bani Abbasiyah dan untuk mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum muslimin pada umumnya dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum. Mereka berusaha untuk mendirikan sekolah-sekolah di berbagai tempat dan dilengkapi dengan segala sarana dan fasilitas yang diperlukan. Guru-guru digaji secara khusus untuk mengajar di sekolah-sekolah yang mereka dirikan.
  2. Mereka mendirikan sekolah-sekolah tersebut, di samping dengan harapan untuk mendapatkan simpati dari rakyat umumnya, juga berharap mendapatkan ampunan dan pahala dari Tuhan.

Para pembesar negara pada masa itu, dengan kekayaan mereka yang luar biasa, banyak yang hidup dalam kemewahan dan sering pula berbuat maksiat. Dengan mendirikan sekolah-sekolah dan membiayainya secukupnya, berarti mereka telah mewakafkan dan membelanjakan harta bendanya di jalan Allah. Mereka berharap hal yang demikian dapat menjadi penebus dosa dan maksiat yang telah mereka kerjakan. Kalau para ulama dan para ahli berbagai ilmu pengetahuan banyak berbuat amal saleh dengan keahlian mereka masing-masing, maka mereka pun ingin berbuat yang serupa sebagai imbangannya.

  1. Para pembesar negara pada masa itu dengan kekuasaannya, telah berhasil mengumpulkan harta kekayaan yang banyak. Mereka khawatir kalau nantinya kekayaan tersebut tidak bisa diwariskan kepada anak-anaknya, karena diambil oleh sultan. Anak-anak mereka akan menjadi terlantar dan hidup dalam kemiskinan.

Untuk menghindari hal tersebut, mereka mendirikan madrasah-madrasah yang dilengkapi dengan asrama-asrama, dan dijadikan sebagai wakaf keluarga. Anak-anak dan kaum keluargalah yang berhak mengurus harta kekayaan wakaf tersebut, sehingga kehidupan mereka dengan demikian akan tetap terjamin.

  1. Disamping itu, didirikannya madrasah-madrasah tersebut ada hubungannya dengan usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari para pembesar negara yang bersangkutan. Dalam mendirikan sekolah ini, mereka mempersyaratkan harus diajarkan aliran keagamaan tertentu, dan dengan demikian aliran keagamaan tersebut akan berkembang dalam masyarakat.

Dalam pada itu, Prof. Dr. Ahmad Syalabi (1975:07) menambahkan bahwa menurut Von Kremer ada sekumpulan manusia yang mempergunakan bagian terbesar dari waktunya untuk mengajar. Dan untuk nafkah hidupnya sehari-hari mereka mencoba mengerjakan perusahaan-perusahaan yang ringan-ringan disamping mengajar itu. Akan tetapi mereka tidak berhasil untuk mencapai taraf kehidupan yang selaras, karena itu tidak dapat/tidak perlulah sekolah-sekolah didirikan, karena sekolah-sekolah itulah yang akan menjamin bagi mereka penghasilan yang mencukupi keperluan-keperluan hidup mereka sehari-hari.

Walau bagaimanapun motivasinya, yang jelas bahwa dengan berkembangnya madrasah-madrasah di seluruh dunia Islam kaum muslimin telah mendapat kesempatan yang luas untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun seiring dengan itu, keberadaan masjid yang dulunya semarak dengan berbagai aktivitas, menjadi semakin sepi. Bahkan dalam banyak daerah, fungsi masjid pun tinggal sebagai tempat menunaikan ibadah sholat semata.

Yogyakarta, 2 Oktober 2007

Penulis

Drs. HM. Budiyanto

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syalabi, Prof. Dr.

1975.          Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Ahmad Syalabi, Prof. Dr.

1983.          Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Ahmad Syalabi, Prof. Dr.

1957.          Masyarakat Islam. Yogyakarta: CV. Ahmad Nabhan.

Ahmad Warson Munawir.

1984.          Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: PP  Al-Munawir.

Badri Yatim, Dr., MA.

2000.          Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo  Persada.

Dep. Agama DIY.

2003.          Pedoman Pemberdayaan Masjid. Yogyakarta: Proyek Dep.    Agama.

Hassan Ibrahim Hassan.

1989.          Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.

Mahmud Yunus.

1979.          Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara.

Mulyanto Sumardi.

1978.          Sejarah Singkat Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Dharma Bakti.

Quraish Shihab.

1996.          Wawasan Al-Qur’an. Jakarta: Mizan.

Zuhairini, Dra., dkk.

1997.          Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s