PEMBARUAN METODOLOGI PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QUR’AN (Studi Pemikiran KH. As’ad Humam dan Penerapannya di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta)

Posted: Juni 21, 2010 in Taman Pendidikan Al-Qor'an

Oleh: Mangun Budiyanto

  1. A. Latar Belakang Masalah

Dahulu, sebelum tahun 1990-an, yaitu sebelum sistem pendidikan Al-Qur’an model Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA/TKQ) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) berkembang luas, seringkali muncul pernyataan bahwa  prosentase anak muda Indonesia yang tidak lancar membaca Al-Qur’an semakin meningkat. Pernyataan itu dibuktikan adanya catatan-catatan yang menyebutkan:

  1. Pada tahun 1950-an, umat Islam Indonesia yang tidak mampu membaca Al-Qur’an ada 17%, dan kemudian pada tahun 1980-an telah meningkat menjadi 56%.[1]
  2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta bekerjasama dengan Dewan Dakwah Indonesia pada tahun 1988 didapati fakta bahwa 75% pelajar SMA di Jakarta buta huruf Al-Qur’an.[2]
  3. Hasil survey 1994 di Kotamadia Semarang untuk anak-anak SD se-Kotamadia Semarang, tercatat data bahwa keberhasilan pengajaran membaca Al-Qur’an di SD se-Kotamadia Semarang hanya 16% saja (Informasi dari Drs. H.M. Sukindar, Kepala Kandepag Kotamadia Semarang, pada tanggal 22 Januari 1995).[3]

Catatan-catatan itu menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan ketidakmampuan umat Islam, khususnya generasi mudanya dalam membaca Al-Qur’an. Sungguh hal ini merupakan suatu problema serius bagi umat Islam Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Usaha-usaha apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya?

Maka sejak tahun 1980-an di Indonesia bermunculan ide-ide dan usaha untuk melakukan pembaruan. Di antara tokoh pembaru yang ada yang cukup menonjol adalah KH. As’ad Humam dari Kotagede Yogyakarta. KH. As’ad Humam bersama kawan-kawannya yang dihimpun dalam wadah Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus AMM) Yogyakarta, telah mencari bentuk baru bagi sistem pengelolaan dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Setelah melalui studi banding dan ujicoba, maka pada tanggal 21 Rajab 1408 H (16 Maret 1988) didirikanlah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) “AMM” Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Romadlon 1409 H (23 April 1989) didirikan pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) “AMM” Yogyakarta. Antara TKA dengan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TK (4,0 – 6,0 th), sedang TPA untuk anak usia SD (7,0 – 12,0 th).[4]

Bersamaan dengan didirikannya TKA-TPA, KH. As’ad Humam tekun menulis dan menyusun buku Iqro’, Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, yang kemudian lebih dikenal sebagai “Metode Iqro’”. Metode ini ternyata telah sanggup membawa anak-anak lebih mudah dan lebih cepat dalam belajar membaca Al-Qur’an.

Berkat ditemukannya metode Iqro’ ini, yang sekaligus dibarengi dengan gerakan TKA-TPA, akhirnya diseluruh tanah air Indonesia terjadi suasana dan gairah baru dalam belajar membaca Al-Qur’an. Lebih-lebih setelah lembaga baru lainnya, seperti TKAL, TPAL, TQA, Kursus Tartil Qur’an, BKB-Iqro’, dan lain-lain juga didirikan mengiringinya. Maka terjadilah suatu gerakan baru yang dikemas dalam Gerakan M5A (Membaca, Menulis, Memahami, Mengamalkan dan Memasyarakatkan Al-Qur’an). Bahkan kemudian, gairah dari gerakan ini tidak hanya terbatas di wilayah tanah air Indonesia saja, namun juga merembes ke negeri-negeri jiran (tetangga).

Sebagai bukti monumental terhadap kepeloporan KH. As’ad Humam dalam gerakan pembelajaran membaca Al-Qur’an di Indonesia, maka Munas LPTQ yang ke VI tahun 1991 telah menetapkan TKA “AMM” sebagai Balitbang Sistem Pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an LPTQ Nasional di Yogyakarta (SK LPTQ Nomer: 1 tahun 1991). Setahun kemudian tepatnya pada tanggal 3 Januari 1992, Pemerintah RI melalui Menteri Agama memberikan Piagam Penghargaan kepada KH. As’ad Humam, sebagai Pembina Tilawatil Qur’an di Indonesia. Kemudian bersamaan dengan pembukaan Festival Anak Shaleh (FASI) IV tanggal 11 Juli 1999, di Istana Bogor, Presiden B.J. Habibie berkenan menganugerahkan Piagam Penghargaan kepada KH. As’ad Humam karena kepeloporannya menggerakkan pendidikan Al-Qur’an di Indonesia. Piagam itu telah diterima langsung oleh Ibu Iskilah As’ad Humam (sebagai ahli waris) dari tangan Presiden B.J. Habibie.

  1. B. Rumusan Masalah
    1. Bagaimana pemikiran pembaruan KH. As’ad Humam dalam metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an?
    2. Bagaimana usaha KH. As’ad Humam dalam mewujudkan pemikiran pembaruannya?
    3. Bagaimana penerapan pembaruan metodologinya tersebut di TKA-TPA “AMM” Yogyakarta saat ini?
  1. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan tujuan:

  1. Mendapatkan data yang komprehensif mengenai kepeloporan KH. As’ad Humam (mencakup riwayat hidup, ide-ide atau pemikirannya dan perjuangannya dalam pembaruan metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an).
  2. Untuk mengetahui sejauhmana dan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan KH. As’ad Humam dalam usahanya memperjuangkan terwujudnya ide-ide atau pemikiran pembaruan metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an.
  3. Mendapatkan data yang komprehensif mengenai TKA-TPA “AMM” Yogyakarta pada umumnya dan khususnya mengenai penerapan buku Iqro’ sebagai metode baru pembelajaran membaca Al-Qur’an disana.

Penelitian ini diharapkan berguna untuk:

  1. Sebagai data baku (basic data) dan inventarisasi dari kepeloporan tokoh-tokoh pendidikan pada umumnya, dan khususnya kepeloporan KH. As’ad Humam.
  2. Sumbangan figur keteladanan bagi generasi yang akan datang tentang apa yang telah diperbuat oleh KH. As’ad Humam yang pada gilirannya nanti mereka akan bisa meneladani dan meneruskan perjuangannya.
  3. Sumbangan pemikiran dalam rangka usaha pengembangan pendidikan Islam pada umumnya, dan usaha pengembangan serta pembaruan metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an pada khususnya.
  4. Sebagai petunjuk (pedoman) praktis bagi semua pihak yang ingin mengembangkan lembaga pendidikan Al-Qur’an model TKA-TPA “AMM” Yogyakarta.
  5. Sumbangan data ilmiah dalam bidang pendidikan dan pengajaran, sejarah, agama dan disiplin ilmu lainnya, baik untuk kepentingan almamater (UIN Sunan Kalijaga), Balitbang LPTQ Nasional di Yogyakarta, maupun instansi-instasi yang lainnya.
  1. D. Kajian Pustaka

Hingga saat ini, belumlah ada suatu penelitian yang memadai yang membahas riwayat hidup, perjuangan maupun ide-ide pemikiran KH. As’ad Humam. Yang ada barulah berupa makalah yang berisi 2-5 halaman saja, yang ditulis oleh teman-teman seperjuangannya, bersamaan saat acara “Sarasehan Sehari Mengenang Gerakan Dakwah KH. As’ad Humam” yang digelar pada hari Sabtu, 6 April 1996 di Auditorium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Sekurang-kurangnya ada 10 makalah yang ditulis pada saat sarasehan itu, yang pada umumnya menyorot sisi perjuangan KH. As’ad Humam sesuai dengan yang disaksikan oleh penulisnya. Antara lain adalah (1) Prof. Dr. AM. Saefudin (Pembina Pendidikan Guru TK Al-Qur’an Tarbiyatun Nisa’, Bogor) yang mengupas arti penting KH. As’ad Humam dengan metode Iqro’nya yang telah berhasil menggerakkan umat untuk masuk pada pintu gerbang penguasaan Al-Qur’an, (2) H. Chaerani Idris (Direktur Nasional LPP TK-TPA BKPRMI) yang menyoroti kegigihan KH. As’ad Humam dalam perjuangan memasyarakatkan Al-Qur’an, (3) Drs. RMA H. Hanafi (Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Perwakilan DIY) yang mengupas sosok KH. As’ad Humam dari aspek kepribadiannya, (4) KH. Asyhari Marzuqi (Pengasuh PP. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta dan Rois Syuriyah NU DIY) yang melihat KH. As’ad Humam sebagai figur teladan dalam perhatiannya terhadap Al-Qur’an.

  1. E. Kerangka Teori

Keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor. Antara lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Drs. M. Basyiruddin Usman, M.Pd,[5] adalah faktor (1) guru, (2) murid, (3) tujuan yang akan dicapai, (4) dasar sebagai landasan pengajaran, (5) sarana atau alat yang tersedia, (6) bahan pelajaran yang akan disampaikan, (7) metode atau teknik yang dipakai dalam menyampaikan bahan pelajaran, dan (8) evaluasi yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pengajaran. Faktor-faktor itu saling berangkai sehingga membentuk satu sistem yang tak terpisahkan.

Dari penegasan di atas, sudah tergambar betapa pentingnya peran metodologi dalam suatu proses pembelajaran. Secara harfiyah, kata “metodologi” berasal dari bahasa Greek[6], yakni “metha” yang berarti melalui, dan “hodos” berarti jalan atau cara. Sedangkan “logos” berarti ilmu pengetahuan. Jadi istilah “metodologi” berarti ilmu pengetahuan yang membahas tentang cara atau jalan yang harus dilalui.

Sedang dalam bahasa Arab kata metode diungkapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata tariqah, manhaj, dan wasilah. At-Tariqah berarti jalan, al-manhaj berarti sistem, dan al-wasilah berarti perantara atau mediator. Dengan demikian, kata Arab yang dekat dengan arti metode adalah at-tariqah.[7]

Dari pengertian ini maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang tariqah atau cara-cara yang harus dilalui atau dipergunakan dalam proses ajar mengajar membaca Al-Qur’an. Sedang tujuan pembelajaran membaca Al-Qur’an, sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. H. Mahmud Yunus[8], adalah agar para peserta pembelajaran pandai membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang betul dan tepat sesuai dengan makhraj maupun hukum-hukum tajwidnya.

Secara historis, metode pengajaran membaca Al-Qur’an di masa Rosulullah SAW dan para sahabat adalah menggunakan metode yang disebut dengan at-tariqahbil muhakah” atau sering juga disebut at-tariqahbil musyafahah[9]. Metode ini tepat pada masa itu karena budaya tulis baca belum merata seperti sekarang ini. Cara kerja metode tersebut adalah guru melafalkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar kemudian murid mengikuti bacaan guru tersebut. Setelah bacaan tersebut dikuasai dan dihafalkan oleh murid barulah bagi yang menginginkan diperlihatkan bentuk huruf atau tulisan dari bacaan yang dihafalkan. Jadi yang dipentingkan disini adalah hafalan murid, bukan pada tulisannya. Tulisan sekedar untuk membantu hafalan. Guru memperhatikan gerak bibir murid, apakah bacaan dan huruf-huruf tersebut sudah sesuai dengan makhroj dan tajwidnya atau belum.

Metode tersebut dipergunakan sejak masa Rosulullah SAW sampai ditemukannya titik dan baris dalam penulisan Al-Qur’an, antara lain yang dilakukan oleh Abu Al-Aswad Ad-Duwali atas instruksi kholifah Abdul Malik Ibnu Marwan (685-705 M)[10], dan setelah ditemukannya metode dengan kaidah Bagdadiyyah disusun oleh Abu Mansur Abdul Qofir Al-Baghdadiy[11] (1037 M).[12] Dengan ditemukannya metode dengan kaidah Bagdadiyyah ini, metode sebelumnya mulai ditinggalkan, walaupun tidak hilang sama sekali. Bahkan metode al-muhakah tersebut masih dipergunakan oleh sebagian kelompok kecil masyarakat muslim pada saat ini.

Seiring dengan perkembangan zaman, metode membaca Al-Qur’an pun turut berkembang. H. Muhammad Jazir ASP membagi metode pengajaran Al-Qur’an kedalam 5 kelompok[13] yaitu disamping (1) at-tariqah bil muhakah atau at-tariqah bil musyafahah tadi, ada pula (2) at-tariqah at-tarkibiyyah (metode eja sesuai dengan tarkib atau kedudukannya dalam kalimat), (3) at-tariqah bil muqaranah (metode dengan cara membuat padanan/membandingkan huruf Arab dengan huruf setempat), (4) at-tariqah as-sautiyyah (metode tanpa dieja namun dibaca langsung sesuai dengan bunyinya), dan (5) at-tariqah bil wasilah (metode pengajaran membaca dengan mempergunakan alat bantu/wasilah seperti cassete, video, gambar atau alat-alat peraga lainnya).

  1. F. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah kombinasi antara kajian pustaka (studi literatur atau library research) dan penelitian lapangan (field research). Library research terutama diperuntukkan membahas tentang pemikiran-pemikiran pembaruan KH. As’ad Humam dalam metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an; sedang field research diperuntukkan membahas TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an peninggalan KH. As’ad Humam yang memang didirikan untuk merealisasikan pemikiran-pemikirannya tersebut.

Sedang sifat penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk membuat pencandraan (deskripsi) secara sistematis, faktual dan akurat serta memberikan gambaran mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau fakta-fakta tertentu.[14] Karena itu, jenis data yang utama adalah data kualitatif yang diharapkan dapat memberikan keterangan-keterangan yang mendalam mengenai obyek yang diteliti. Namun demikian, jenis data kuantitatif tetap diperlukan sebagai upaya untuk mempertajam data kualitatif.

  1. G. Hasil Penelitian

Ada beberapa temuan yang didapat dari penelitian yaitu:

  1. Pemikiran pembaruan KH. As’ad Humam dalam metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an memang terbukti keunggulannya. Belajar membaca Al-Qur’an yang semula terpaku pada kaidah Bagdadiyyah dengan sistem pengajian “tradisional”-nya, kini telah banyak berganti dengan cara-cara baru hasil pemikirannya yang tertuang dalam buku Iqro’ dengan sistem TKA-TPA. Buku Iqro’ yang kemudian dikenal sebagi “metode Iqro” disusun sedemikian rupa sehingga lebih sistematis, praktis, variatif, komunikatif dan fleksibel. Demikian pula dengan sistem TKA-TPA sebagai lembaga baru bagi pendidikan Al-Qur’an anak-anak, ternyata lebih menarik dan lebih kompetitif. Dengan menggunakan metode Iqro’ dan sistem TKA-TPA, anak-anak usia TK dan SD bisa lebih cepat diantarkan memiliki kemampuan dalam membaca Al-Qur’an dibandingkan dengan menggunakan kaidah Bagdadiyyah.
  2. Usaha KH. As’ad Humam untuk mewujudkan pemikiran pembaruannya ternyata melalui perjuangan yang cukup panjang. Diawali pengalamannya menjadi guru ngaji disaat usianya masih remaja, mendirikan pengajian anak-anak di lingkungannya, kegelisahan hatinya melihat sulit dan lambatnya metode “lama” dalam mengantarkan anak-anak mampu membaca Al-Qur’an, sampai akhirnya bertemu dengan sekelompok anak-anak muda yang mempunyai keterpangilan yang sama, yang kemudian dihimpunnya dalam wadah Team Tadarus “AMM”. Bersama Team Tadarus “AMM” inilah ide, gagasan ataupun pemikiran-pemikirannya bisa didiskusikan dan diimplementasikan. Melalui jaringan-jaringan yang dibangunnya, baik itu berupa jaringan tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi sosial dan bahkan pemerintahan, akhirnya metode Iqro’ dan sistem TKA-TPA yang dikembangkannya bisa tersebar luas di tengah masyarakat, tidak hanya di tanah air Indonesia tetapi juga merembes ke negara-engara jiran di ASEAN. Saat ini metode Iqro telah menjadi kebanggaan yang bisa membawa nama harum bangsa Indonesia di mata dunia. Sebagai bukti monumental terhadap kepeloporan KH. As’ad Humam, Pemerintah RI melalui Menteri Agama, pada tanggal 3 Januari 1992, telah memberikan Piagam Penghargaan sebagai Pembina Tilawatil Qur’an di Indonesia. Dan kemudian sebagai puncaknya, bersamaan dengan pembukaan Festival Anak Shaleh (FASI) IV Tanggal 11 Juli 1999, di Istana Bogor, Presiden B.J. Habibie berkenan pula menganugerahkan Piagam Penghargaan kepada KH. As’ad Humam karena kepeloporannya menggerakkan pendidikan Al-Qur’an di Indonesia.
  3. Penerapan pembaruan KH. As’ad Humam dalam metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an, saat ini bisa dilihat di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta. Di TKA-TPA “AMM” yang didirikannya ini, terbukti metode Iqro’ masih cukup efektif. Bagi anak usia TK (4,0–6,0 tahun), tercatat ada 4 anak dari 66 anak (6,06 %) dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan telah berhasil diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Kemudian dalam waktu 12 bulan sudah meningkat menjadi 54,55 %, dan hanya dalam waktu 18 bulan sudah mencapai angka 89,9 %. Untuk anak usia SD (mayoritas usia 7,0 – 9,0 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Dalam waktu 6 bulan, tercatat ada 6 anak dari 51 anak (11,76 %) yang telah bisa membaca Al-Qur’an. Kemudian dalam waktu 12 bulan, mayorits dari mereka (43 dari 51 anak = 84,31 %) telah lancar membaca Al-Qur’an. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Bagdadiyyah melalui sistem pengajian “tradisional”, yang memerlukan waktu antara 2 – 5 tahun.
  1. H. Saran-Saran
  2. Sifat yang menonjol dalam diri KH. As’ad Humam adalah semangat juang dan keikhlasannya yang tinggi. Bermodalkan sifat yang demikian inilah antara lain yang telah mengantarkan ide dan pemikirannya bisa menggema ke segala penjuru nusantara Indonesia. Untuk itu bagi para pemegang estafet perjuangannya, baik itu keluarga KH. As’ad Humam, aktifis Team Tadarus “AMM” maupun karyawan dan ustadz-ustadzah TKA-TPA “AMM” hendaklah membekali diri dengan semangat juang dan keikhlasan yang telah dicontohkan oleh KH. As’ad Humam ini. Bila sifat ini merasuk dalam setiap jiwa para pemegang estafet, niscaya dengan seijin Allah TKA-TPA dengan metode Iqro’nya akan tetap bergema.
  3. Apapun juga, metode Iqro’ adalah tetap sebagai sebuah metode. Sebagai sebuah metode, buku Iqro’ dituntut kesesuaiannya dengan perkembangan zaman. Untuk itu, kepada semua pihak hendaknya terus menerus melakukan kajian dan penelitian ulang. Jadikan metode Iqro’ yang sekarang ini menjadi langkah awal untuk mendapatkan metode baru yang lebih efektif dan lebih efisien.
  4. TKA-TPA “AMM” dengan metode Iqro’nya memang telah menunjukkan keberhasilannya. Namun keberhasilannya barulah sampai mengantarkan anak memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an saja. Setelah mereka mampu membaca Al-Qur’an, tentu diperlukan program-program lanjutan agar mereka sanggup memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Upaya Team Tadarus “AMM” dengan mencoba mendirikan TKAL-TPAL dan TQA sebagai program lanjutan, patut dihargai. Namun nampaknya, saran-saran dan kritik-kritik dari semua pihak masih sangat diharapkan oleh Team Tadarus “AMM” ini. Dan alangkah baiknya bila para pakar dan organisasi-organisasi Islam yang ada, bukan hanya memberikan kritik dan sarannya saja, tetapi justru membuat program “lanjutan” itu sendiri.
  5. Sangat perlu dipikirkan oleh Team Tadarus “AMM” khususnya, dan kita semua pada umumnya, adalah bagaimana bisa segera disiapkan calon-calon ustadz-ustadzah TKA-TPA ini dalam jumlah besar. Mengingat bagaimanapun baiknya sistem pendidikan, dan betapapun canggihnya suatu metode pembelajaran, kalau tidak didukung oleh tenaga ustadz-ustadzah yang berkualitas secara cukup, hasilnya bisa dipastikan akan gagal. Alangkah baiknya bila UIN, khususnya Fakultas Tarbiyah, bisa mempelopori dengan membuka program yang bisa menghasilkan guru-guru TKA-TPA ini dalam jumlah yang cukup. Semoga!!

CURRICULUM VITAE

  1. A. IDENTITAS DIRI

Nama                     :  Drs. H. Mangun Budiyanto

Tempat, Tgl. Lahir :  Batang, 19 Desember 1955

NIP                                    :  150223030

Pangkat/Gol.          :  Pembina / IV/a

Jabatan                  :  Dosen/Lektor Kepala

Alamat Rumah       :  Karangkajen MG III/911 Yogyakarta

Telp. (0274) 7813480, 08156886278

Alamat Kantor       :  Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta

Nama Ayah                       :  Masyhuri (alm)

Nama Ibu               :  Munasri

Nama Istri              :  Dra. Hj. Milyatun

Nama Anak                       :  1. M. Zaki Riyanto

2. M. Fakhrur Rifqi

3. M. Fakhrur Reza

4. M. Rashif Hilmi

  1. B. RIWAYAT PENDIDIKAN
  2. 1. Pendidikan Formal
    1. SD Negeri Getas – Bawang – Batang, lulus tahun 1969.
    2. MTs Sunan Kalijaga – Bawang – Batang, lulus 1972.
    3. SP (Sekolah Persiapan) IAIN Walisongo Pekalongan, lulus tahun 1975.
    4. Sarjana Muda Fak. Tarbiyah (Jurusan Pendidikan Agama Islam) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 1980.
    5. Sarjana Lengkap (S1) Fak. Tarbiyah (Jurusan Pendidikan Agama Islam) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lulus tahun 1982.
    6. Tahun 1997-2000 Kuliah Pascasarjana Program Studi Sosiologi Agama Fisipol UGM Yogyakarta, tidak lulus.
    7. Masuk Pascasarjana Program Studi Pendidikan Islam Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2007.
  1. 2. Pendidikan Non Formal
    1. Madrasah Diniyah di Getas – Bawang – Batang, tahun 1962 – 1967.
    2. Pondok Pesantren Nurul Huda di Klawen – Bawang – Batang tahun 1967-1969.
    3. Pondok Pesantren Al-Ikhlas di Bawang – Batang, tahun 1969-1972.
    4. Pondok Pesantren Nurul Islam di Pekalongan, tahun 1973-1975.
    5. Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak di Yogyakarta, tahun 1976-1977.
  1. C. RIWAYAT PEKERJAAN
  2. Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 1985- sekarang.
  3. Dosen Luar Biasa STITY di Wonosari Gunungkidul Yogyakarta, tahun 1990- sekarang.
  4. TKS BUTSI Angkatan XIII, tahun 1981-1983.
  1. D. PRESTASI/PENGHARGAAN
  2. Sebagai Sarjana Teladan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 1982.
  3. Piagam Penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja RI sebagai Peserta Tenaga Kerja Sukarela BUTSI Angkatan XIII, tahun 1983.
  1. E. PENGALAMAN ORGANISASI
  2. Lurah Pondok PP Nurul Islam Kergon – Pekalongan.
  3. Pengasuh Pengajian Anak-Anak Mushalla Nur Sidik di Sidikan-Umbulharjo- Yogyakarta, tahun 1977-1980.
  4. Sekretaris CDM (Corp Da’i Mahasiswa) RK Pandean-Umbulharjo Yogyakarta, tahun 1979-1981.
  5. Aktif dan ikut merintis berdirinya Team Tadarus “AMM” (1983). Tahun 2000-2007 menjadi Ketua Pengurus Yayasan Team Tadarus “AMM”. Sekarang masih tercatat sebagai Ketua Balitbang Yayasan Team Tadarus “AMM” ini.
  6. Aktif di Kepengurusan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 1997-2002 sebagai Sie Pemuda, tahun 2002-2007 sebagai Ketua IV yang membidangi kepemudaan dan peningkatan pemberdayaan perempuan, tahun 2007-sekarang sebagai Sekretaris Umum.
  7. Aktif dan ikut merintis berdirinya Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY, tahun 1990. Tahun 1990-1996 menjadi Ketua I, tahun 1997-2000 menjadi Ketua Umum, tahun 2000-2003 terpilih kembali menjadi Ketua Umum, tahun 2003-2006 menjadi anggota Dewan Penasehat dan tahun 2006 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar. Berbarengan dengan itu, tahun 2000-2003 juga menjabat sebagai Direktur Wilayah LPP TKA-TPA BKPRMI Propinsi DIY.
  8. Aktif dan ikut merintis berdirinya Lembaga Dakwah dan Pendidikan Al-Qur’an (LDPQ), tahun 2005. Tahun 2005-2007 sebagai Ketua LDPQ, tahun 2007-2008 sebagai Dewan Penasehat, dan tahun 2009-sekarang sebagai koordinator bagian pemikiran dan penerbitan.
  9. Dalam kepengurusan LPTQ Propinsi DIY periode 2000-2005 bertindak sebagai koordinator bidang pendidikan Al-Qur’an dan pelatihan.
  10. Sebagai tim penyusun buku Pedoman Penyelenggaraaan TKQ/TPQ Nasional yang diterbitkan  Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, tahun 2008. Dan juga sebagai tim penyusun buku standar Kurikulum TKQ/TPQ Nasional Departemen Agama (belum diterbitkan)

10.  Sebagai anggota Komite Sekolah SMP Negeri 13 Yogyakarta, tahun 2000-2002. Tahun 2003-sekarang sebagai anggota Komite Sekolah SMA Negeri 5 Yogyakarta.

  1. F. KARYA ILMIAH
  2. Ada beberapa buku yang telah ditulis, antara lain:
    1. Aspek-aspek Pendidikan Islam (2001).
    2. Prinsip-prinsip Metodologi Iqro’ (1995).
    3. Pegangan Santri TQA, Memahami Al-Qur’an Modul 1-40 (1996).
    4. Tafhimul Qur’an Juz ‘Amma, pelajaran 1-7 untuk Santri TQA (2006).
    5. Cara Mudah Memahami Juz ‘Amma, pelajaran 1-7 untuk Majlis Ta’lim (2006).
    6. Ciri-ciri Anak Shaleh dalam Al-Qur’an (2003).
    7. Al-Qur’an dan Keharusan Mempelajarinya (2004).
  1. Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan, antara lain:
    1. Potensi Pondok Pesantren dalam Pembangunan Masyarakat Desa di Kabupaten Batang (1982).
    2. Pergulatan Agama dan Budaya, Menegosiasikan Islam dan Budaya Lokal di Masyarakat Tutup Ngisor Lereng Merapi Magelang Jawa Tengah (2007).

Yogyakarta, 23 Juli 2009

Drs. H. Mangun Budiyanto

RINGKASAN TESIS

PEMBARUAN METODOLOGI PEMBELAJARAN

MEMBACA AL-QUR’AN

(Studi Pemikiran KH. As’ad Humam dan Penerapannya

di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta)

Oleh:

Mangun Budiyanto

NIM: 07.221.692

Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh

Gelar Magister Studi Islam

Konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam

YOGYAKARTA

2009


TIM PENGUJI

  1. 1. Prof. Dr. H. Nizar Ali, M.Ag.

(Ketua Sidang)

  1. 2. Dr. H. Sumedi, M.Ag.

(Sekretaris)

  1. 3. M. Agus Nuryatno, M.A., Ph.D.

(Pembimbing Merangkap Penguji)

  1. 4. Dr. Mahmud Arief, M.Ag.

(Anggota Penguji)

ii

ABSTRAK

Berangkat dari kegelisahan hatinya melihat terus merosotnya anak-anak muda Islam yang mampu membaca Al-Qur’an, KH. As’ad Humam berupaya mencari sebab dan solusi pemecahannya. Salah satu sebab utamanya, menurut dia, adalah statisnya pengembangan sistem dan metode pembelajaran yang digunakannya. Beratus-ratus tahun lamanya umat Islam terpaku pada sistem pengajian “tradisional” dan  metode Bagdadiyyah yang disusun oleh Abu Mansur Abdul Qafir Al-Bagdadiy (1037 M).

Seiring dengan perkembangan zaman, sistem dan metode yang demikian jadi kurang menarik. Anak-anak lebih tahan duduk berjam-jam di depan TV daripada duduk setengah jam di depan guru ngaji. Akibatnya, harus dibutuhkan waktu 2 – 5 tahun untuk bisa memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Melihat fakta ini, KH. As’ad Humam bersama Team Tadarus “AMM”-nya menawarkan solusi berupa pembaruan sistem dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Muncullah dari hasil pemikirannya sistem TKA-TPA dan metode Iqro’. Berkat TKA-TPA dengan metode Iqro’ ini, di seluruh tanah air Indonesia timbul suasana dan gairah baru dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an. Bahkan kemudian, gairah ini juga merembes ke negeri-negeri jiran. Pemerintah Indonesia pun mengakui kepeloporannya dan menganugerahkan piagam penghargaan sebagai Pembina Tilawatil Qur’an.

Melihat kepeloporannya ini, sungguh sudah selayaknya bila riwayat hidup, pemikiran dan perjuangannya untuk dibukukan. Hal ini disamping sebagai inventarisasi tokoh pembaru, juga sebagai figur keteladanan bagi generasi yang akan datang.

iii

Ada 3 rumusan masalah yang dibahas, yaitu (1) bagaimana pemikiran pembaruan KH. As’ad Humam dalam metodologi pembelajaran membaca Al-Qur’an, (2) bagaimana usahanya untuk mewujudkan pemikirannya tersebut dan (3) bagaimana penerapannya di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta saat ini. Untuk menjawab 3 rumusan masalah ini, penelitian ini mengkombinasikan library research dan field research. Library research menggali pemikiran KH. As’ad Humam yang tertuang dalam 11 buku hasil karyanya. Sedang field research membahas penerapan pemikirannya tersebut di TKA-TPA “AMM” yang didirikannya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, teman seperjuangan KH. As’ad Humam, keluarga dekat, pengurus Team Tadarus “AMM” dan para ustadz-ustadzah. Disamping melalui wawancara juga dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi. Mengingat data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif, maka analisis data yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif dengan pola berfikir induktif, deduktif dan komperatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran pembaruan KH. As’ad Humam memang terbukti keunggulannya. Metode Iqro’ hasil pemikirannya, dibandingkan metode lama dengan kaidah Bagdadiyyah, terbukti lebih sistematis, praktis, variatif, komunikatif dan fleksibel. Demikian pula dengan sistem TKA-TPA sebagai model baru pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak, ternyata lebih menarik minat dan lebih kompetitif. Penerapan di TKA-TPA “AMM” menunjukkan anak usia 4,0 – 6,0 tahun (TKA) dalam waktu 6,0 – 18,0 bulan sebanyak 59 dari 66 anak (89,39%) telah mampu membaca Al-Qur’an. Sedang untuk anak usia 7,0 – 9,0 tahun (TPA) ternyata lebih cepat lagi, yaitu dalam waktu 6 – 12 bulan sebanyak 43 dari 51 anak (84,31%) telah berhasil memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan kaidah Bagdadiyyah melalui sistem pengajian “tradisional”.

iv

v


[1] Majalah “Suara Masjid”, Nomer 175, April 1989, halaman 11.

[2] Harian “Dinamika Berita”, Kamis 8 Pebruari 1990, halaman 4.

[3] Ibid.

[4] As’ad Humam, dkk., Pedoman Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan M5A, Team Tadarus AMM, Yogyakarta, 1995, halaman 3-4.

[5] M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, halaman 1-2.

[6] Mahfudh Shalahudin, dkk, Metodologi Pendidikan Agama, Bina Islam, Surabaya, 1987, halaman 15.

[7] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, halaman 92.

[8] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Mutiara, Jakarta, 1979, halaman 37.

[9] Muhammad Jazir ASP, Metode Pengajaran Al-Qur’an dari Masa ke Masa, Team Tadarus AMM, Yogyakarta, tanpa tahun, halaman 10.

[10] M. Quraish Shihab, dkk., Sejarah dan ‘Ulumul Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2000, halaman 34.

[11] Muhamad Jazir, Op.cit., halaman 10.

[12] Ibid,halaman 12

[13] Ibid, halaman 10-11

[14] Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, halaman 75.

Komentar
  1. abu piton mengatakan:

    selain belajar membaca alqur`an mari gerakkan juga belajar dan menulis huruf jawi, huruf warisan leluhur kita hasil pemikiran `ulama-`ulama awal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s