TOLOK UKUR

KEBERHASILAN RAMADLAN

Oleh : Drs Mangun Budiyanto, MSI

 

  1. Syukur alhamdulillah kita telah menyelesaikan ibadah puasa di tahun ini. Kita berharap Allah SWT. berkenan menerima amal ibadah kita, baik puasa, shalat, zakat, shodaqah, serta semua amal kita yang lain. Dan yang tidak kalah pentingnya semoga kita termasuk orang yang kembali kepada fitrah, kembali kepada asal kejadian seperti sewaktu baru dilahirkan, bersih tanpa setitik dosa sedikitpun.

 

Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:

Barang siapa berpuasa Ramadlan karena iman dan penuh harap kepada Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhori-Muslim)

 

  1. Sesuai bulan Ramadlan, otomatis kita masuk bulan Syawal. Istilah Syawal, dalam bahasa Arab diambil dari akar kata “Syaala-yasyuulu-syaulan”, yang punya arti “naik menjadi tinggi, atau peningkatan”. Jadi bisa diartikan bulan Syawal itu sebagai bulan peningkatan. Ini tepat sekali karena sebelumnya kita berada dalam “Ramadlan”. Istilah Ramadlan ini diambil dari akar kata “Ramidla-Yarmadlu-Ramadlan” yang berarti terik, sangat panas. Jadi bulan Ramadlan bisa dikatakan merupakan bulan penempaan dan penggemblengan. Ibarat besi akan dapat dibentuk menjadi apa saja setelah dipanasi dengan suhu yang amat tinggi, baru kemudian bisa ditempa dan digembleng. Jadi seseorang baru boleh dikatakan berhasil puasa Ramadlannya kalau memasuki bulan Syawal ada tanda-tanda peningkatan dalam dirinya.

 

  1. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang bisa kita jadikan sebagai tolok ukur masing-masing diri kita, sehingga dengan mudah kita tahu adanya peningkatan kearah yang lebih baik antara sebelum dan sesudah Ramadlan tahun ini?

Dalam hal ini, marilah kita perhatikan sabda Nabi Saw:

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, dialah orang yang rugi. Dan barang siapa yang hari ini justru lebih buruk dari hari kemarin, maka dia ungguh orang yang celaka.” (HR. Al-Hakim)

 

  1. Menurut saya, sekurang-kurangnya ada 6 indikator yang bisa dijadikan tolok ukur:
  2. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan
  3. Semangat shalat berjama’ah
  4. Menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain
  5. Semangat menuntut ilmu
  6. Berkobarnya semangat juang
  7. Semakin kokohnya persatuan dan kesatuan

 

  1. Indikator yang pertama adalah adanya peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah:183

 

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu menjadi taqwa.”

 

Peningkatan iman dan taqwa ini antara lain terasa pada semakin tertanamnya mahabbatullah (kecintaan kepada Allah), muraqabatullah (merasa senantiasa diawasi oleh Allah), muqarabatullah (merasa lebih dekat kepada Allah), dan ma’rifatullah (mampu merasakan kehadiran Allah di dalam dirinya).

 

  1. Sebagai ujud konkrit meningkatnya iman dan taqwa pada diri kita, maka akan muncul indikator yang kedua, yaitu meningkatnya semangat shalat berjamaah di masjid/ mushalla/langgar/surau. Shalat berjama’ah kita di masjid haruslah lebih rajin dibanding sebelumnya. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:
    1. Shalat berjama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian, dengan 27 derajat” (HR. Bukhari-Muslim)
    2. Barang siapa yang shalat Isya’ berjama’ah seolah-olah ia mengerjakan shalat separo malam. Dan barang siapa yang shalat Subuh dengan berjama’ah seolah-olah mengerjakan shalat semalam suntuk” (HR. Muslim)
    3. Seandainya manusia tahu keutamaan shalat Isya’ dan Subuh tentu mereka mendatangi keduanya (untuk berjama’ah) walaupun dengan merangkak” (HR. Bukhari-Muslim)
    4. Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala mendatangi adzan dan shof yang pertama, kemudian untuk mendapatkannya harus diundi (karena berebut) niscaya mereka mau mengadakan” (HR. Bukhari-Muslim)
    5. Sungguh orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh perjalanannya menuju tempat shalat (masjid)” (HR. Bukhari-Muslim)
    6. Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh” (HR. Bukhari-Muslim)
    7. Demi Dzat yang menguasaiku. Sungguh aku benar-benar bermaksud menyuruh mengumpulkan kayu bakar. Kemudian aku memerintahkan shalat dengan mengumandangkan adzan lebih dahulu. Lalu aku menyuruh seseorang mengimami orang banyak, lalu aku pergi ke rumah-rumah orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka” (HR. Bukhari-Muslim)
    8. Jika istri kamu minta izin untuk (berjama’ah shalat) di masjid, maka jangan dicegah” (HR. Bukhari)
    9. Janganlah kamu halangi wanita-wanita hamba Allah memasuki masjid-masjid Allah, akan tetapi hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai harum-haruman” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Indikator yang ketiga adalah dibuktikan semakin bermanfaat diri kita untuk orang lain (nafi’un li ghairihi).

Bukankah Rasulullah Saw bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, Thabrani dan Daruqutni)

Seorang muslim, setelah membingkai hidupnya dengan misi ibadah kepada Allah semata (QS. Adz-Dzariyat: 56) maka orientasi hidupnya adalah memberikan sebanyak-banyak manfaat bagi sesama. Ia senantiasa terpanggil untuk menjadi pribadi yang “nafi’un li ghairihi” (bermanfaat untuk orang lain), terjauh dari sifat egois dan mementingkan diri sendiri saja.

  1. Seorang muslim yang menjadi pedagang, orientasinya bukanlah sekedar meraup untung sebanyak-banyaknya, tetapi membantu yang dibutuhkan, tanpa ada unsur kecurangan dan penipuan.
  2. Seorang muslim yang menjadi guru, orientasinya bukanlah sekedar mengajar lalu setiap bulan mendapatkan gaji, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat terbaik kepada peserta didiknya. Ia selalu mencari cara agar peserta didik menjadi generasi-generasi penerus yang lebih kuat dan lebih unggul.
  3. Seorang muslim yang menjadi dokter, orientasinya adalah bagaimana ia memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya, ia sangat berharap bisa melakukan yang terbaik bagi kesehatan dan kesembuhan pasien-pasiennya.

 

Demikianlah, masing-masing kita, apapun profesinya, akan mampu memberikan yang terbaik bagi kemanfaatan sebanyak-banyak orang dan sebanyak-banyak manfaat.

 

  1. Indikator yang keempat adalah tumbuhnya semangat menuntut ilmu, baik ilmu yang fardlu ‘ain maupun ilmu yang fardlu kifayah.

 

Bukankah Allah Swt telah menegaskan:

Artinya:

“….Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang diberi ilmu dengan beberapa derajat….” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Jiwa semangat menuntut ilmu ini, untuk bangsa Indonesia saat ini, begitu terasa sangat penting. Bukankah saat ini kita masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain dibidang iptek? SDA (Sumber Daya Alam) kita memang unggul, namun karena SDM (Sumber Daya Manusia) rendah, maka SDA yang ada justru dieksploitasi oleh bangsa lain. Data tahun 2014 menunjukkan, bahwa kualitas SDM Indonesia bila dilihat dari Indek Pembangunan manusia di dunia ini, hanya menempati urutan ke 124 dari 182 negara. Ini berarti kita harus bekerja keras!!

  1. Indikator yang kelima adalah berkobarnya semangat juang di masing-masing dada kita. Semangat juang ini, yang oleh bahasa agama biasa dikenal dengan istilah “jihad”, adalah merupakan “ruh” (nyawa) bagi kehidupan manusia. Hidup tanpa jihad bagaikan mayat berjalan.

Jihad yang dimaksud di sini bukanlah jihad dalam pengertiannya yang sempit, yakni “berperang dengan senjata”, akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu “mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan pahala dan ridla Allah Swt semata serta terhindar dari siksa-Nya”.

Dalam kontek masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad  mengangkat senjata, akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah serta nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa.

Sungguh bila kita tilik kondisi riil yang ada, bangsa Indonesia saat ini masih membutuhkan barisan mujahid-mujahid yang memiliki semangat juang tinggi. Mari kita perhatikan:

  1. Indonesia adalah negara yang dikenal subur makmur loh jinawi. Tetapi kenapa untuk beras saja masih impor? Kedelai, terigu, buah-buahan dan berbagai hasil pertanian lainnya masih juga harus mendatangkan dari luar negeri?
  2. Indonesia adalah negara yang dikenal kaya dengan sumber barang tambang, baik itu minyak, gas, emas, biji besi, timah, batu bara dan lain-lain. Namun ternyata, untuk mengeksploitasinya, masih bergantung dengan modal dan tenaga asing!
  3. Indonesia dalah negara dengan lautannya yang sangat-sangat luas. Namun ternyata untuk kebutuhan garam saja masih mendatangkan dari luar negeri! Ini semua pertanda bahwa SDM kita masih sangat rendah. Sementara yang menonjol dari ekspor kita adalah dalam hal PRT (Pembantu Rumah Tangga). Sungguh memprihatinkan!
  4. Sementara itu, hutang luar negeri kita masih sangat tinggi. Sedangkan angka korupsinya juga menempati rangking pertama. Disusul semakin memprihatinkannya dekadensi moral di kalangan para remaja. Sungguh ini semua membuat suramnya masa depan bangsa Indonesia.

Problema bangsa Indonesia seperti ini, bila terus dibiarkan, maka tidak mustahil dalam waktu yang tidak terlalu lama bangsa Indonesia akan selesai riwayatnya. Untuk ini, tugas kita semua untuk seoptimal mungkin memperbaikinya. Disamping perbaikan untuk generasi sekarang ini, yang tidak kalah pentingnya adalah perbaikan untuk generasi mendatang.

 

Allah berfirman:

Artinya:

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak keturunan yang lemah….” (QS. An-Nisa’:9)

 

Untuk itu kita siapkan anak-anak kita, agar memiliki 6 kekuatan: (1) quwatul aqidah (keimanan), (2) quwatul ilmi (ilmu pengetahuan dan teknologi), (3) quwatul iqtishodi (ekonomi), (4) quwatul ijtima’ (persatuan dan kesatuan), (5) quwatul khuluqi (kekuatan moral), dan (6) quwatul jismi (kekuatan/kesehatan jasmani).

 

 

  1. Indikator yang terakhir, namun tidak kalah pentingnya, adalah semakin kokohnya persatuan dan kesatuan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bukankah dalam Islam ada dikenal 3 konsep ukhuwah:
  2. Ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan sesama umat Islam.
  3. Ukhuwah wathaniyah, yakni persaudaraan dengan sesama warga negara.
  4. Ukhuwah insaniyah, yakni persaudaraan sesama umat manusia.

 

Untuk di Indonesia, sejak dulu telah berkembang tradisi “syawalan” seusai puasa Ramadlan. Dalam tradisi syawalan ini, kita saling berkumpul untuk bersilaturahmi, saling melepas rindu dan saling maaf memaafkan. Ini semua tentu bisa menambah semakin kokohnya ukhuwah diantara kita.

Ayat Al-Qur’an yang biasa dibaca dalam acara syawalan ini adalah QS. Ali-Imran: 133-135.

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah:

  1. Gemar berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang maupun sempit
  2. Mampu manahan marah
  3. Ringan memaafkan kesalahan orang lain
  4. Bersegera ingat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya, bila terjerumus ke dalam perbuatan keji dan dzalim.

 

  1. Akhirnya, saya sekeluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, Taqobalallohu minna wa minkum. Minal ‘aidin wal faizin. Amin.

 

Yogyakarta,   Syawal 1436 H

Penulis

 

 

Drs. H. Mangun Budiyanto, MSI.

Telp. (0274) 415969

Hp:  08156886278

PEDOMAN MEMILIH PEMIMPIN DALAM ISLAM

Posted: September 10, 2016 in Politik

 

PEDOMAN MEMILIH PEMIMPIN

DALAM ISLAM

Oleh : Mangun Budiyanto

 

  1. Pendahuluan
  2. Dalam Surat Al-Hujurat: 13 Allah SWT telah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan sehinggga membentuk suku, bangsa dan masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat ini manusia tidak mungkin melepaskan diri dari masalah kekuasaan dan kepemimpinan, baik tingkat yang paling rendah seperti kepala rumah tangga, menengah seperti kepala wilayah maupun tinggi seperti kepala negara.
  3. Pada prinsipnya menurut Islam, setiap manusia adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peranannya di muka bumi sebagai khalifatullah (QS. Al-Baqarah: 30) yang   bertugas   untuk  memakmurkan

bumi (QS. Hud: 61) dan tidak berbuat kerusakan (QS. Al-Qashah: 77). Dalam           HR. Bukhari-Muslim diterangkan:

Artinya:

“Dari Ibnu Umar r.a. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah, semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari-Muslim)

 

  1. Di dalam Al-Qur’an banyak diketemukan istilah yang bermakna kepemimpinan ini, antara lain kata imam (QS. Al-Baqarah: 124), khalifah (QS. Al-Baqarah: 30), malik (QS. Al-A’raf: 3), amir atau ulil amri (QS. An-Nisa: 59) dan sultan (QS. An-Nisa: 144). Ini menunjukkan bahwa masalah kepemim-pinan dalam Islam tidak boleh dianggap sepele. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah:

 

Agama Islam tidak akan bisa tegak dan abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama”.

 

  1. Rasulullah SAW menyuruh mengangkat pemimpin dari salah satu dari 3 orang yang melakukan safar (perjalanan).

Dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “apabila ada 3 orang keluar dalam suatu safar (perjalanan) maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin”. (HR. Abu Daud)

 

  1. Tegasnya umat Islam harus memperhatikan masalah kepemimpinan ini dan tidak boleh bersikap acuh tak acuh. Baik itu kepe-mimpinan sebagai Ketua RT, Kepala Dukuh, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden ataupun jabatan-jabatan yang lainnya.

 

  1. Kedudukan Pemimpin Yang Adil
  2. Memberi banyak manfaat bagi umat

Tidak hanya menurut pandangan masyarakat, menurut pandangan Islam pun menjadi pemimpin itu memiliki kedudukan yang terhormat. Hal ini karena:

  1. Menjadi pemimpin akan memiliki peluang untuk lebih bermanfaat hidupnya bagi orang banyak. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”. (HR. Al-Qudho’i dari Jabir, dalam Jami’us Shoghir). Semakin tinggi jabatan seorang pemimpin, maka akan semakin besar pula peluang kemanfaatan dirinya bagi orang banyak.
  2. Pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil, bisa lebih utama daripada ibadahnya orang lain yang dilakukan berpuluh-puluh tahun. Karena dalam satu hari, seorang pemimpin bisa mengeluarkan keputusan yang dapat menyelamatkan beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta orang yang teraniaya, mengembalikan hak kepada pemiliknya dan memotong jalan orang-orang yang berbuat kejahatan.
  3. Pemikiran seorang pemimpin yang cerdas bisa lebih utama daripada sedekahnya beribu-ribu dermawan. Karena pemimpin berpeluang untuk mendirikan proyek-proyek yang bisa mendatangkan ribuan lapangan kerja bagi para pengangguran, roti bagi orang lapar, obat bagi yang sakit, rumah bagi yang gelandangan dan pertolongan bagi orang yang membutuhkan.

 

  1. Mulia di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW dalam banyak haditsnya telah menginformasikan betapa terhor-matnya kedudukan seorang pemimpin yang adil, antara lain:

  1. “Satu hari dari imam yang adil adalah lebih utama daripada ibadah 60 tahun”. (HR. At-Thabrani dari Ibnu Abbas).
  2. “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil.” (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id)
  3. Ada 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan Allah, salah satunya adalah peimpin yang adil”. (HR. Bukhari-Muslim)
  4. “Kelompok yang doa mereka tidak ditolak ialah (1) orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, (2) pemimpin yang adil dan (3) orang yang teraniaya”. (HR. Ahmad dan Abu Hurairah).

 

  1. Menjadi Cita-cita bagi orang yang beriman

Begitu tingginya kedudukan seorang pemimpin, maka Allah SWT mengajarkan agar umat Islam tiada henti-hentinya untuk berdo’a untuk menjadi pemimpin:

Artinya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 74)

 

  • Pedoman dalam Memilih Pemimpin
  1. Prinsip-prinsip dasar dalam memilih pemimpin.

Walaupun dalam Islam tidak dijelaskan bagaimana sistem atau tata cara memilih pemimpin, apakah model demokrasi melalui pemilu seperti di Indonesia atau yang lainnya, namun prinsip-prinsip dasar siapa yang boleh diangkat atau dipilih sebagai pemimpin banyak ditemui dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi, antara lain:

  1. Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim karena bagaimanapun akan mempengaruhi kualitas keberagamaan rakyat yang dipimpinya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Surat An-Nisaa: 144 :

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? (QS. An-Nisa: 144).

 

  1. Tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 57 :

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah: 57).

 

  1. Jangan memilih pemimpin berdasarkan kekerabatan ataupun pertemanan dengan mengorbankan faktor agama dan keimanan. Allah berfirman:

Artinya:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. At-Taubah: 33)

 

Dalam hal ini Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin”. (HR. Al Hakim)

 

Umar bin Khatab berkata:

”Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertim-bangan itu, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin”.

 

  1. Pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya. Pemberian tugas atau wewenang kepada yang tidak berkompeten akan mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan juga perhatikan hadits di bawah ini:

 

 

Artinya:

“Dari Abu Dzar dia berkata, saya bertanya (kepada Rasulullah SAW): Wahai Rasulullah kenapa engkau tidak memberikan suatu jabatan? Rasulullah menjawab sambil memukulkan tangan-nya di pahaku: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Sesungguhnya jabatan itu amanat. Di hari kiamat jabatan itu bisa mendatangkan kesedihan dan penye-salan, kecuali bagi orang yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya”. (HR. Bukhari).

 

  1. Pemimpin harus bisa diterima (accep-table), mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan dan didoakan oleh umatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.

“Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR. Muslim)

 

  1. Pemimpin harus mengutamakan, mem-bela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksa-nakan syari’at, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Surat An-Nisa’: 58 :

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di-antara manusia supaya kamu menetap-kan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)

 

Dan juga Allah berfirman dalam Surat An-Nahl: 90:

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl: 90)

 

  1. Pilih pemimpin yang aspiratif, mau memperhatikan keluhan masyarakat, bersikap lemah lembut dan gemar bermusyawarah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 159 :

Artinya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka men-jauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah am-pun bagi mereka, dan bermusyawarah-lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membu-latkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawak-kal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

 

  1. Pemimpin harus memiliki bayangan sifat-sifat Allah SWT yang terkumpul dalam Asmaul Husna dan sifat-sifat wajib Rasul yang 4 yaitu sidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), fathanah (cerdas) dan tabligh (bisa menyam-paikan gagasan dan mampu membawa umatnya ke arah perbaikan dan kemajuan).
  2. Mampu menjadi teladan untuk umat, sebagaimana Rasulullah yang menjadi figur teladan bagi umatnya juga. Allah SWT berfirman:

Artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) pada Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

 

  1. Pemimpin berat resikonya

Menjadi pemimpin, walaupun memiliki kedudukan yang mulia, namun berat resikonya. Maka janganlah meminta jabatan, tetapi kalau dipilih terimalah. Perhatikan hadits berikut ini:

 

Artinya:

Dari Abdurahman bin Samrah, dia berkata: Nabi SAW bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah kamu minta jabatan, sesung-guhnya jika kamu dapat jabatan karena minta, maka akan menanggung banyak beban, tetapi kalau kamu mendapat ja-batan tanpa minta-minta maka kamu akan memperoleh pertolongan. (HR. Bukhari)

 

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam suatu hadits:

Artinya:

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Sungguh kamu sekalian sangat berhasrat menjadi pejabat, padahal itu akan menjadi penyesalan di hari qiyamat”.

(HR. Bukhari)

 

  1. Jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar

Bagaimana jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar yang sudah ditetapkan? Atau bahkan bagaimana bila ada kekhawatiran tugas jabatan itu akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa madlorot bagi umat Islam? Dalam kasus seperti ini, tentu tidak ada salahnya bila yang memiliki keahlian berusaha untuk meraihnya. Dengan catatan: (1) harus niat ikhlas semata-mata mencari ridlo Allah SWT,           (2) amanah dan akan tetap istiqomah,           (3) memiliki keunggulan dari pada kom-petitor lainnya dan (4) ada kekhawatiran terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain. Simak kisah Nabi Yusuf yang meminta untuk diangkat sebagai bendahara negeri Mesir.

Allah berfirman: “(Yusuf berkata): Jadikan-lah aku bendahara negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanat) dan berpenge-tahuan”. (QS. Yusuf: 55)

 

  1. Penutup

Sebagai penutup makalah ini, di bawah ini ada beberapa hadits Nabi untuk dijadikan renungan bersama.

 

Artinya:

“Dari Mu’qil bin Yasar berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Tidak ada hamba yang Allah berikan jabatan kepadanya, kemudian dia tidak melaksanakan dengan benar, maka dia tidak akan mendapat bau surga. Dalam lafadz yang lain Rasul bersabda: Tidak ada pejabat yang memimpin kemudian dia menipu umatnya, sampai dia mati, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Artinya:

“Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Laknat Allah atas orang yang memberi suap (riswah) dan orang yang disuap.” (HR. Khamsah)

 

‘Aisyah r.a berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda di rumahku ini:

Artinya:

“Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.” (HR. Muslim)

 

Semoga makalah ini bisa mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin Islam yang berkualitas. Amin.

 

Yogyakarta, 10 Okt. 2015

 

Daftar Pustaka

 

  • Agus Supatera, Petunjuk Al-Qur’an dalam Memilih Pemimpin, riau-kemenag.go.id, diunduh tanggal 10 Oktober 2015
  • Al-awardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, Hukum-Hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syare’at Islam, Farid Bahri. Bekasi : Darul Falah, 2012.
  • Fakih, Aunur Rohim, dkk, Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : UII Press, 2005
  • Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1993.
  • Mahadi Zaenudin, Abd Mustakim, Studi Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : Al-Muhsin Press, 2002.
  • Syihab, M Quraish, Membumikan Al-Qur’an. Bandung : Mizan, 2001.
  • _______, Tafsir Al-Misbah. Jakarta : Lentera Hati, 2009.
  • Tim Dep. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Dep. Agama RI, 1998.
  • ______, Al-Qur’an dan Tafsirnya. Yogyakarta : UII Press, 2004.

 

MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM AS

Posted: September 10, 2016 in Uncategorized

MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM A.S

Oleh: Drs. HM. Budiyanto, M.S.I.

 

  1. Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menghitung, tapi mensyukurinya. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT. Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

 

  1. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi firman Allah SWT dalam Surat As-Shaffat: 100-102, tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Allah SWT berfirman :

 

 

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 100-102)

 

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:

  • Pelajaran pertama

Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus, berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.

Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.

 

Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi, merupakan salah satu dari 3 hal yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala buat dia akan terus mengalir. Rasulullah SAW bersabda:

Apabila manusia telah meninggal dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR. Bukhori-Muslim)

Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang memiliki anak-anak yang shaleh ini.

Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu? Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui ciri-ciri anak shaleh ini.

 

  • Pelajaran kedua:

Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati demi kepentingan agama Allah.

Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih oleh ayahnya:

 

 

Artinya: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga pendidikan, yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke sekolah atau lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau mendangkalkan aqidah keislamannya.

 

  • Pelajaran ketiga:

Ibrahim bersama istrinya, Siti Hajar, telah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.

  1. Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.

 

Artinya: “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya. Dia lebih mengedepan-kan pemberian contoh dan keteladanan, daripada mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting. Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak berhenti-hentinya merokok?

  1. Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak shaleh. Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”. Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka.

 

  • Pelajaran keempat:

Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.

Pengorbanan tersebut, sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:

 

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)

 

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan. Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslimin ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah: 24, yang artinya :

Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

(QS. At-Taubah [9] : 24)

 

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya.

 

  1. Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru, generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak! Walaupun Indonesia sudah merdeka selama 71 tahun, dan kemajuan sudah bisa kita saksikan, namun dibandingkan dengan kemajuan Negara jiran kita di ASEAN saja, Indonesia masih tertinggal jauh. Mari kita simak fakta-fakta berikut :
  2. Pendapatan perkapita Indonesia masih rendah, yaitu hanya US 4.700/tahun. Sementara Thailand US 10.000,-; Malaysia US 15.000,- dan Singapura US 50.000,-. (finance.detik.com., dikutip 20 Sept 2015)
  3. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2015 penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (berpenghasilan dibawah Rp. 344.800 perkapita perbulan) tercatat 28,51 juta jiwa (11,18%). (suara.com, dikutip 20 Agustus 2016).
  4. Sementara itu, angka korupsi masih Bila Negara yang terbersih dari korupsi diberi angka 1 (satu), ternyata, pada akhir tahun 2015 Indonesia menempati peringkat 88 dari 168 negara yang disurvey. Angka ini kalah jauh dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. (htt.ps://tempo.co., dikutip tgl 20 Agustus 2016)
  5. Sedangkan utang Indonesia kepada luar negeri ternyata telah membengkak. Keadaan per Januari 2016 ada sebesar 4.034 trilyun, atau kalau dibagi semua penduduk yang kini mencapai 258 juta jiwa, berarti per-jiwa telah punya utang lebih dari Rp. 15 juta. Padahal RAPBN yang diajukan Pemerintah untuk tahun 2017, hanya Rp. 2.070,5 trilyun (KR, 18 Agustus 2016). Ini berarti, utang Indonesia sudah 2 kali lipat dari penghasilannya.
  6. Tindakan aborsi secara illegal atau bukan dasar alasan medis, rata-rata pertahun 2,6 juta. Sebanyak 30 % pelaku aborsi dari kaum hawa usia kurang dari 20 tahun. Suatu angka yang mencerminkan betapa dekadensi moral semakin memprihatinkan!

(www.pikiran-rakyat.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. BNN (Badan Narkotika Nasional) menyatakan bahwa transaksi narkoba di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di ASEAN. Sebesar Rp. 48 trilyun per-tahun untuk narkoba. Jumlah pecandunya mencapai 4 juta jiwa.

(www.antaranews.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia memang unggul. Namun dari sisi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), masih kalah dengan Negara Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Sedang dari 61 negara yang disurvey pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke 41. (kemenkeu.go.id, dikutip 20 Agustus 2016)

 

  1. Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat fakta-fakta bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang, generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang kokoh (quwwatul aqidah), moral yang handal (quwwatul khuluqi), ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i) dan badan yang sehat (quwwatul jismi). Itu semua, kunci utamanya ada pada pendidikan dan pengajaran! Allah SWT telah mengingatkan dalam QS An-Nisa’: 9

 

“Hendaklah orang-orang harus khawatir kalau sepeninggalnya nanti meninggalkan generasi penerus yang lemah”.

 

  1. Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa ini. Ada seorang bijak berkata:
  • Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
  • Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri tempat aku berpijak.
  • Sewaktu aku usia pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
  • Sewaktu aku usia dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki keluargaku.
  • Sewaktu aku usia menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki diriku sendiri.
  • Dengan memperbaiki diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
  • Dengan memperbaiki keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
  • Dengan memperbaiki kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
  • Dengan memperbaiki negeri, aku berharap bisa memperbaiki dunia.

Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik. Janganlah berkata: “Apa yang telah diberikan Negara kepadaku”’ tetapi berkatalah: “Apa yang telah aku berikan untuk negaraku”

 

  1. Akhirnya, kita berharap semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.

Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka. Amin, amin, ya, mujibas sa’ilin.

 

Yogyakarta, 12 September 2016

Drs. HM. Budiyanto, MSI

– Telp. (0274) 415969

– 08156886278

 

 

5 Program Utama LDPQ

 

  1. Membina dan Mengembangkan SDM
  2. Mengembangkan Kurikulum TKA TPA
  3. Mengembangkan Ekonomi dan Kesejahteraan Aktivis
  4. Membina dan Mengembangkan Kelembagaan
  5. Membina dan Mengembangkan Jaringan

 

 

 

Kegiatan LDPQ Tahun 2016

 

  1. Diklat Imam & Khotib
  2. Menyediakan Dai/Ustadz/Mubaligh/Kyai untuk Ceramah/Imam & Khotib
  3. Melayani Privat Baca Quran & bimbingan Sholat Khusyu
  4. Menerbitkan Buku
  5. Melayani Konsultasi Manajemen TKA TPA

 

Info hub:
CP WA: 085743141067
M Bashori
0882-1639-5730

 

MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM A.S

Oleh: Drs. HM. Budiyanto, M.S.I.

 

  1. Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menghitung, tapi mensyukurinya. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT. Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

 

  1. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi firman Allah SWT dalam Surat As-Shaffat: 100-102, tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Allah SWT berfirman :

 

 

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 100-102)

 

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:

  • Pelajaran pertama

Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus, berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.

Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.

 

Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi, merupakan salah satu dari 3 hal yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala buat dia akan terus mengalir. Rasulullah SAW bersabda:

Apabila manusia telah meninggal dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR. Bukhori-Muslim)

Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang memiliki anak-anak yang shaleh ini.

Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu? Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui ciri-ciri anak shaleh ini.

 

  • Pelajaran kedua:

Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati demi kepentingan agama Allah.

Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih oleh ayahnya:

 

 

Artinya: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga pendidikan, yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke sekolah atau lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau mendangkalkan aqidah keislamannya.

 

  • Pelajaran ketiga:

Ibrahim bersama istrinya, Siti Hajar, telah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.

  1. Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.

 

Artinya: “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya. Dia lebih mengedepan-kan pemberian contoh dan keteladanan, daripada mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting. Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak berhenti-hentinya merokok?

  1. Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak shaleh. Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”. Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka.

 

  • Pelajaran keempat:

Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.

Pengorbanan tersebut, sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:

 

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)

 

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan. Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslimin ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah: 24, yang artinya :

Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

(QS. At-Taubah [9] : 24)

 

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya.

 

  1. Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru, generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak! Walaupun Indonesia sudah merdeka selama 71 tahun, dan kemajuan sudah bisa kita saksikan, namun dibandingkan dengan kemajuan Negara jiran kita di ASEAN saja, Indonesia masih tertinggal jauh. Mari kita simak fakta-fakta berikut :
  2. Pendapatan perkapita Indonesia masih rendah, yaitu hanya US 4.700/tahun. Sementara Thailand US 10.000,-; Malaysia US 15.000,- dan Singapura US 50.000,-. (finance.detik.com., dikutip 20 Sept 2015)
  3. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2015 penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (berpenghasilan dibawah Rp. 344.800 perkapita perbulan) tercatat 28,51 juta jiwa (11,18%). (suara.com, dikutip 20 Agustus 2016).
  4. Sementara itu, angka korupsi masih Bila Negara yang terbersih dari korupsi diberi angka 1 (satu), ternyata, pada akhir tahun 2015 Indonesia menempati peringkat 88 dari 168 negara yang disurvey. Angka ini kalah jauh dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. (htt.ps://tempo.co., dikutip tgl 20 Agustus 2016)
  5. Sedangkan utang Indonesia kepada luar negeri ternyata telah membengkak. Keadaan per Januari 2016 ada sebesar 4.034 trilyun, atau kalau dibagi semua penduduk yang kini mencapai 258 juta jiwa, berarti per-jiwa telah punya utang lebih dari Rp. 15 juta. Padahal RAPBN yang diajukan Pemerintah untuk tahun 2017, hanya Rp. 2.070,5 trilyun (KR, 18 Agustus 2016). Ini berarti, utang Indonesia sudah 2 kali lipat dari penghasilannya.
  6. Tindakan aborsi secara illegal atau bukan dasar alasan medis, rata-rata pertahun 2,6 juta. Sebanyak 30 % pelaku aborsi dari kaum hawa usia kurang dari 20 tahun. Suatu angka yang mencerminkan betapa dekadensi moral semakin memprihatinkan!

(www.pikiran-rakyat.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. BNN (Badan Narkotika Nasional) menyatakan bahwa transaksi narkoba di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di ASEAN. Sebesar Rp. 48 trilyun per-tahun untuk narkoba. Jumlah pecandunya mencapai 4 juta jiwa.

(www.antaranews.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia memang unggul. Namun dari sisi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), masih kalah dengan Negara Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Sedang dari 61 negara yang disurvey pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke 41. (kemenkeu.go.id, dikutip 20 Agustus 2016)

 

  1. Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat fakta-fakta bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang, generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang kokoh (quwwatul aqidah), moral yang handal (quwwatul khuluqi), ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i) dan badan yang sehat (quwwatul jismi). Itu semua, kunci utamanya ada pada pendidikan dan pengajaran! Allah SWT telah mengingatkan dalam QS An-Nisa’: 9

 

“Hendaklah orang-orang harus khawatir kalau sepeninggalnya nanti meninggalkan generasi penerus yang lemah”.

 

  1. Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa ini. Ada seorang bijak berkata:
  • Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
  • Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri tempat aku berpijak.
  • Sewaktu aku usia pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
  • Sewaktu aku usia dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki keluargaku.
  • Sewaktu aku usia menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki diriku sendiri.
  • Dengan memperbaiki diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
  • Dengan memperbaiki keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
  • Dengan memperbaiki kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
  • Dengan memperbaiki negeri, aku berharap bisa memperbaiki dunia.

Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik. Janganlah berkata: “Apa yang telah diberikan Negara kepadaku”’ tetapi berkatalah: “Apa yang telah aku berikan untuk negaraku”

 

  1. Akhirnya, kita berharap semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.

Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka. Amin, amin, ya, mujibas sa’ilin.

 

Yogyakarta, 12 September 2016

Drs. HM. Budiyanto, MSI

– Telp. (0274) 415969

– 08156886278

 

 

5 Program Utama LDPQ

 

  1. Membina dan Mengembangkan SDM
  2. Mengembangkan Kurikulum TKA TPA
  3. Mengembangkan Ekonomi dan Kesejahteraan Aktivis
  4. Membina dan Mengembangkan Kelembagaan
  5. Membina dan Mengembangkan Jaringan

 

 

 

Kegiatan LDPQ Tahun 2016

 

  1. Diklat Imam & Khotib
  2. Menyediakan Dai/Ustadz/Mubaligh/Kyai untuk Ceramah/Imam & Khotib
  3. Melayani Privat Baca Quran & bimbingan Sholat Khusyu
  4. Menerbitkan Buku
  5. Melayani Konsultasi Manajemen TKA TPA

 

Info hub:
CP WA:

H. Mangun Budiyanto

Tlp. : 08156886278
M Bashori
0882-1639-5730

085743141067

 

 

Oleh: Drs. H Mangun Budiyanto, M.S.I

 I.              Potensi TKQ-TPQ di Tanah Air

Syukur alhamdulillah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, baik yang dikenal dengan nama TKA/TKQ, TPA/TPQ, MDA/MDQ dan bentuk lain yang sejenis, saat ini telah tersebar luas di tanah air Indonesia. Catatan-catatan berikut ini menunjukkan betapa TKQ-TPQ saat ini telah menjadi salah satu aset bangsa yang memiliki potensi sangat besar dan strategis.

  1. 1.      Jumlahnya yang cukup besar

Sejak dirintisnya lembaga ini oleh KH. Dahlan Salim Zarkasi di Semarang (tahun 1986) dan oleh KH. As’ad Humam di Yogyakarta (1988), perkembangannya terus meng-Indonesia bahkan mendunia. Dr. Undang Sumantri, staf ahli di Baca entri selengkapnya »

Oleh: Drs H Mangun Budiyanto, MSI

I.                   DEFINISI AL-QUR’AN

Al-Qur’an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang diturunkan ke hati Nabi Muhammad saw., diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.

Lebih lanjut akan diuraikan maksud dari definisi tersebut di atas.

–          Al-Qur’an adalah kalamullah

Hal ini memberikan pengertian bahwa Al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk yang lain. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Baca entri selengkapnya »

Oleh: Drs. H. Mangun Budiyanto, MSI.

  1. I.              Pendahuluan

Retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara. Kini lebih dikenal dengan nama public speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai permainan kata-kata (words games), juga bermakna propaganda (mempengaruhi atau mengendalikan pemikiran perilaku orang lain.

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu:

  1. Ethos (ethical): yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara ia berkomunikasi
  2. Pathos (emotional): yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan “Psikologi massa”.
  3. Logos (logical) : yaitu pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara Baca entri selengkapnya »

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.

(Faathir:29-30).

 

Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Baca entri selengkapnya »