Muhammad Abdur Rouf tentang: INTERPRETASI ORANG LUAR TENTANG ISLAM

Posted: Juni 20, 2010 in Pemikiran Tokoh

Oleh: Mangun Budiyanto

Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari tulisan Muhammad Abdur Rouf ini:

  1. M. Abdur Rouf mengawali tulisannya dengan mengajukan pertanyaan: “Apakah istilah Studi Islam hanya milik Sarjana Barat? Bagaimana dengan Studi Islam oleh para muslim sendiri? Apa bahaya yang ditimbulkan bila Sarjana Barat melakukan Studi Islam?
  2. Menjawab pertanyaan itu Abdur Rouf mengawali dengan sebuah anekdot adanya kekhawatiran Salah Saljuke, Duta Besar Afghanistan untuk Kairo, melihat modernisasi Al-Azhar. Modernisasi Al-Azhar akan menyebabkan lenyapnya misi utama Al-Azhar sebagai pemelihara Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keagamaan serta tradisi. Sebab dengan upaya modernisasi ini, maka di Al-Azhar akan dibuka fakultas pertanian, kesehatan, bisnis dan teknik.
  3. Abdur Rouf mengajak untuk menelusuri asal-usul dan perkembangan Studi Islam di dunia muslim sendiri. Ternyata, dakwah Nabi adalah untuk menyalakan obor pengetahuan. Sepeninggal Nabi, obor ini terus dinyalakan oleh para generasi sahabat, sehingga akhirnya umat Islam meraih puncak kemajuan. Namun sayang, akibat perpecahan dan kurang perhatiannya terhadap dunia (akibat pesatnya ajaran sufisme) membawa pada kemandegan umat Islam. Umat Islam terjebak pada dikhotomi ilmu dan dikhotomi pendidikan.
  4. Abdur Rouf mengkritik para Sarjana Barat dalam melakukan Studi Islam yang hanya didorong oleh kebutuhan kolonial. Mereka belajar dan memahami masyarakat kolonialnya sekedar untuk melanggengkan kekuasaannya. Sementara itu, pemerintah kolonial membangun sistem pendidikan “sekuler”.
  5. Abdur Rouf juga mengkritik para Sarjana Muslim sendiri yang begitu ketakutan terhadap pengaruh reformasi dan modernisasi. Dia mengingatkan, bahwa dunia saat ini tidak mungkin bisa lepas dari kemajuan iptek dan globalisasi. Sarjana Muslim dituntut untuk beradaptasi terhadap apa yang berharga dan apa yang seharusnya ada dalam dunia modern, seperti Bank Islam, Hukum Islam, Politik Islam dan sebagainya. Maka tantangan yang dihadapi “Studi Islam” di dunia muslim adalah menciptakan dan mempertahankan Sistem Islam yang visioner agar sesuai dengan realitas terkini.
  6. Abdur Rouf menyerukan adanya reformasi dalam dunia pendidikan. Materi-materi umum perlu dimasukkan dalam kurikulum, seperti teknik, kesehatan, pertanian, ekonomi dan bisnis. Hanya saja Abdur Rouf masih mengingatkan agar ilmu-ilmu keagamaan (non sekuler) tidak begitu saja tereliminasi. Caranya adalah perlu dikembangkan cara berfikir merdeka dan nalar kritis tidak hanya sekedar belajar menghafal. Untuk itu harus tersedia perpustakaan yang memadai. Para mahasiswa harus didorong untuk berkenalan dengan keilmuan non-muslim dan diajarkan bagaimana mendekati materi ini secara apresiatif tanpa diskriminasi sehingga horizon dapat diperluas dan stereotif dapat dihilangkan.
  7. Lebih lanjut Abdur Rouf mengkritik studi Islam yang dilakukan Sarjana Barat yang kurang deskriptif dan analitis, tetapi lebih bersifat historis dan terkaan-terkaan saja. Akibatnya bahasannya tidak sampai menyentuh kebenaran Islam yang hakiki. Situasi ini dipersulit oleh warisan ketidaksenangan pengalaman politik masa lalu dan prasangka kultural yang terus hidup. Disinilah, kata Abdur Rouf, para Sarjana Muslim harus mampu menjelaskan kepada mereka sebab ditengah mereka didapati pula kaum orientalis yang jujur dan terbuka.
  8. Abdur Rouf memberikan beberapa contoh kekeliruan kaum orientalis dalam memahami Islam. Misalnya dalam hal poligami yang dilakukan Rosulullah. Bukankah selama dengan Khodijah Rosulullah tidak berpoligami? Setelah kematiannya dan setelah dipandang perlu penataan kembali kehidupan para janda korban perang, barulah Rosulullah melakukan poligami?
  9. Abdur Rouf menutup tulisannya dengan mengatakan bahwa tantangan yang sekarang dihadapi Studi Islam di Barat khususnya di Amerika Serikat adalah upaya untuk menjadi jembatan yang efektif antara dunia Barat dan Muslim. Jembatan itu perlu dibangun dalam rangka mengurangi kesalahfahaman dan ketegangan Barat dengan Dunia Islam. Sekarang adalah saatnya untuk mendekati Islam.
Komentar
  1. Abu Rouf Al Bidari mengatakan:

    Perlu kaji ulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s