PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI UPAYA MENYIAPKAN SDM YANG BERKUALITAS

Posted: Juni 20, 2010 in pendidikan

Oleh : Drs H Mangun Budiyanto, MSI

I.  POTRET BURAM GENERASI KINI

Memotret generasi kekinian, dari berbagai dimensi, nampak kurang menyenangkan. Sejak dinyatakan krisis pada tahun 1995, hingga lebih dari satu dasawarsa berikutnya, nampak sekali bila Indonesia belum bisa lepas dari apa yang disebutnya dengan “krisis multidimensional” ini. Fakta-fakta dibawah ini akan membenarkan masih bergelimangnya Indonesia pada kubangan krisis multidimensional ini.

  1. Kondisi kualitas fisik manusia Indonesia menurut laporan UNDP, semakin memprihatinkan. Indek pembangunan manusia ditilik dari tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonomi rata-rata penduduk, menempatkan Indonesia pada peringkat 111 dari 175 negara. Peringkat ini jauh dibawah negara-negara tetangga; Singapura (25), Brunei Darusalam (31), Malaysia (58), Thailand (76) dan Filiphina (86). Peringkat Indonesia bhkan dibawah negara-negara terbelakang seperti Aljazair (108), Guinea-Katulistiwa (109) dan Kisgistan (110). (Berita Indonesia, Juli 2005)
Negara

Peringkat

Singapura 25
Brunei Darussalam 33
Malaysia 58
Thailand 76
Filiphina 86
Aljazair 108
Guinea-Katulistiwa 109
Kisgistan 110
Indonesia 111
  1. Menurut laporan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), tahun 2000 dalam soal daya saing bangsa, Indonesia menempati urutan 44 dari 45 negara berkembang. Tahun 2001, urutan 46 dari 47 negara berkembang. Dalam hal daya saing SDM, tahun 2000 Indonesia berada pada posisi 43 dari 45 negara. Tahun 2001, pada posisi 45 dari 47 negara. Tahun 2002, pada posisi 48 dari 49 negara. Dalam hal daya saing untuk menarik investor, Indonesia berada pada posisi kedua dari bawah. (Berita Indonesia, Juli 2005)
Tahun Peringkat Jumlah Negara yang Disurvey
2000 44 45
2001 46 47
2002 49 49

Daya Saing SDM Indonesia

Tahun Peringkat Jumlah Negara yang Disurvey
2000 43 45
2001 45 47
2002 48 49
  1. Di seluruh Indonesia sampai 20 Juni 2005, terdapat 25.467 kasus gizi buruk (busung lapar) yang menimpa balita. (Harian Rakyat Merdeka, 21 Juni 2005). Bila diusia balita bergizi buruk, sulit rasanya diusia dewasa akan mampu berprestasi optimal.
  2. Mantan Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas, Sri Mulyani, mengatakan bahwa jumlah keluarga miskin tahun 2005 tercatat 16,5 juta keluarga. Sedang Badan Pusat Statistik (BPS), memaparkan jumlah warga miskin saat ini 52 juta orang. Untuk pengangguran penuh, Ketua Dewan Direktur Center of Information dan Development Studies (CIDES), Umar Juoro, memperkirakan sebanyak 10,3%. Sedangkan pengangguran setengah penuh, sekarang ada 31,2%. Kata Iman Sugema dari INDEF (Institute for Development of Economic and Finance) ini artinya, total pengangguran di Indonesia mencapai 40 juta jiwa dari total penduduk yang sekitar 200 juta jiwa. (Harian Republika, 20 Oktober 2005)
  3. Dalam hal hutang, ternyata jumlanya terus terjadi peningkatan. Tahun 1966, pada akhir masa pemerintahan Soekarno, tercatat 6,3 miliar dolar AS. Tahun 1998 saat kejatuhan Soeharto membengkak menjadi 54 miliar dolar AS. Prestasi besar dicatat oleh pemerintah Habibie sukses menambah hutang 23 milyar dolar AS. Hal yang lebih kurang serupa, walaupun dengan volume yang kecil, terus berlanjut dalam 3 pemerintahan berikutnya. Saat ini, secara keselurhan bangsa Indonesia memiliki hutang luar negeri sebesar 78 miliar dolar AS. Jika ditambah dengan hutang dalam ngeri yang muncul sejak 1998, yakni yang berjumlah sebesar Rp 630 triliun, saat ini memiliki hutang sekitar Rp 1.300 triliun. Artinya jika dibagi dengan jumlah penduduk, setiap manusia Indonesia rata-rata memiliki hutang sebesar Rp 6,5 juta per kepala. (Revisond Baswir, dalam “Republika, 17 April 2006)
  4. Bila beban hutang begitu besar, ternyata angka korupsi di Indonesia juga tidak kalah seramnya. Tahun 2006, Indonesia masih tercatat sebagai negara yang unggul korupsinya. Menurut data Transparency International (TI), Indonesia masih menempati rangking 130 dari 163 negara yang disurvey. (Harian Jawa Post, November 2006). Peringkat I (paling korup) ditempati Haiti. Posisi Indonesia tahun 2006 tak jauh dari rangking 2005 yang masuk 5 besar dari 146 negara. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya lebih sedikit baik dari Myanmar. Dari laporan TI itu, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia hanya 2,7 atau hanya sedikit lebih baik daripada IPK Myanmar 1,9. (Catatan: Skor IPK adalah 10 menunjukkan negara tersebut paling bersih dari korupsi, sedangkan yang mendekati angka 0 berarti yang paling parah).

Negara Paling Korup di Dunia Tahun 2006

No

Negara

CPI Rangking
1. Haiti 1,6 163
2. Myanmar 1,9 160
3. Iraq 1,9 160
4. Bangladesh 2,0 156
5. Kamboja 2,1 151
6. Pakistan 2,2 142
7. Kamerun 2,3 138
8. Papua Nugini 2,4 130
9. Indonesia 2,4 130
10. Timor Leste 2,6 111
  1. Dalam hal moralitas, tidak kalah memprihatinkan, Iip Wijayanto di tahun 2002, melaporkan penelitian di komunitas mahasiswa Yogya. Hasilnya 95% lebih mahasiswi Yogya tidak lagi perawan. Sedang peneliti dokter Muchtadi, M.Sc., Kepala sub Dinas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Jawa Tengah, menyimpulkan bahwa 6% pelajar SLTA di Jawa Tengah pernah melakukan “pergaulan bebas” (Harian Republika, 12 April 1995).
  2. Dalam hal kemampuan membaca Al-Qur’an kitab yang diyakini sebagai pedoman oleh mayoritas bangsa Indonesia, juga sangat memprihatinkan. Yayasan Team Tadarus AMM sebagai Balai Litbang LPTQ Nasional (2003:1) mencatat data telah terjadi peningkatan ketidakmampuan umat Islam Indonesia dalam membaca Al-Qur’an. Bila pada tahun 1950-an, yang tidak mampu membaca Al-Qur’an hanya 17,5%, tahun 1980-an meningkat menjadi 56% dan di tahun 1988 meningkat lagi menjadi 75%. Kemudian pada bulan September 2004, saya diminta untuk melakukan test penjajagan kemampuan membaca Al-Qur’an terhadap 60 orang Guru SD (guru kelas) di Yogyakarta. Diharapkan guru-guru ini bisa membantu guru-guru agama mengajarkan Iqro’ klasikal di sekolahnya masing-masing. Ternyata, dari 60 guru tersebut, 23 orang (38%) belum bisa membaca Al-Qur’an sama sekali, 18 orang (30%) masih terbata-bata, dan hanya 19 orang (32%) yang telah lancar membaca Al-Qur’an.


II.  PEMBARUAN PENDIDIKAN SEBAGAI SOLUSI

Potret buram generasi masa kini, bila terus dibiarkan maka tak mustahil dalam waktu yang tidak terlalu lama bangsa Indonesia akan berantakan. Untuk itu, tugas kita semua untuk seoptimal mungkin memperbaikinya.

Disamping perbaikan untuk generasi sekarang ini, yang tak kalah pentingnya adalah kita siapkan generasi mendatang agar lebih baik dan lebih kuat dari yang sebelumnya. Allah mengingatkan:

Artinya:

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak keturunan yang lemah”. (QS. An-Nisa’:9)

Ada 6 kekuatan yang seharusnya kita miliki dan kita siapkan:

  1. Quwwatul ‘aqidah, yaitu kekuatan keimanan (idiologi power) keyakinan penuh bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang bisa menyelamatkan dan mensejahterakan seluruh dunia. (QS. Al-Ambiya’:107)
  2. Quwwatul Khuluqi, yaitu kekuatan akhlak dan moral. Akhlak perilaku kita senantiasa berpedoman pada akhlakul kharimah yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswah (QS. Al-Ahzab:21)
  3. Quwwatul Ilmi, yaitu kekuatan ilmu dan teknologi. Dengan iptek suatu bangsa akan menjadi disegani oleh bangsa lain dan dapat melintasi penjuru langit dan bumi. (QS. Al-Mujadalah:11 dan QS. Ar-Rahman:33)
  4. Quwwatul Iqtishodi, yaitu kekuatan ekonomi. Harta memang bukan segala-galanya, tetapi tanpa harta pelaksanaan jihad menjadi kurang sempurna dan sulit. (QS. Ash-Shoff:11)
  5. Quwwatul Ijtima’i, yaitu kekuatan organisasi. Kebenaran yang tidak diorganisir dengan baik akan dihancurkan oleh kebathilan yang terorganisir. Termasuk dalam kekuatan ini adalah kekuatan persatuan dan kebersamaan. (QS. Ash-Shodd:4)
  6. Quwwatul jismi, yaitu kekuatan badan atau jasmani. Sebab hanya terletak pada badan yang sehatlah akal seseorang akan terlihat keberadaannya.

Untuk memiliki 6 kekuatan diatas, sarana strategisnya adalah melalui “pendidikan dan pengajaran”. Kita siapkan pendidikan dan pengajaran anak-anak kita dengan sebaik-baiknya agar menjadi generasi bangsa yang tangguh. Disinilah perlunya pembaruan pendidikan ini segera untuk dilakukan. Kita perlu belajar banyak dari negara-negara tetangga, semisal Jepang, Singapura dan Malaysia.

Ketika kota Hirosima dan Nagasaki luluh lantak dibom atom Agustus 1945 lalu, seorang bijak bestari Jepang segera bertanya apakah masih ada guru yang tersisa? Ketika diketahui masih ada beberapa guru yang hidup, orang bijak itu menyatakan optimis bangsa Jepang akan segera bangkit dari keterpurukan fisik dan mental. Sebab hanya gurulah yang akan mampu mendidik generasi baru menjadi lebih baik. Sampai sekarang orang Jepang sangat hormat pada guru. Satu guru, akan mampu menghantar sekian puluh orang lain menjadi pintar.

Perdana Menteri Lee Kwan Yew, pada awal menjabat (50 tahun lalu) menata Singapura dengan lebih mendahulukan sektor pendidikan. Budget tertinggi pada peningkatan kualitas guru. Lee Kwan percaya hanya dengan cara itulah, Singapura akan memiliki generasi muda/baru yang ber-SDM kualitas tinggi. Kini, Lee membuktikan apa yang diprediksikan. Singapura dengan wilayah yang sekecil itu menjadi negara makmur dan sejahtera nomor dua di dunia. Semua berkat ‘anak-anak’ yang 40 tahun lalu, dididik. Apa yang ditanam Lee, benar-benar berbuah lezat.

Langkah Singapura, diikuti Malaysia. Pada pertengahan tahun 1960-an Malaysia mengirim pada guru untuk belajar di seluruh penjuru dunia. Tentu saja termasuk ke Indoneisa. Karena kita ‘telat mikir’ maka menjadi seperti kebakaran jenggot – ketika melihat negara jiran itu kini melesat menjadi negara maju. Sementara kita tetap terpuruk.

Tegasnya, kita mesti dan harus membenahi sektor pendidikan ini degan sebaik-baiknya dan sesegera mungkin. Jadikan sektor pendidikan sebagai pilihan pembangunan yang utama. Tinggalkan kesalahan masa lalu, disaat awal orde baru dulu, yang telah menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai pilihan standar pembangunan. Akibatnya justru kini malah terpuruk dalam krisis multi dimensional yang menyedihkan.

Tengoklah Jerman. Negara yang kini menjadi negara tujuan belajar ilmu teknik nomor satu di dunia, dan tujuan belajar nomor tiga setelah Amerika Serikt dan Inggris itu – sejak zaman dulu, menempatkan fasilitas pendidikan warganya sebagaimana negara itu memberi fasilitas publik. Guru menjadi profesi yang membanggakan dan menjanjikan kehidupan intelek, terhormat dan sejahtera. Kenapa Indonesia tidak?

III. MENYIAPKAN SDM SEJAK USIA DINI

Di atas telah ditegaskan bahwa untuk mengatasi potret buram generasi masa kini, adalah kita siapkan generasi mendatang menjadi generasi yang tangguh, generasi yang memiliki SDM yang berkualitas prima, dengan di tandai oleh dimilikinya 6 kekuatan, yaitu kekuatan (1) aqidah, (2) moral, (3) iptek, (4) ekonomi, (5) persatuan dan kesatuan, serta (6) sehat jasmaninya. Untuk itu, semua usaha pembaruan pendidikan harus difokuskan pada 6 kekuatan ini. Keadaan yang demikian harus berlangsung sejak usia sedini mungkin.

Tegasnya, perlu disiapkan SDM yang berkualitas ini sejak anak-anak usia dini. Mengapa? Ada 2 alasan mendasar dalam hal ini:

  1. Secara kuantitas, potensi anak usia dini di Indonesia sangatlah besar. Jika upaya mendidik anak dimulai sejak 0 tahun sampai 6 tahun, maka jumlanya tidak kurang dari 24 juta anak atau 11,6% dari penduduk Indonesia yang berjumlah 206.264.595 (pada tahun 2000). Perkiraan ini didasarkan pada statistik hasil sensus 2000 yang mencatat jumlah penduduk usia 0-4 tahun sebanyak 20.302.376 (10,09%) dan usia 5-9 tahun sebanyak 20.494.091 (10,18%). Dari jumlah tersebut, diperkirakan baru sekitar 5-10% yang terjangkau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dalam bentuk penitipan anak, kelompok bermain, TK/RA dan TKA (Dr. Anwar, M.Pd., 2004:2-3). Dari data ini, menunjukkan bahwa sebagian besar potensi kuantitas anak usia dini belum tersentuh oleh PAUD, apalagi oleh pendidikan yang berkualitas.
  2. Secara kualitas, anak usia dini merupakan usia yang sangat potensial untuk dididik. Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi bagi dasar kepribadian anak. Bila ia mendapatkan pendidikan bermutu secara cukup dan benar, bisa diharapkan kelak ia akan menjadi generasi yang berkepribadian unggul. Memang, sebagaimana kata Sutari Imam Barnadib (1987:78), bayi yang baru lahir merupakan makhluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali dengan berbagai kemampuan yang bersifat bawaan, antara lain kemampuan untuk bereksplorasi dan beremansipasi. Kedua kemampuan ini, pada anak usia 0-8 th, berkembang dengan sangat luar biasa. Itulah sebabnya, sebagaimana kata Dra. Hibana S Rahman, M.Pd. (2002:5), usia ini disebut sebagai “Golden Age” (usia emas). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ditinjau dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada usia dini menempati posisi yang paling vital, yakni meliputi 80% perkembangan otak. Lebih jelasnya, bayi lahir telah mencapai perkembangan otak 25% orang dewasa. Untuk mencapai kesempurnaan perkembangan otak manusia 50% dicapai hingga usia 4 th, 80% hingga usia 8 tahun dan selebihnya diproses hingga anak usia 18 tahun.

Dengan demikian, bila penyiapan SDM yang berkualitas ini dimulai sejak usia dini, maka tentunya kita tidak akan kehilangan momentum yang sangat tepat dan strategis ini.

  1. IV. Penutup

Begitulah pembaruan pendidikan mesti harus dilakukan, hal ini bila ingin mewujudkan generasi yang memiliki SDM berkualitas. Dan hanya dengan SDM yang unggul inilah maka bangsa Indonesia akan mampu untuk terus eksis di tengah persaingan bangsa-bangsa global sekarang ini.

Namun satu hal yang harus disadari bahwa keberhasilan pembaruan pendidikan itu ditentukan oleh banyak faktor. Faktor guru sebagai agent pembaruan itu sendiri, kurikulum yang ada, metode dan sistem pendidikan yang dianut, dan yang tidak kalah pentingya adalah kemauan semua pihak dari kita bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Dr., M.Pd. – Arsyad Ahmad, Ir. M.Pd.

2004        Pendidikan Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta, CV.

Chairuddin Hadhiri, SP.

1993        Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press.

Departemen Agama

1997        Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: PT. Bumi Restu.

Departemen Pendidikan Nasional

2001        Pedoman Penyelenggaraan TK Alternatif Model TK Al-Qur’an. Jakarta: Proyek Pengendalian Mutu Taman Kanak-Kanak Depdiknas.

Hibana, S. Rahman, M.Pd.

2002        Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTKI/Press.

M. Budiyanto, H. Drs.

2003        Profil Ustadz Ideal. Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional.

Muhammad Ali Ash-Shobuni

2001        Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Amani.

Muhammad Jamal Zeeno

2005        Resep Menjadi Pendidik Sukses (Terjemahan). Bandung: Hikmah.

Muhammad Nur Abdul Hamid

2004        Mendidik Versi Rasulullah SAW (Terjemahan). Yogyakarta: Darussalam.

Sri Harini, S.Ag., M.Si.

2003        Mendidik Anak Sejak Dini. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Sutari Imam Barnadib, Prof. Dr.

1995        Pengantar Ilmu Pendidikan Sistimatis. Yogyakarta: Andi Offset.

Team Tadarus “AMM”

2003        Ringkasan Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan Gerakan M 5A. Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s