PEMIKIRAN AL-GHOZALI TENTANG PENDIDIKAN

Posted: Juni 20, 2010 in pendidikan

oleh : Drs H. Mangun Budiyanto, MSI

I.        Pendahuluan

Imam al-Ghozali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozali. Ia lahir pada tahun 450 H bertepatan dengan 1059 M di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di Tus, wilayah Khurasan, dan wafat di Tabristan wilayah propinsi Tus pada tanggal 4 Jumadil Akhir tahun 505 H bertepatan dengan 1 Desember 1111 M. (Abudin Nata, 1997:159)

Al-Ghozali memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya, Tus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Selanjutnya ia pergi ke Nisyafur dan Khurasan yang pada waktu itu kedua kota tersebut dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan terpenting di dunia Islam. Di kota Nisyafur inilah al-Ghozali berguru kepada Imam al-Haramain Abi al-Ma’ali al-Juwainy, seorang ulama yang bermazhab Syafi’i yang pada saat itu menjadi guru besar di Nisyafur. (Harun Nasution, 1978:41)

Diantara mata pelajaran yang dipelajari al-Ghozali di kota tersebut adalah teologi, hukum Islam, falsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya inilah yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya di kemudian hari. Hal ini antara lain terlihat dari karya tulisnya yang dibuat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam ilmu kalam, al-Ghozali misalnya menulis buku berjudul Ghayah al-Maram fi ilm al-Kalam (Tujuan Mulia dari Ilmu Kalam); dalam bidang tasawuf menulis buku Ihya’ Ulum al-Din (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama); dalam ilmu Hukum Islam ia menulis kitab al-Musytasyfa’ (Yang Menyembuhkan) dan dalam filsafat ia menulis Maqasidal-Falasifah (Tujuan dari Filsafat) dan Tahafut al-Falasifah (Kekacauan dari Filsafat). (Harun Nasution, 1978:43)

Karena begitu banyak keahlian yang dikuasai oleh al-Ghozali, sehingga wajar bila orang-orang sesudahnya memberi berbagai gelar penghormatan kepadanya, antara lain: “Hujjatul Islam” (Pembela Islam); “Zainuddin” (Hiasan Agama); “Bahrun Mughriq” (Samodra yang menenggelamkan); “Syaikhud Shuffiyyin” (Guru Besar Para Suffi); “Imanul Murobbiin” (Pemimpin para Pendidik), dan sebagainya. (Ibn Rusn, 1998:9)

Yang menarik dari sekian banyak karya-karya al-Ghozali, belum ditemukan adanya buku yang secara khusus membahas tentang ilmu pendidikan. Namun ini tidak berarti bahwa al-Ghozali tidak peduli terhadap pendidikan. Karena ternyata dalam buku karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin, al-Ghozali banyak pula bicara mengenai nilai-nilai kependidikan.

Untuk itu, walaupun telah banyak orang yang telah membahas pemikiran-pemikiran al-Ghozali tentang pendidikan, makalah ini dibuat “sekedar” untuk meramaikan pembicaraan hal itu .

II.           Peranan Pendidikan Menurut Al-Ghozali

Sekalipun Ihya Ulumiddin dianggap sebagai kitab intisari pemikiran al-Ghozali yang paling komplit, di sana belum dirumuskan mengenai pengertian pendidikan. Hal ini dapat dipahami karena al-Ghozali belum sampai membahas pendidikan sebagai suatu ilmu. Lagi pula tidak berarti bahwa al-Ghozali menganggap pendidikan itu tidak penting. Bagi al-Ghozali, pendidikan itu sangat penting. Dengan kitab Ihya’ Ulumiddin (Tanpa Tahun, Juz III:62) beliau menegaskan:

Artinya:   “Anak itu amanat (Tuhan) bagi kedua orang tuanya. Hatinya bersih bagaikan mutiara yang indah, bersahaja, bersih dari setiap lukisan dan gambar. Ia menerima bagi setiap yang dilukiskan, cenderung kepada arah apa saja yang diarahkan kepadanya. Jika ia dibiasakan dan diajar yang baik, ia dapat tumbuh menjadi baik, beruntung di dunia dan akherat. Kedua orang tuanya, semua gurunya, pengajarnya serta yang mendidiknya sama-sama dapat menerima pahala. Dan jika ia dibiasakan melakukan keburukan dan dibiarkan sebagaimana membiarkan binatang, ia celaka dan rusak. Adalah dosanya menimpa leher (pundak) pengasuh dan walinya”.

Bila diperhatikan teks di atas, nampaknya al-Ghozali, bila dipandang dari segi filosofis, dalam bidang pendidikan bisa dipandang sebagai penganut faham idealisme yang konsekwen terhadap agama sebagai dasarnya. Dan bila dipandang dari segi paedagogis, al-Ghozali lebih cenderung berpaham empirisme. Hal ini antara lain disebabkan karena sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya seorang anak tergantung kepada orang tua dan anaknya yang mendidiknya. Hati seorang anak itu bersih, murni, laksana permata yang amat berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW yang menegaskan:

Artinya:   Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Muslim)

Sejalan dengan hadits tersebut, al-Ghozali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak itu menjadi baik. Sebaliknya jika anak itu dibiasakan melakukan perbuatan buruk dan dibiasakan kepada hal-hal yang jahat, maka anak itu akan berakhlak jelek.

III.        Tujuan Pendidikan Menurut Al-Ghozali

Menurutnya tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri dan ikhlas kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri pada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan.

Hal ini tercermin dari tulisan al-Ghozali dalam kitab “Fatihatul Ulum” (Fathiyah Hasan, 1964:15) sebagai berikut:

Artinya:   “Semua manusia itu celaka kecuali orang-orang yang berilmu. Semua orang yang berilmu itu celaka kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Dan semua orang yang beramal itu celaka kecuali orang yang ikhlas dalam mengamalkan ilmunya itu.”

Dari teks di atas terlihat jelas betapa tujuan pendidikan dan pembelajaran menurut al-Ghozali adalah agar manusia berilmu. Namun bukan sekedar berilmu, tetapi ilmu yang diamalkan dalam penghidupan sehari-hari. Dan amalnya pun bukanlah untuk mendapatkan pujian, sanjungan, honor atau hal-hal lain yang bersifat duniawi, tetapi amal yang dilandasi ikhlas semata-mata mencari ridlo Allah SWT.

Mengenai pengamalan dari ilmu ini, nampak sekali al-Ghozali betul-betul menekankannya. Dalam kita “Ayyuhal Walad” (t.t., 11-13) beliau memberi nasehat kepada anak didiknya, yang terjemahannya sebagai berikut:

Wahai anakku! Janganlah kamu miskin amal. Yakinlah sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi para pemiliknya. Semisal ada seorang laki-laki yang menggenggam sepuluh bilah pedang India (pedang yang terkenal dengan ketajamannya) dan juga menggenggam senjata yang lain. Ditambah lagi ia juga seorang laki-laki yang gagah berani dan ahli perang. Kemudian ia diserang seekor harimau yang menakutkan dan besar. Apa yang terjadi menurut penilaian kamu? Mungkinkah puluhan senjata tadi bisa mengamankan sang laki-laki tadi dari terkaman harimau, jika ia tidak menggunakan atau tidak mengayunkan senjatanya? Hasilnya dapat diketahui, senjata tersebut tidak akan menghindarkan pemiliknya dari bahaya kecuali ia mengayunkan dan memukulkannya. Demikian juga dengan seorang santri yang membaca seratus ribu persoalan ilmiah tetapi ia tidak mengamalkannya, maka ilmu itu tidak akan pernah bermanfaat kecuali ia mengamalkannya.”

Jadi jelaslah bahwa menurut al-Ghozali, tujuan pendidikan adalah agar manusia bisa beramal yang didasari oleh ilmu. Bukan sekedar amal tanpa ilmu, dan bukan pula ilmu tidak diamalkan. Atau dengan istilah lain, al-Ghozali berharap agar peserta didik memiliki “ilmu yang amaliah, dan amal yang ilmiah”. Yang kesemuanya itu diarahkan untuk pendekatan diri kepada Allah.

Kalau kita perhatikan unsur-unsur dalam rumusan di atas, itulah yang akan membentuk manusia shalih. Yang disebut (orang) shalih ialah “manusia yang mempunyai kemampuan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kewajiban-kewajibannya kepada manusia sebagai hamba-Nya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tujuan pendiidkan menurut al-Ghozali ialah “membentuk manusia shalih”.

IV.        Syarat-syarat Pendidik Menurut Al-Ghazali

Sejalan dengan pentingnya pendidikan mencapai tujuan sebagaimana disebutkan di atas, al-Ghozali juga menjelaskan tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan. Ciri-ciri tersebut adalah: (Abudin Nata, 1997:163-164)

  1. Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri.
  2. Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dari pekerjaannya (mengajar), karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW sedangkan upahnya adalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.
  3. Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
  5. Dihadapan muridnya, guru harus memberikan contoh yang baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji lainnya.
  6. Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
  7. Guru harus mengamalkan yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di mata anak muridnya.
  8. Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak didiknya, sehingga di samping tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
  9. Guru harus dapat menanamkan keimanan kedalam pribadi anak didiknya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.

Jika tipe ideal guru yang dikehendaki al-Ghozali tersebut di atas dilihat dari perspektif guru sebagai profesi nampak diarahkan pada aspek moral dan kepribadian guru, sedangkan aspek keahlian, profesi dan penguasaan terhadap materi yang diajarkan dan metode yang harus dikuasainya nampak kurang diperhatikan. Hal ini dapat dimengerti, karena paradigma (cara pandang) yang digunakan untuk menentukan guru tersebut adalah paradigma tasawuf yang menempatkan guru sebagai figur sentral idola, bahkan mempunyai kekuatan spiritual, dimana sang murid sangat bergantung kepadanya. Dengan posisi seperti ini nampak guru memegang peranan penting dalam pendidikan.

Dalam hal kedudukan dan peran guru ini, al-Ghozali menulis dalam kitab “Ihya Ulumudin” (Juz I, t.t.:52):

Artinya:   “Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, maka dialah yang dinamakan besar dibawah kolong langit ini. Ia adalah ibarat matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai pula dirinya sendiri dan ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiripun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugas ini”.

Dari pernyataan al-Ghozali di atas dapat dipahami bahwa profesi keguruan merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibanding dengan profesi yang lain. Dengan profesinya itu seorang guru menjadi perantara antara manusia dalam hal itu murid dengan penciptanya, Allah SWT. Kalau kita renungkan, tugas guru adalah seperti tugas para utusan Allah.

V.           Syarat-syarat Peserta Didik Menurut Al-Ghozali

Sebagaimana halnya guru, bagi peserta didik pun, untuk mencapai tujuan yang dicanangkan, ada beberapa sifat, tugas, tanggung jawab dan langkah-langkah yang harus dipenuhi dan dilaksanakan. Segala hal yang harus dipenuhi peserta didik dalam proses belajar mengajar tersebut diuraikan al-Ghozali dalam kitabnya “Ayyuhal Walad” yang dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Seorang murid hendaklah menjauhkan diri dari perbuatan keji, munkar dan maksiat. Dengan itu ia akan memperoleh ilmu yang bermanfaat, baik dunia maupun akhirat. Adapun murid yang tidak dapat menghindarkan diri dari perbuatan maksiat, ia paling-paling hanya akan memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia, karena perbuatan maksiat itu merupakan racun ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
  2. Seorang murid atau peserta didik hendaknya senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada allah, dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan mensucikan jiwa serta melaksanakan ibadah kepadanya.
  3. Seorang peserta didik atau murid hendaknya memusatkan perhatiannya atau konsentrasi terhadap ilmu yang sedang dikaji dan dipelajarinya, ia harus mengurangi ketergantungannya kepada masalah keduniaan.
  4. Seorang pelajar atau murid janganlah menyombongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya, sebagaimana seorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli dan berpengalaman. Seharusnyalah seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya, mengharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya.
  5. Hendaklah setiap peserta didik atau murid tidak melibatkan diri dalam perdebatan atau diskusi tentang segala ilmu pengetahuan baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan sebelum terlebih dahulu mengkaji dan memperkokoh pandangan dasar ilmu-ilmu itu.
  6. Hendaknya seorang pelajar atau peserta didik tidak meninggalkan suatu mata pelajaran pun dari ilmu pengetahuan yang terpuji, selain dengan memandang kepada maksud dan tujuan dari masing-masing ilmu itu. Kemudian jika ia berumur panjang, maka dipelajarinya secara mendalam. Kalau tidak, maka diambilnya yang lebih penting serta disempurnakan, dan dikesampingkannya ilmu yang lain.
  7. Seorang pelajar hendaklah tidak memasuki suatu bidang ilmu pengetahuan dengan serentak, tetapi memelihara tertib dan memulainya dari yang lebih penting.

VI.        Kesimpulan

Kalau kita perhatikan, tampak jelas bahwa pandangan-pandangan al-Ghozali yang bercorak religius dan sufistik mewarnai apa yang diuraikan di muka.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghozali ialah, mendekatkan diri kepada Allah. Dengan dilandasi pandangan terhadap manusia bahwa pekerjaannya yang paling mulia ialah mendidik, menjadi guru, al-Ghozali menasihatkan agar murid dalam belajar bertujuan menjadi ilmuwan yang sanggup menyebarluaskan ilmunya demi nilai-nilai kemanusiaan. Semakin lama waktu belajarnya dan semakin bertambah banyak ilmu pengetahuan yang diterima, seorang murid haruslah bertambah dekat kepada allah, semakin tekun beribadah, semakin bertambah motivasinya untuk menyebarluaskan ilmu yang telah dimiliki, dan semakin semangat untuk mengamalkannya. Dengan demikian, seorang murid menurut al-Ghozali haruslah menjadi calon guru, minimal guru bagi dirinya sendiri dan dengan berakhlakul karimah dan keluarganya dengan menjadi uswatun hasanah atau teladan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

– Abidin Ibn Rusn, Drs.

1998        Pemikiran Al-Ghozali tentang Pendidikan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

– Abu Tauhid, Drs. H.

1996        Beberapa Aspek Pendidikan Islam. Fak. Tarbiyah IAIN: Yogyakarta

– Abudin Nata, MA.

1997        Filsafat Pendidikan Islam. Wacana Ilmu: Jakarta.

– Al-Ghozali, Imam

t.t.           Ayyuhal Walad. Majlis Ta’lif Wal Khottot: Bangil Tuban.

– Al-Ghozali, Imam

t.t.           Ihya Ulumuddin. Masyhadul Husaini.

– Fathiyah Hasan Sulaiman

1964        Al-Madzhab At-Tarbiyah Indal Ghozali. Nahdhoh: Kairo Mesir.

– Hamdani Ali, MA.

1986        Filsafat Pendidikan. Kota Kembang: Yogyakarta.

– Harun Nasution, Dr.

1978        Mistikisme dalam Islam. Bulan Bintang: Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s