Menuju Anak Sholeh Dambaan Setiap Mukmin

Posted: Desember 9, 2010 in pendidikan

 

Oleh : Drs. H.M. Budiyanto

 

1.        Setiap mukmin pasti mendambakan untuk memiliki anak sholeh. Betapa tidak! Karena anak sholeh merupakan investasi amal yang pahalanya tiada terputus.

 

a.        Sabda Nabi SAW:

Artinya:

“Apabila anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali dari 3 perkara: (1) sho-daqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak sholeh yang mendoa-kannya”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

b.        Rasulullah SAW juga menerangkan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata : “Ya Allah, apa ini?”. Maka akan dijawab: “Itu (karena) anakmu selalu memintakan ampun untukmu” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

 

2.        Untuk memiliki anak sholeh, Islam mengajar-kan bahwa prosesnya dimulai sejak pemilihan calon pasangan kedua orangtuanya. Untuk itu, dalam memilih jodoh, Islam mengajarkan pilihlah atas dasar agamanya.

 

a.        Nabi SAW bersabda :

Artinya:

“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara:  (1) karena hartanya, (2) karena ketu-runannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena agamanya. Dahulukanlah wa-nita yang memiliki agama, niscaya kamu akan beruntung” (HR. Bukhari – Muslim).

b.        Rasulullah SAW juga bersabda :

Artinya:

“Apabila kamu didatangi seseorang yang kamu menyukai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah ia. Jika kamu tidak melakukannya, maka akan terjadilah fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan” (HR. At-Tirmidzi).

c.         Rasulullah SAW bersabda pula:

 

Artinya:

“Tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang mukmin sesudah taqwa kepada Allah, yang lebih baik daripada istri yang sholehah. Jika suami memerin-tahnya, ia mentaati; jika suami meman-dangnya ia menyenangkan; jika suami memberikan bagiannya, ia menerimanya dengan baik; dan jika suami pergi darinya, ia memelihara diri dan harta suaminya (HR. Ibnu Majah).

d.        Perlu juga diperhatikan bahwa tidak        halal mengawini orang musyrik atau orang kafir, wanita Islam tidak boleh menikah dengan selain laki-laki Islam, dan tidak pantas kawin dengan pezina. Baca QS. Al-Baqoroh: 221, QS An-Nur: 3 dan QS. An-Nur: 26.

Dalam QS. An-Nur: 26 Allah berfirman:

 

Artinya:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perem-puan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin” (QS. An-Nur: 3).

3.        Setelah pemilihan ditetapkan, maka dilaku-kan peminangan. Bila peminangan diterima, berarti telah terjadi pertunangan. Islam menegaskan, pada masa pertunangan ini, hubungan keduanya (calon suami-istri) tetap-lah seperti orang lain. Untuk itu, keduanya haruslah berhati-hati dalam bergaul dan jangan sekali-kali berkholwat (menyendiri berduaan).

 

a.        Rasulullah SAW mengingatkan:

Artinya:

Ingatlah, jangan sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita (lain), dan janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali jika ditemani oleh mahramnya” (HR. Bukhari – Muslim)

 

b.        Siti Aisyah r.a. berkata :

Artinya:

Belum pernah sama sekali, di dalam pembai’atan, tangan Rasulullah SAW menyentuh tangan seorang wanita. Adapun pembaiatan dengan wanita itu hanya dilakukan dengan suatu ucapan saja” (HR. Bukhari)

 

4.        Pada saat akad nikah maupun pesta pernikahan berlangsung, ciptakanlah suasana yang religius.

 

a.        Kedua calon suami istri bersama-sama orang yang hadir di majlis nikah itu, diminta untuk menyegarkan penghayatan keagamaan dengan diawali khutbah nikah, kemudian membaca istighfar, syahadat, sholawat atas nabi dan berdo’a secara khusyu’.

b.        Hindarilah segala yang bisa merubah suasana religius, seperti hal-hal yang berbau syirik (sesaji, dll.) dan yang mungkar (nyanyian dan tarian cabul, minuman keras, membuka aurat, berjudi dan berlebih-lebihan dalam pesta).

 

5.        Bila akad nikah telah berlangsung, maka resmilah keduanya menjadi suami-istri. Islam mengajarkan:

 

a.        Bila hendak “berhubungan” sebagai suami-istri, jangan lupa berdoa:

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :

“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan, “Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkan-lah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”, maka sekiranya Dia mengkaru-niakan seorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahaya-kan oleh setan selama-lamanya”.            (HR. Bukhari – Muslim)

b.        Perbanyaklah do’a untuk mendapatkan keturunan yang sholeh. Salah satunya:

 

 

Artinya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri dan keturunan kami, anak yang menyenangkan hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqon: 74)

c.         Berusahalah untuk terciptanya suasana yang Islami dalam lingkungan rumah tangganya. Banyak melakukan ibadah, baca Al-Qur’an, bersodaqoh, berdo’a dan amalan-amalan baik lainnya. Hindari suasana yang merusak, seperti gambar-gambar porno, nyanyian cabul, perkataan kotor, merokok, dll.

 

6.        Setelah ada tanda-tanda kelahiran anak, segera bersiaplah untuk menyambutnya. Begitu anak lahir, Islam mengajarkan:

 

a.        Ungkapkanlah rasa kegembiraan atas kehadirannya.

Sebagaimana dicontohkan Allah dalam QS. Maryam: 7

Artinya:

Hai Zakariya, sesungguhnya kami mem-beri kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) anak yang namanya Yahya. Yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7)

b.        Kumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kirinya.

Rasulullah SAW bersabda:

 

Artinya:

Barangsiapa diberi anak yang baru lahir, kemudian ia menyuarakan adzan pada telinga kanannya dan iqomat pada telinga kirinya maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya ummush shibyan” (HR. Al-Baihaqi) (catatan: ummush shibyan adalah sejenis jin/setan yang suka mengganggu bayi).

 

c.         Gosok tengorokannya dengan air buah atau madu, beri nama yang baik dan didoakan.

Sahabat Abu Musa r.a. berkata:

 

Artinya:

Aku telah dikaruniai seorang anak. Kemudian aku membawanya kepada Nabi SAW, lalu beliau memberinya nama Ibrohim. Beliau menggosok-gosok teng-gorokannya dengan sebuah kurma dan mendo’akannya dengan beberkahan. Setelah itu beliau menyerahkannya kembali kepadaku” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda:

 

Artinya:

Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kami sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu dan dengan nama bapak-bapak kamu. Maka baguskanlah nama-nama kamu” (HR. Abu Daud).

 

d.        Dicukur rambutnya dan keluarkan sedekah.

Yahya bin Bakir telah meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.:

Artinya:

“Bahwa Rasulullah SAW telah memerin-tahkan untuk mencukur kepala Al-Hasan dan Al-Husain pada hari ketujuh dari kelahirannya. Kemudian mereka dicukur dan beliau menyedekahkan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya”.

e.        Disembelihkan aqiqah

Ashabus Sunan telah meriwayatkan dari Samirah. Ia mengatakan bahwa :

 

Artinya:

Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (binatang aqiqah itu) pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya” (HR. Ashabus Sunan).

f.          Dikhitankan

At-Tirmidzi dan Imam Ahmad meriwa-yatkan dari Abu Ayyub, ia mengatakan bahwa:

 

Artinya:

Rasullah SAW bersabda : “Ada 4 perkara yang termasuk dalam sunah-sunah para rasul yaitu khitan, memakai wangi-wangian, bersiwak dan menikah” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

7.        Perhatikan pendidikannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

a.        Allah berfirman:

 

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” (QS. At-Tahrim: 6)

 

b.        Rasulullah SAW bersabda:

 

Artinya:

Didiklah anak-anakmu dan baguskanlah pendidikan mereka” (HR. Ibnu Majah)

 

8.        Ada 7 aspek pendidikan yang menjadi tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya, yaitu :

a.     Tarbiyatul Imaniyah (pendidikan keimanan)

b.     Tarbiyatul Khuluqiyah (pendidikan moral)

c.      Tarbiyatul Jismiyah (pendidikan jasmani)

d.     Tarbiyatul Aqliyah (pendidikan intelek)

e.     Tarbiyatul Nafsiyah (pendidikan psikis)

f.       Tarbiyatul Ijtimaiyah (pendidikan kemasyarakatan)

g.     Tarbiyatul Jinsiyah (pendidikan seksual)

 

9.        Khusus untuk pendidikan keimanan, Islam mengajarkan:

a.        Sejak usia bayi, bacakan kalimah-kalimah thoyyibah di telinganya.

Rasulullah SAW bersabda:

 

Artinya:

“Bukalah (pendengaran) anak-anakmu dengan ucapan yang pertama kali “La ilaha Illallah” (HR. Al-Hakim)

 

b.        Sejak mulai bisa berfikir, kenalkan dengan hukum halal dan haram

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:

Perintahkanlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan (Allah). Sebab hal itu akan menjaga mereka dari api neraka” (HR. Ibnu Jarir)

 

c.         Selambat-lambatnya usia 7 tahun harus sudah dibiasakan mengerjakan sholat.

Rasulullah SAW bersabda:

 

Artinya:

“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat pada saat usia 7 th. Dan pukullah mereka bila meninggalkan sholat pada saat usia 10 th, serta pisah-pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR. Al-Hakim dan Abu Daud).

d.        Sejak usia dini, tanamkan rasa cinta terhadap Rasulullah, keluarga Rasul (ulama) dan membaca Al-Qur’an.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:

Didiklah anak-anakmu atas 3 perkara: (1) Mencintai Nabimu, (2) mencintai ke-luarga Nabi, dan (3) membaca Al-Qur’an” (HR. At-Thobroni).

e.        Pilihkan sekolah dan lingkungan pergaulan yang menjamin terpeliharanya keimanan

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:

“Setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitroh (beragama). Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nashrani ataupun Majusi.” (HR. Bukhari)

 

10.   Perlu disadari, bahwa metode pendidikan yang paling efektif adalah metode keteladanan dan pembiasaan. Untuk itu, orangtua perlu menjadikan dirinya sebagai figur teladan buat anak-anaknya.

 

11.   Sebagai penutup mari kita bertekad untuk memberikan yang terbaik buat anak-anak generasi penerus ini.

Allah berfirman:

 

Artinya:

“Dan katakanlah, bekerjalah niscaya Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu”.

Semoga Berhasil !!

 

Yogyakarta, 20 Mei 2007

Penulis

 

Drs. HM. Budiyanto

Telp. (0274) 374502

(0274) 7813480

08156886278

 

 

MENUJU ANAK SHOLEH
DAMBAAN
SETIAP MUKMIN

 

 

oleh:

Drs. HM. Budiyanto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diterbitkan oleh

Balitbang LPTQ Nasional

Yayasan Team Tadarus “AMM” Yogyakarta

2007

“Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan. Niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan keburukan serta diterlantarkan, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan merugi”.

(Imam Ghozali)

“Termasuk hak anak yang menjadi kewajiban orangtua, adalah mengajarnya menulis, memanah, dan tidak memberinya rezki kecuali yang halal lagi baik”.

(Umar bin Khottob)

“Anak itu lebih banyak mengambil pelajaran melalui ikut-ikutan dan meniru perbuatan orang lain dibandingkan melalui nasehat dan petunjuk”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s