RETORIKA DAKWAH DAN APLIKASINYA DALAM GERAKAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN

Posted: Oktober 15, 2011 in Taman Pendidikan Al-Qor'an

Oleh: Drs. H. Mangun Budiyanto, MSI.

  1. I.              Pendahuluan

Retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara. Kini lebih dikenal dengan nama public speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai permainan kata-kata (words games), juga bermakna propaganda (mempengaruhi atau mengendalikan pemikiran perilaku orang lain.

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu:

  1. Ethos (ethical): yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara ia berkomunikasi
  2. Pathos (emotional): yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan “Psikologi massa”.
  3. Logos (logical) : yaitu pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.

Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat jama’ah merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika kita mampu bercerita sesungguhnya kita punya potensi untuk berceramah dan untuk menjadi muballigh.

Adapun dakwah berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘mengajak’ atau ‘menyeru’. Banyak sekali pengertian dakwah yang dikemukakan oleh para ahli dakwah, tapi pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah aktivitas mengubah situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan Islam menjadi situasi dan kondisi yang sesuai dengan kehidupan Islam. Dengan demikian yang diinginkan oleh dakwah adalah terjadinya perubahan ke arah kehidupan yang lebih Islami.

Dari definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa retorika dakwah adalah ketrampilan menyampaikan ajaran Islam secara lisan guna memberikan pemahaman yang benar kepada kaum muslimin agar mereka dapat dengan mudah menerima seruan dakwah Islam yang karenanya pemahaman dan prilakunya dapat berubah menjadi lebih Islami.

 

 

 

Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

Artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 25)

 

Dan di ayat yang lain Allah berfirman:

 

 

 

 

Artinya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

 

  1. II.           Tanggungjawab dan Kewajiban Dakwah

Dalam kehidupan masyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, dakwah memilik kedudukan yang sangat penting. Dengan dakwah, bisa disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu mana yang haq dan mana yang batil itu, tapi juga memiliki keberpihakan kepada segala sesuatu bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang batil sehinga selalu berusaha menghancurkan kebatilan. Manakala hal ini sudah terwujud, maka kehidupan yang baik (hasanah) di dunia dan akhirat akan dapat dicapai.

Karena dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting, maka secara hukum dakwah menjadi kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim. Ada banyak dalil yang bisa kita jadikan rujukan untuk mendukung pernyataan wajibnya melaksanakan tugas dakwah, baik dari Al-Qur’an maupun hadist Nabi. Di antaranya adalah dalil berikut ini.

Allah berfirman:

Artinya:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran :104)

 

 

Di ayat yang lain Allah berfirman:

Artinya:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah…” (Ali Imran: 110)

 

Nabi bersabda:

Artinya:

Sampaikanlah (apa yang) datang dariku, walaupun hanya satu ayat. (HR. Bukhari)

 

  1. III.        Keutamaan Dakwah

Tugas sebagai da’i atau muballigh itu sungguh sangat berat, namun banyak kemuliaan yang akan diperoleh, antara lain:

  1. Dia akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah dengan dikelompokkan ke dalam kelompok umat yang terbaik (khairu ummah) sebagaimana yang disebutkan pada surah Ali Imran: 110 di atas.
  2. Memperoleh pahala yang amat besar dan terus menerus mengalir. Hal ini karena dalam satu hadist Rasulullah saw disebutkan:

Artinya:

“Barang siapa yang mengajak kepada jalan kebajikan, maka baginya mendapatkan bagian pahala seperti pahala yang (diberikan Allah) kepada orang yang mengikutinya, tanpa berkurang sedikitpun.” (HR. Muslim)

 

  1. Dia memperoleh keberuntungan, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat sebagaimana sudah disebutkan dalam surat Ali Imran:104 di atas.
  2. Terhindar dari laknat Allah. Tidak sebagaimana Bani Israil yang telah dilaknat Allah karena mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Baca QS. Al-Ma’idah: 78-79.
  3. Dia akan tergolong orang yang “al-hayah fil maut”. Sebagaimana diketahui bahwa ada 3 macam manusia, yaitu ada yang “al hayah fil maut” (hidup terus walaupun sudah mati), ada yang “al hayah fil hayah” (hanya hidup sewaktu masih hidup), dan ada yang “al maut fil hayah” (sudah mati walaupun masih hidup). Yang paling beruntung adalah golongan yang pertama, yaitu orang yang mempunyai shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan kepada orang tuanya. Siapa yang bekerja di lapangan dakwah, baik sebagai muballigh maupun sebagai guru, berarti ia telah bekerja menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Dan iapun akan tergolong orang yang “al hayah fil maut”.

 

  1. IV.        Pentingnya Retorika dalam Dakwah

Ceramah, pidato, atau khutbah merapakan salah satu bentuk kegiatan dakwah yang sangat sering dilakukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan khutbah pada hari Jumat adalah merupakan kegiatan wajib yang harus dijalankan saat melaksanakan sholat Jum’at. Agar ceramah atau khutbah dapat berlangsung dengan baik, memikat dan menyentuh akal dan hati para jamaah, maka pemahaman tentang retorika menjadi perkara yang penting. Dengan demikian, disamping penguasaan konsepsi Islam dan pengamalannya, keberhasilan dakwah juga sangat ditentukan oleh kemampuan komunikasi antara sang muballigh atau khatib dengan jama’ah yang menjadi obyek dakwah.

Menurut Syeh Muhammad Abduh, umat yang dihadapi seorang muballigh dapat dibagi atas 3 golongan, yang masing-masing harus dihadapi dengan cara yang berbeda-beda.

  1. Ada golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran, berpikir kritis, dan cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal mereka.
  2. Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzatul hasanah, dengan ajaran dan didikan yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.
  3. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan tersebut. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat.

Tegasnya, ikuti sabda Nabi saw:

Artinya:

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar (takaran kemampuan) akal mereka.” (HR. Muslim)

 

Dan juga sabda Nabi Saw:

Artinya:

“Tempatkanlah manusia sesuai dengan tempat/kedudukan mereka masing-masing.” (HR. Abu Dawud).

 

Berikut ini ada beberapa kiat agar ceramah dakwah berhasil:

  1. Pahami dan kuasai pembahasan secara baik. Perlu setiap da’i menyiapkan kisi materi pembicaraan dan rujukan yang diperlukan agar ketika berbicara tidak kehilangan kontrol.
  2. Amalkan ilmu yang disampaikan dan diajarkan. Beri contoh dari diri sendiri tentang apa yang hendak disampaikan, hal ini untuk menutup dzan (prasangka) orang lain bahwa kita “omong kosong”.
  3. Pilih pembicaraan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan, pandai melihat fenomena yang berkembang di tengah hadirin, juga latar belakang social cultural meraka. Hal ini agar lebih mendekati kebutuhan audiens dan membangkitkan spirit keagamaan mereka.

 

  1. Sampaikan informasi segar sesuai dengan perkembangan yang berlangsung. Fenomena kekinian yang terjadi bisa menjadi informasi menarik bagi hadirin. karenanya perlu disampaikan sesuai kebutuhan dan bisa menjadi penambah materi yang disampaikan.
  2. Gaya atau cara penyampaiannya hendaknya yang variatif, tekanan suara, turun naik nada, penggalan kalimat, hingga bunyi suara ( tenor, bariton, dsb), merupakan bagian dari retorika vang amat penting.
  3. Diantara bagian-bagian retorika itu, sekali-kali perlu diselipkan humor untuk  lebih menekankan minat dan perhatian pendengar. Namun demikian, hindari jenis humor yang justru bertentangan dengan esensi dakwah. Janganlah humor yang “esek-esek”, walaupun memang humor jenis demikian sangat digemari orang banyak.
  4. Dalam ceramah seringkali ada kalimat-kalimat yang amat penting untuk dipertegas kepada pendengar. Kalimat itu harus diberi penekanan dengan cara mengulang-ulang, karena dengan begitu jama’ah mendapat kejelasan yang memadai. Bahkan hal ini bisa dibantu dengan menggunakan gerakan tangan seperti menunjukkan atau memperlihatkan jumlah jari sebagai isyarat dari jumlah masalah yang menjadi pembahasan. Ini berarti diperlukan penggunaan bahasa badan untuk memperjelas, memudahkan pemahaman dan meningkatkan daya tarik ceramah agar lebih komunikatif.
  5. Sertakan dalil dan argument yang kuat. Stateman atau pernyatan da’i, walaupun sudah menjadi hal umum yang dibenarkan agama, alangkah baiknya jika diberi penguat berupa dalil atau nash yang mendukung pernyataan itu. Argument juga penting untuk menekankan pernyataan sehingga audiens mencatatnya dalam hati dan benak mereka bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya.
  6. Disiplin dengan waktu yang telah disepakati. Sebaik-baik pembicaraan adalah yang pendek namun efektif, sedang seburuk-buruk pembicaraan adalah yang panjang bertele-tele tapi menyesatkan. Karena itu alangkah bijaknya da’i menepati waktu yang telah ditetapkan untuk berceramah baginya.
  7. Dan yang tidak kalah pentingnya dari semua kiat di atas, adalah landasi dakwah kita ini semata-mata untuk mencari ridlo Allah SWT. Bukan karena mencari ketenaran, dipuji orang, atau hal-hal yang bersifat duniawi, namun semata-mata demi meninggikan kalimah Allah.

 

 

  1. V.           Gerakan Pendidikan Al-Qur’an sebagai Aplikasi Dakwah

Dari sekian banyak persoalan bangsa Indonesia, menurut saya, persoalan pendidikan Al-Qur’an menempati urutan pertama. Mayoritas bangsa Indonesia, walaupun telah mengimani kebenaran Al-Qur’an, namun dalam hal kemampuan membaca Al-Qur’an, apalagi sampai mengerti isi kandungannya, masih sangat memprihatinkan. Untuk itu salah satu materi dakwah yang harus mendapat prioritas adalah masalah pendidikan Al-Qur’an. Mari kita jadikan pendidikan Al-Qur’an ini menjadi gerakan naisonal para da’i se-Indonesia.

Gerakan pendidikan Al-Qur’an ini bisa melalui apa yang sudah dirintis oleh para aktivis di Yogyakarta beberapa tahun terakhir ini, antara lain berupa:

  1. Gerakan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA/TKQ) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) yang dengan metode “Iqro’” atau yang lainnya berusaha mengantarkan anak-anak sejak usia dini memiliki kemampuan dan gemar membaca Al-Qur’an. Pada tahun 2007, Departemen Agama RI mencatat ada 127.441 unit TKQ/TPQ di seluruh Indonesia, dengan jumlah ustadz 544.411 orang dan jumlah santri 7.726.284 anak.
  2. Gerakan TKAL-TPAL/TKQL-TPQL (TKA/TKQ Lanjutan dan TPA/TPQ Lanjutan) yang berusaha mengantarkan anak-anak bisa menulis dan mengkhatamkan tadarus Al-Qur’an.
  3. TQA (Ta’limul Qur’an Lil Aulad) yang merupakan lembaga pendidikan untuk anak-anak yang telah lancar menulis dan membaca Al-Qur’an agar mereka memiliki kemampuan memahami makna isi kandungan Al-Qur’an dan menerapkannva dalam kehidupan sehari-hari
  4. Majelis Ta’lim dan Tadarus Al-Qur’an yang merupakan gerakan tadarus untuk remaja, muda-mudi, bapak muda dan ibu muda agar mereka memiliki ghiroh (semangat) juang yang tinggi serta menciptakan nuansa Qur’ani terhadap lmgkungan tempat tinggal mereka.
  5. MPA/MPQ & Bl (Majelis Pembelajaran Al-Qur’an dan Bimbmgan Ibadah) yang merupakan gerakan pembelajaran Al-Qur’an dan bimbingan ibadah untuk orangtua yang belum lancar membaca Al-Qur’an (orang awam).
  6. Kursus Tartilil Qur’an yang merupakan lembaga pengajaran untuk menfasihkan bacaan para imam, khatib, guru agama dan ustadz Al-Qur’an.
  7. Kursus Seni Baca Al-Qur’an yang merupakan lembaga pendidikan untuk menanamkan rasa keindahan dalam membaca Al-Qur’an.
  8. BKB (Bina Keluarga Balita) lqro’ yang merupakan gerakan pembelajaran lqro’ di kalangan Ibu-ibu muda. Dengan demikian nantinya para ibu ini bisa mengajar Al-Qur’an kepada anak-anaknya sejak usia sedini mungkin
  9. Diklat ustadz yang merupakan kegiatan untuk menyiapkan para ustadz agar mampu mengelola TKA-TPA/TKQ-TPQ serta mengajarkan Iqro’ secara tepat.
  10. TKA/TKQ Plus yang merupakan bentuk formal dari TKA/TKQ. Melalui TKA/TKQ Plus seorang anak usia 4-6 tahun diarahkan agar mampu membaca Al-Qur’an sekaligus siap mengikuti pendidikan dasar(SD).
  11. Iqro’ klassikal di sekolah formal yang merupakan pembelajaran Iqro’ secara klassikal dan dilaksanakan sebagai bagian integral dari pendidikan agama Islam dalam kunkulum di SD/M1, SMP/MTs dan SMU/SMK/Aliyah
  12. Privat keluarga, yang merupakan gerakan pembelajaran Iqro’/Al-Qur’an secara privat dengan menghadirkan ustadz di rumah-rumah yang memerlukan.

Dan tentunya kita   masih   perlu   mencari bentuk-bentuk lain dari yang sudah dikembangkan oleh para aktivits di Yogyakarta. Misalnya pendidikan Al-Qur’an untuk anak usia pra TK (0-4 th) atau bahkan sewaktu anak masih dalam kandungan.  Ini  semua adalah merupakan proyek besar dan proyek bersama. Allah menjanjikan pahala besar bagi setiap muslim yang mengambil peran dalam proyek ini.

Rosulullah saw bersabda:

Artinya:

“Didiklah anak-anak dengan tiga hal: mencintai nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Al-Our’an. Karena sesungguhnya orang-orang yang mengemban (dijiwai) Al-Our’an, kelak akan berada dalam naungan ‘Arsy-nya Allah pada huri yang tidak ada naungan selain naungan-Nya bersama para nabi-nabi-Nya dan orang-orang suci lainnya”. (HR. At-Thobroni).

 

 

 

Untuk itu, mari kita segera mengambil peran di dalam gerakan pendidikan Al-Qur’an ini, antara lain:

  1. Berperan jadi penyelenggara, pemikir  dan penggerak aktif.
  2. Berperan jadi ustadz, pembina dan pengasuh aktif.
  3. Berperan sebagai penyandang dana, donatur dan sponsor.
  4. Berperan sebagai pendorong agar anak-anaknya, cucu-cucunya, anak-anak tetangga, dan semuanya untuk aktif di pendidikan Al-Qur’an
  5. Aktif    menghilangkan    segala    hambatan, gangguan   dan   segala   hal   yang   akan menggagalkan Gerakan Pendidikan Al-Qur’an.
  6. Menjadi teladan anak-anaknya, cucu-cucunya dan lingkungannya.

 

Untuk itu, marilah kita berikrar:

  • Kalau di sana ada 1000 ustadz Al-Qur’an, sayalah yang keseribu.
  • Kalau di sana ada 100 ustadz Al-Qur’an, sayalah yang keseratus.
  • Kalau di sana ada 10 ustadz Al-Qur’an, sayalah orang yang kesepuluh.
  • Dan kalau di sana hanya ada 1 ustadz Al-Qur’an, itulah saya.

 

      Yogyakarta, 15 Oktober 2011

     Penulis,

Drs. H. Magun Budiyanto, MSI.

Tim Nasional Peningkatan Mutu

Taman Pendidikan Al-Qur’an Indonesia.

Telp. 08156886278

(0274) 7813480

(0274)  415969

Komentar
  1. tpasarabila mengatakan:

    uraian yang sangat bermanfaat. mohon diizinkan untuk copas. jazakumullah.

  2. surya mengatakan:

    bagus tawwa. ZHOREB (ZHOlidartas REmaja Bugis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s