MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM AS

Posted: September 10, 2016 in Uncategorized

MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM A.S

Oleh: Drs. HM. Budiyanto, M.S.I.

 

  1. Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menghitung, tapi mensyukurinya. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT. Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

 

  1. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi firman Allah SWT dalam Surat As-Shaffat: 100-102, tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Allah SWT berfirman :

 

 

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 100-102)

 

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:

  • Pelajaran pertama

Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus, berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.

Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.

 

Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi, merupakan salah satu dari 3 hal yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala buat dia akan terus mengalir. Rasulullah SAW bersabda:

Apabila manusia telah meninggal dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR. Bukhori-Muslim)

Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang memiliki anak-anak yang shaleh ini.

Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu? Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui ciri-ciri anak shaleh ini.

 

  • Pelajaran kedua:

Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati demi kepentingan agama Allah.

Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih oleh ayahnya:

 

 

Artinya: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga pendidikan, yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke sekolah atau lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau mendangkalkan aqidah keislamannya.

 

  • Pelajaran ketiga:

Ibrahim bersama istrinya, Siti Hajar, telah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.

  1. Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.

 

Artinya: “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya. Dia lebih mengedepan-kan pemberian contoh dan keteladanan, daripada mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting. Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak berhenti-hentinya merokok?

  1. Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak shaleh. Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”. Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka.

 

  • Pelajaran keempat:

Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.

Pengorbanan tersebut, sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:

 

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)

 

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan. Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslimin ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah: 24, yang artinya :

Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

(QS. At-Taubah [9] : 24)

 

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya.

 

  1. Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru, generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak! Walaupun Indonesia sudah merdeka selama 71 tahun, dan kemajuan sudah bisa kita saksikan, namun dibandingkan dengan kemajuan Negara jiran kita di ASEAN saja, Indonesia masih tertinggal jauh. Mari kita simak fakta-fakta berikut :
  2. Pendapatan perkapita Indonesia masih rendah, yaitu hanya US 4.700/tahun. Sementara Thailand US 10.000,-; Malaysia US 15.000,- dan Singapura US 50.000,-. (finance.detik.com., dikutip 20 Sept 2015)
  3. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2015 penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (berpenghasilan dibawah Rp. 344.800 perkapita perbulan) tercatat 28,51 juta jiwa (11,18%). (suara.com, dikutip 20 Agustus 2016).
  4. Sementara itu, angka korupsi masih Bila Negara yang terbersih dari korupsi diberi angka 1 (satu), ternyata, pada akhir tahun 2015 Indonesia menempati peringkat 88 dari 168 negara yang disurvey. Angka ini kalah jauh dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. (htt.ps://tempo.co., dikutip tgl 20 Agustus 2016)
  5. Sedangkan utang Indonesia kepada luar negeri ternyata telah membengkak. Keadaan per Januari 2016 ada sebesar 4.034 trilyun, atau kalau dibagi semua penduduk yang kini mencapai 258 juta jiwa, berarti per-jiwa telah punya utang lebih dari Rp. 15 juta. Padahal RAPBN yang diajukan Pemerintah untuk tahun 2017, hanya Rp. 2.070,5 trilyun (KR, 18 Agustus 2016). Ini berarti, utang Indonesia sudah 2 kali lipat dari penghasilannya.
  6. Tindakan aborsi secara illegal atau bukan dasar alasan medis, rata-rata pertahun 2,6 juta. Sebanyak 30 % pelaku aborsi dari kaum hawa usia kurang dari 20 tahun. Suatu angka yang mencerminkan betapa dekadensi moral semakin memprihatinkan!

(www.pikiran-rakyat.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. BNN (Badan Narkotika Nasional) menyatakan bahwa transaksi narkoba di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di ASEAN. Sebesar Rp. 48 trilyun per-tahun untuk narkoba. Jumlah pecandunya mencapai 4 juta jiwa.

(www.antaranews.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia memang unggul. Namun dari sisi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), masih kalah dengan Negara Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Sedang dari 61 negara yang disurvey pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke 41. (kemenkeu.go.id, dikutip 20 Agustus 2016)

 

  1. Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat fakta-fakta bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang, generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang kokoh (quwwatul aqidah), moral yang handal (quwwatul khuluqi), ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i) dan badan yang sehat (quwwatul jismi). Itu semua, kunci utamanya ada pada pendidikan dan pengajaran! Allah SWT telah mengingatkan dalam QS An-Nisa’: 9

 

“Hendaklah orang-orang harus khawatir kalau sepeninggalnya nanti meninggalkan generasi penerus yang lemah”.

 

  1. Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa ini. Ada seorang bijak berkata:
  • Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
  • Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri tempat aku berpijak.
  • Sewaktu aku usia pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
  • Sewaktu aku usia dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki keluargaku.
  • Sewaktu aku usia menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki diriku sendiri.
  • Dengan memperbaiki diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
  • Dengan memperbaiki keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
  • Dengan memperbaiki kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
  • Dengan memperbaiki negeri, aku berharap bisa memperbaiki dunia.

Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik. Janganlah berkata: “Apa yang telah diberikan Negara kepadaku”’ tetapi berkatalah: “Apa yang telah aku berikan untuk negaraku”

 

  1. Akhirnya, kita berharap semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.

Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka. Amin, amin, ya, mujibas sa’ilin.

 

Yogyakarta, 12 September 2016

Drs. HM. Budiyanto, MSI

– Telp. (0274) 415969

– 08156886278

 

 

5 Program Utama LDPQ

 

  1. Membina dan Mengembangkan SDM
  2. Mengembangkan Kurikulum TKA TPA
  3. Mengembangkan Ekonomi dan Kesejahteraan Aktivis
  4. Membina dan Mengembangkan Kelembagaan
  5. Membina dan Mengembangkan Jaringan

 

 

 

Kegiatan LDPQ Tahun 2016

 

  1. Diklat Imam & Khotib
  2. Menyediakan Dai/Ustadz/Mubaligh/Kyai untuk Ceramah/Imam & Khotib
  3. Melayani Privat Baca Quran & bimbingan Sholat Khusyu
  4. Menerbitkan Buku
  5. Melayani Konsultasi Manajemen TKA TPA

 

Info hub:
CP WA: 085743141067
M Bashori
0882-1639-5730

 

MENELADANI KELUARGA NABI IBRAHIM A.S

Oleh: Drs. HM. Budiyanto, M.S.I.

 

  1. Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menghitung, tapi mensyukurinya. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT. Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

 

  1. Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi firman Allah SWT dalam Surat As-Shaffat: 100-102, tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Allah SWT berfirman :

 

 

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 100-102)

 

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:

  • Pelajaran pertama

Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus, berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.

Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.

 

Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi, merupakan salah satu dari 3 hal yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala buat dia akan terus mengalir. Rasulullah SAW bersabda:

Apabila manusia telah meninggal dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR. Bukhori-Muslim)

Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang memiliki anak-anak yang shaleh ini.

Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu? Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui ciri-ciri anak shaleh ini.

 

  • Pelajaran kedua:

Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati demi kepentingan agama Allah.

Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih oleh ayahnya:

 

 

Artinya: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga pendidikan, yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke sekolah atau lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau mendangkalkan aqidah keislamannya.

 

  • Pelajaran ketiga:

Ibrahim bersama istrinya, Siti Hajar, telah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.

  1. Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.

 

Artinya: “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

(QS. As-Shaffat: 102)

 

Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya. Dia lebih mengedepan-kan pemberian contoh dan keteladanan, daripada mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting. Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak berhenti-hentinya merokok?

  1. Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak shaleh. Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”. Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka.

 

  • Pelajaran keempat:

Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan. Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.

Pengorbanan tersebut, sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:

 

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)

 

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan. Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslimin ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah: 24, yang artinya :

Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

(QS. At-Taubah [9] : 24)

 

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya.

 

  1. Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru, generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak! Walaupun Indonesia sudah merdeka selama 71 tahun, dan kemajuan sudah bisa kita saksikan, namun dibandingkan dengan kemajuan Negara jiran kita di ASEAN saja, Indonesia masih tertinggal jauh. Mari kita simak fakta-fakta berikut :
  2. Pendapatan perkapita Indonesia masih rendah, yaitu hanya US 4.700/tahun. Sementara Thailand US 10.000,-; Malaysia US 15.000,- dan Singapura US 50.000,-. (finance.detik.com., dikutip 20 Sept 2015)
  3. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada September 2015 penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan (berpenghasilan dibawah Rp. 344.800 perkapita perbulan) tercatat 28,51 juta jiwa (11,18%). (suara.com, dikutip 20 Agustus 2016).
  4. Sementara itu, angka korupsi masih Bila Negara yang terbersih dari korupsi diberi angka 1 (satu), ternyata, pada akhir tahun 2015 Indonesia menempati peringkat 88 dari 168 negara yang disurvey. Angka ini kalah jauh dengan Singapura, Malaysia dan Thailand. (htt.ps://tempo.co., dikutip tgl 20 Agustus 2016)
  5. Sedangkan utang Indonesia kepada luar negeri ternyata telah membengkak. Keadaan per Januari 2016 ada sebesar 4.034 trilyun, atau kalau dibagi semua penduduk yang kini mencapai 258 juta jiwa, berarti per-jiwa telah punya utang lebih dari Rp. 15 juta. Padahal RAPBN yang diajukan Pemerintah untuk tahun 2017, hanya Rp. 2.070,5 trilyun (KR, 18 Agustus 2016). Ini berarti, utang Indonesia sudah 2 kali lipat dari penghasilannya.
  6. Tindakan aborsi secara illegal atau bukan dasar alasan medis, rata-rata pertahun 2,6 juta. Sebanyak 30 % pelaku aborsi dari kaum hawa usia kurang dari 20 tahun. Suatu angka yang mencerminkan betapa dekadensi moral semakin memprihatinkan!

(www.pikiran-rakyat.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. BNN (Badan Narkotika Nasional) menyatakan bahwa transaksi narkoba di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di ASEAN. Sebesar Rp. 48 trilyun per-tahun untuk narkoba. Jumlah pecandunya mencapai 4 juta jiwa.

(www.antaranews.com., dikutip 20 Agustus 2016).

  1. Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia memang unggul. Namun dari sisi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), masih kalah dengan Negara Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Sedang dari 61 negara yang disurvey pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke 41. (kemenkeu.go.id, dikutip 20 Agustus 2016)

 

  1. Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat fakta-fakta bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang, generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang kokoh (quwwatul aqidah), moral yang handal (quwwatul khuluqi), ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i) dan badan yang sehat (quwwatul jismi). Itu semua, kunci utamanya ada pada pendidikan dan pengajaran! Allah SWT telah mengingatkan dalam QS An-Nisa’: 9

 

“Hendaklah orang-orang harus khawatir kalau sepeninggalnya nanti meninggalkan generasi penerus yang lemah”.

 

  1. Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa ini. Ada seorang bijak berkata:
  • Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
  • Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri tempat aku berpijak.
  • Sewaktu aku usia pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
  • Sewaktu aku usia dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki keluargaku.
  • Sewaktu aku usia menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki diriku sendiri.
  • Dengan memperbaiki diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
  • Dengan memperbaiki keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
  • Dengan memperbaiki kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
  • Dengan memperbaiki negeri, aku berharap bisa memperbaiki dunia.

Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik. Janganlah berkata: “Apa yang telah diberikan Negara kepadaku”’ tetapi berkatalah: “Apa yang telah aku berikan untuk negaraku”

 

  1. Akhirnya, kita berharap semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.

Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka. Amin, amin, ya, mujibas sa’ilin.

 

Yogyakarta, 12 September 2016

Drs. HM. Budiyanto, MSI

– Telp. (0274) 415969

– 08156886278

 

 

5 Program Utama LDPQ

 

  1. Membina dan Mengembangkan SDM
  2. Mengembangkan Kurikulum TKA TPA
  3. Mengembangkan Ekonomi dan Kesejahteraan Aktivis
  4. Membina dan Mengembangkan Kelembagaan
  5. Membina dan Mengembangkan Jaringan

 

 

 

Kegiatan LDPQ Tahun 2016

 

  1. Diklat Imam & Khotib
  2. Menyediakan Dai/Ustadz/Mubaligh/Kyai untuk Ceramah/Imam & Khotib
  3. Melayani Privat Baca Quran & bimbingan Sholat Khusyu
  4. Menerbitkan Buku
  5. Melayani Konsultasi Manajemen TKA TPA

 

Info hub:
CP WA:

H. Mangun Budiyanto

Tlp. : 08156886278
M Bashori
0882-1639-5730

085743141067

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s