PEDOMAN MEMILIH PEMIMPIN DALAM ISLAM

Posted: September 10, 2016 in Politik

 

PEDOMAN MEMILIH PEMIMPIN

DALAM ISLAM

Oleh : Mangun Budiyanto

 

  1. Pendahuluan
  2. Dalam Surat Al-Hujurat: 13 Allah SWT telah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan sehinggga membentuk suku, bangsa dan masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat ini manusia tidak mungkin melepaskan diri dari masalah kekuasaan dan kepemimpinan, baik tingkat yang paling rendah seperti kepala rumah tangga, menengah seperti kepala wilayah maupun tinggi seperti kepala negara.
  3. Pada prinsipnya menurut Islam, setiap manusia adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peranannya di muka bumi sebagai khalifatullah (QS. Al-Baqarah: 30) yang   bertugas   untuk  memakmurkan

bumi (QS. Hud: 61) dan tidak berbuat kerusakan (QS. Al-Qashah: 77). Dalam           HR. Bukhari-Muslim diterangkan:

Artinya:

“Dari Ibnu Umar r.a. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah, semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari-Muslim)

 

  1. Di dalam Al-Qur’an banyak diketemukan istilah yang bermakna kepemimpinan ini, antara lain kata imam (QS. Al-Baqarah: 124), khalifah (QS. Al-Baqarah: 30), malik (QS. Al-A’raf: 3), amir atau ulil amri (QS. An-Nisa: 59) dan sultan (QS. An-Nisa: 144). Ini menunjukkan bahwa masalah kepemim-pinan dalam Islam tidak boleh dianggap sepele. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah:

 

Agama Islam tidak akan bisa tegak dan abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama”.

 

  1. Rasulullah SAW menyuruh mengangkat pemimpin dari salah satu dari 3 orang yang melakukan safar (perjalanan).

Dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “apabila ada 3 orang keluar dalam suatu safar (perjalanan) maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin”. (HR. Abu Daud)

 

  1. Tegasnya umat Islam harus memperhatikan masalah kepemimpinan ini dan tidak boleh bersikap acuh tak acuh. Baik itu kepe-mimpinan sebagai Ketua RT, Kepala Dukuh, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden ataupun jabatan-jabatan yang lainnya.

 

  1. Kedudukan Pemimpin Yang Adil
  2. Memberi banyak manfaat bagi umat

Tidak hanya menurut pandangan masyarakat, menurut pandangan Islam pun menjadi pemimpin itu memiliki kedudukan yang terhormat. Hal ini karena:

  1. Menjadi pemimpin akan memiliki peluang untuk lebih bermanfaat hidupnya bagi orang banyak. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”. (HR. Al-Qudho’i dari Jabir, dalam Jami’us Shoghir). Semakin tinggi jabatan seorang pemimpin, maka akan semakin besar pula peluang kemanfaatan dirinya bagi orang banyak.
  2. Pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil, bisa lebih utama daripada ibadahnya orang lain yang dilakukan berpuluh-puluh tahun. Karena dalam satu hari, seorang pemimpin bisa mengeluarkan keputusan yang dapat menyelamatkan beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta orang yang teraniaya, mengembalikan hak kepada pemiliknya dan memotong jalan orang-orang yang berbuat kejahatan.
  3. Pemikiran seorang pemimpin yang cerdas bisa lebih utama daripada sedekahnya beribu-ribu dermawan. Karena pemimpin berpeluang untuk mendirikan proyek-proyek yang bisa mendatangkan ribuan lapangan kerja bagi para pengangguran, roti bagi orang lapar, obat bagi yang sakit, rumah bagi yang gelandangan dan pertolongan bagi orang yang membutuhkan.

 

  1. Mulia di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW dalam banyak haditsnya telah menginformasikan betapa terhor-matnya kedudukan seorang pemimpin yang adil, antara lain:

  1. “Satu hari dari imam yang adil adalah lebih utama daripada ibadah 60 tahun”. (HR. At-Thabrani dari Ibnu Abbas).
  2. “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil.” (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id)
  3. Ada 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan Allah, salah satunya adalah peimpin yang adil”. (HR. Bukhari-Muslim)
  4. “Kelompok yang doa mereka tidak ditolak ialah (1) orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, (2) pemimpin yang adil dan (3) orang yang teraniaya”. (HR. Ahmad dan Abu Hurairah).

 

  1. Menjadi Cita-cita bagi orang yang beriman

Begitu tingginya kedudukan seorang pemimpin, maka Allah SWT mengajarkan agar umat Islam tiada henti-hentinya untuk berdo’a untuk menjadi pemimpin:

Artinya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 74)

 

  • Pedoman dalam Memilih Pemimpin
  1. Prinsip-prinsip dasar dalam memilih pemimpin.

Walaupun dalam Islam tidak dijelaskan bagaimana sistem atau tata cara memilih pemimpin, apakah model demokrasi melalui pemilu seperti di Indonesia atau yang lainnya, namun prinsip-prinsip dasar siapa yang boleh diangkat atau dipilih sebagai pemimpin banyak ditemui dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi, antara lain:

  1. Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim karena bagaimanapun akan mempengaruhi kualitas keberagamaan rakyat yang dipimpinya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Surat An-Nisaa: 144 :

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? (QS. An-Nisa: 144).

 

  1. Tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 57 :

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jangan-lah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah: 57).

 

  1. Jangan memilih pemimpin berdasarkan kekerabatan ataupun pertemanan dengan mengorbankan faktor agama dan keimanan. Allah berfirman:

Artinya:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. At-Taubah: 33)

 

Dalam hal ini Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin”. (HR. Al Hakim)

 

Umar bin Khatab berkata:

”Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertim-bangan itu, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin”.

 

  1. Pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya. Pemberian tugas atau wewenang kepada yang tidak berkompeten akan mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan juga perhatikan hadits di bawah ini:

 

 

Artinya:

“Dari Abu Dzar dia berkata, saya bertanya (kepada Rasulullah SAW): Wahai Rasulullah kenapa engkau tidak memberikan suatu jabatan? Rasulullah menjawab sambil memukulkan tangan-nya di pahaku: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Sesungguhnya jabatan itu amanat. Di hari kiamat jabatan itu bisa mendatangkan kesedihan dan penye-salan, kecuali bagi orang yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya”. (HR. Bukhari).

 

  1. Pemimpin harus bisa diterima (accep-table), mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan dan didoakan oleh umatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW.

“Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR. Muslim)

 

  1. Pemimpin harus mengutamakan, mem-bela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksa-nakan syari’at, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Surat An-Nisa’: 58 :

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di-antara manusia supaya kamu menetap-kan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)

 

Dan juga Allah berfirman dalam Surat An-Nahl: 90:

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl: 90)

 

  1. Pilih pemimpin yang aspiratif, mau memperhatikan keluhan masyarakat, bersikap lemah lembut dan gemar bermusyawarah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 159 :

Artinya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka men-jauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah am-pun bagi mereka, dan bermusyawarah-lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membu-latkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawak-kal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

 

  1. Pemimpin harus memiliki bayangan sifat-sifat Allah SWT yang terkumpul dalam Asmaul Husna dan sifat-sifat wajib Rasul yang 4 yaitu sidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), fathanah (cerdas) dan tabligh (bisa menyam-paikan gagasan dan mampu membawa umatnya ke arah perbaikan dan kemajuan).
  2. Mampu menjadi teladan untuk umat, sebagaimana Rasulullah yang menjadi figur teladan bagi umatnya juga. Allah SWT berfirman:

Artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) pada Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

 

  1. Pemimpin berat resikonya

Menjadi pemimpin, walaupun memiliki kedudukan yang mulia, namun berat resikonya. Maka janganlah meminta jabatan, tetapi kalau dipilih terimalah. Perhatikan hadits berikut ini:

 

Artinya:

Dari Abdurahman bin Samrah, dia berkata: Nabi SAW bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah kamu minta jabatan, sesung-guhnya jika kamu dapat jabatan karena minta, maka akan menanggung banyak beban, tetapi kalau kamu mendapat ja-batan tanpa minta-minta maka kamu akan memperoleh pertolongan. (HR. Bukhari)

 

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam suatu hadits:

Artinya:

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Sungguh kamu sekalian sangat berhasrat menjadi pejabat, padahal itu akan menjadi penyesalan di hari qiyamat”.

(HR. Bukhari)

 

  1. Jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar

Bagaimana jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar yang sudah ditetapkan? Atau bahkan bagaimana bila ada kekhawatiran tugas jabatan itu akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa madlorot bagi umat Islam? Dalam kasus seperti ini, tentu tidak ada salahnya bila yang memiliki keahlian berusaha untuk meraihnya. Dengan catatan: (1) harus niat ikhlas semata-mata mencari ridlo Allah SWT,           (2) amanah dan akan tetap istiqomah,           (3) memiliki keunggulan dari pada kom-petitor lainnya dan (4) ada kekhawatiran terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain. Simak kisah Nabi Yusuf yang meminta untuk diangkat sebagai bendahara negeri Mesir.

Allah berfirman: “(Yusuf berkata): Jadikan-lah aku bendahara negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanat) dan berpenge-tahuan”. (QS. Yusuf: 55)

 

  1. Penutup

Sebagai penutup makalah ini, di bawah ini ada beberapa hadits Nabi untuk dijadikan renungan bersama.

 

Artinya:

“Dari Mu’qil bin Yasar berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Tidak ada hamba yang Allah berikan jabatan kepadanya, kemudian dia tidak melaksanakan dengan benar, maka dia tidak akan mendapat bau surga. Dalam lafadz yang lain Rasul bersabda: Tidak ada pejabat yang memimpin kemudian dia menipu umatnya, sampai dia mati, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Artinya:

“Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Laknat Allah atas orang yang memberi suap (riswah) dan orang yang disuap.” (HR. Khamsah)

 

‘Aisyah r.a berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda di rumahku ini:

Artinya:

“Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.” (HR. Muslim)

 

Semoga makalah ini bisa mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin Islam yang berkualitas. Amin.

 

Yogyakarta, 10 Okt. 2015

 

Daftar Pustaka

 

  • Agus Supatera, Petunjuk Al-Qur’an dalam Memilih Pemimpin, riau-kemenag.go.id, diunduh tanggal 10 Oktober 2015
  • Al-awardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, Hukum-Hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syare’at Islam, Farid Bahri. Bekasi : Darul Falah, 2012.
  • Fakih, Aunur Rohim, dkk, Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : UII Press, 2005
  • Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1993.
  • Mahadi Zaenudin, Abd Mustakim, Studi Kepemimpinan Islam. Yogyakarta : Al-Muhsin Press, 2002.
  • Syihab, M Quraish, Membumikan Al-Qur’an. Bandung : Mizan, 2001.
  • _______, Tafsir Al-Misbah. Jakarta : Lentera Hati, 2009.
  • Tim Dep. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta : Dep. Agama RI, 1998.
  • ______, Al-Qur’an dan Tafsirnya. Yogyakarta : UII Press, 2004.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s