TOLOK UKUR KEBERHASILAN RAMADLAN

Posted: September 10, 2016 in ke-masjid-an, Teks Khutbah, Uncategorized

TOLOK UKUR

KEBERHASILAN RAMADLAN

Oleh : Drs Mangun Budiyanto, MSI

 

  1. Syukur alhamdulillah kita telah menyelesaikan ibadah puasa di tahun ini. Kita berharap Allah SWT. berkenan menerima amal ibadah kita, baik puasa, shalat, zakat, shodaqah, serta semua amal kita yang lain. Dan yang tidak kalah pentingnya semoga kita termasuk orang yang kembali kepada fitrah, kembali kepada asal kejadian seperti sewaktu baru dilahirkan, bersih tanpa setitik dosa sedikitpun.

 

Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:

Barang siapa berpuasa Ramadlan karena iman dan penuh harap kepada Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhori-Muslim)

 

  1. Sesuai bulan Ramadlan, otomatis kita masuk bulan Syawal. Istilah Syawal, dalam bahasa Arab diambil dari akar kata “Syaala-yasyuulu-syaulan”, yang punya arti “naik menjadi tinggi, atau peningkatan”. Jadi bisa diartikan bulan Syawal itu sebagai bulan peningkatan. Ini tepat sekali karena sebelumnya kita berada dalam “Ramadlan”. Istilah Ramadlan ini diambil dari akar kata “Ramidla-Yarmadlu-Ramadlan” yang berarti terik, sangat panas. Jadi bulan Ramadlan bisa dikatakan merupakan bulan penempaan dan penggemblengan. Ibarat besi akan dapat dibentuk menjadi apa saja setelah dipanasi dengan suhu yang amat tinggi, baru kemudian bisa ditempa dan digembleng. Jadi seseorang baru boleh dikatakan berhasil puasa Ramadlannya kalau memasuki bulan Syawal ada tanda-tanda peningkatan dalam dirinya.

 

  1. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang bisa kita jadikan sebagai tolok ukur masing-masing diri kita, sehingga dengan mudah kita tahu adanya peningkatan kearah yang lebih baik antara sebelum dan sesudah Ramadlan tahun ini?

Dalam hal ini, marilah kita perhatikan sabda Nabi Saw:

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, dialah orang yang rugi. Dan barang siapa yang hari ini justru lebih buruk dari hari kemarin, maka dia ungguh orang yang celaka.” (HR. Al-Hakim)

 

  1. Menurut saya, sekurang-kurangnya ada 6 indikator yang bisa dijadikan tolok ukur:
  2. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan
  3. Semangat shalat berjama’ah
  4. Menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain
  5. Semangat menuntut ilmu
  6. Berkobarnya semangat juang
  7. Semakin kokohnya persatuan dan kesatuan

 

  1. Indikator yang pertama adalah adanya peningkatan keimanan dan ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah:183

 

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu menjadi taqwa.”

 

Peningkatan iman dan taqwa ini antara lain terasa pada semakin tertanamnya mahabbatullah (kecintaan kepada Allah), muraqabatullah (merasa senantiasa diawasi oleh Allah), muqarabatullah (merasa lebih dekat kepada Allah), dan ma’rifatullah (mampu merasakan kehadiran Allah di dalam dirinya).

 

  1. Sebagai ujud konkrit meningkatnya iman dan taqwa pada diri kita, maka akan muncul indikator yang kedua, yaitu meningkatnya semangat shalat berjamaah di masjid/ mushalla/langgar/surau. Shalat berjama’ah kita di masjid haruslah lebih rajin dibanding sebelumnya. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda:
    1. Shalat berjama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian, dengan 27 derajat” (HR. Bukhari-Muslim)
    2. Barang siapa yang shalat Isya’ berjama’ah seolah-olah ia mengerjakan shalat separo malam. Dan barang siapa yang shalat Subuh dengan berjama’ah seolah-olah mengerjakan shalat semalam suntuk” (HR. Muslim)
    3. Seandainya manusia tahu keutamaan shalat Isya’ dan Subuh tentu mereka mendatangi keduanya (untuk berjama’ah) walaupun dengan merangkak” (HR. Bukhari-Muslim)
    4. Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala mendatangi adzan dan shof yang pertama, kemudian untuk mendapatkannya harus diundi (karena berebut) niscaya mereka mau mengadakan” (HR. Bukhari-Muslim)
    5. Sungguh orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh perjalanannya menuju tempat shalat (masjid)” (HR. Bukhari-Muslim)
    6. Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh” (HR. Bukhari-Muslim)
    7. Demi Dzat yang menguasaiku. Sungguh aku benar-benar bermaksud menyuruh mengumpulkan kayu bakar. Kemudian aku memerintahkan shalat dengan mengumandangkan adzan lebih dahulu. Lalu aku menyuruh seseorang mengimami orang banyak, lalu aku pergi ke rumah-rumah orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka” (HR. Bukhari-Muslim)
    8. Jika istri kamu minta izin untuk (berjama’ah shalat) di masjid, maka jangan dicegah” (HR. Bukhari)
    9. Janganlah kamu halangi wanita-wanita hamba Allah memasuki masjid-masjid Allah, akan tetapi hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai harum-haruman” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Indikator yang ketiga adalah dibuktikan semakin bermanfaat diri kita untuk orang lain (nafi’un li ghairihi).

Bukankah Rasulullah Saw bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, Thabrani dan Daruqutni)

Seorang muslim, setelah membingkai hidupnya dengan misi ibadah kepada Allah semata (QS. Adz-Dzariyat: 56) maka orientasi hidupnya adalah memberikan sebanyak-banyak manfaat bagi sesama. Ia senantiasa terpanggil untuk menjadi pribadi yang “nafi’un li ghairihi” (bermanfaat untuk orang lain), terjauh dari sifat egois dan mementingkan diri sendiri saja.

  1. Seorang muslim yang menjadi pedagang, orientasinya bukanlah sekedar meraup untung sebanyak-banyaknya, tetapi membantu yang dibutuhkan, tanpa ada unsur kecurangan dan penipuan.
  2. Seorang muslim yang menjadi guru, orientasinya bukanlah sekedar mengajar lalu setiap bulan mendapatkan gaji, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat terbaik kepada peserta didiknya. Ia selalu mencari cara agar peserta didik menjadi generasi-generasi penerus yang lebih kuat dan lebih unggul.
  3. Seorang muslim yang menjadi dokter, orientasinya adalah bagaimana ia memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya, ia sangat berharap bisa melakukan yang terbaik bagi kesehatan dan kesembuhan pasien-pasiennya.

 

Demikianlah, masing-masing kita, apapun profesinya, akan mampu memberikan yang terbaik bagi kemanfaatan sebanyak-banyak orang dan sebanyak-banyak manfaat.

 

  1. Indikator yang keempat adalah tumbuhnya semangat menuntut ilmu, baik ilmu yang fardlu ‘ain maupun ilmu yang fardlu kifayah.

 

Bukankah Allah Swt telah menegaskan:

Artinya:

“….Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang diberi ilmu dengan beberapa derajat….” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Jiwa semangat menuntut ilmu ini, untuk bangsa Indonesia saat ini, begitu terasa sangat penting. Bukankah saat ini kita masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain dibidang iptek? SDA (Sumber Daya Alam) kita memang unggul, namun karena SDM (Sumber Daya Manusia) rendah, maka SDA yang ada justru dieksploitasi oleh bangsa lain. Data tahun 2014 menunjukkan, bahwa kualitas SDM Indonesia bila dilihat dari Indek Pembangunan manusia di dunia ini, hanya menempati urutan ke 124 dari 182 negara. Ini berarti kita harus bekerja keras!!

  1. Indikator yang kelima adalah berkobarnya semangat juang di masing-masing dada kita. Semangat juang ini, yang oleh bahasa agama biasa dikenal dengan istilah “jihad”, adalah merupakan “ruh” (nyawa) bagi kehidupan manusia. Hidup tanpa jihad bagaikan mayat berjalan.

Jihad yang dimaksud di sini bukanlah jihad dalam pengertiannya yang sempit, yakni “berperang dengan senjata”, akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu “mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan pahala dan ridla Allah Swt semata serta terhindar dari siksa-Nya”.

Dalam kontek masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad  mengangkat senjata, akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah serta nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa.

Sungguh bila kita tilik kondisi riil yang ada, bangsa Indonesia saat ini masih membutuhkan barisan mujahid-mujahid yang memiliki semangat juang tinggi. Mari kita perhatikan:

  1. Indonesia adalah negara yang dikenal subur makmur loh jinawi. Tetapi kenapa untuk beras saja masih impor? Kedelai, terigu, buah-buahan dan berbagai hasil pertanian lainnya masih juga harus mendatangkan dari luar negeri?
  2. Indonesia adalah negara yang dikenal kaya dengan sumber barang tambang, baik itu minyak, gas, emas, biji besi, timah, batu bara dan lain-lain. Namun ternyata, untuk mengeksploitasinya, masih bergantung dengan modal dan tenaga asing!
  3. Indonesia dalah negara dengan lautannya yang sangat-sangat luas. Namun ternyata untuk kebutuhan garam saja masih mendatangkan dari luar negeri! Ini semua pertanda bahwa SDM kita masih sangat rendah. Sementara yang menonjol dari ekspor kita adalah dalam hal PRT (Pembantu Rumah Tangga). Sungguh memprihatinkan!
  4. Sementara itu, hutang luar negeri kita masih sangat tinggi. Sedangkan angka korupsinya juga menempati rangking pertama. Disusul semakin memprihatinkannya dekadensi moral di kalangan para remaja. Sungguh ini semua membuat suramnya masa depan bangsa Indonesia.

Problema bangsa Indonesia seperti ini, bila terus dibiarkan, maka tidak mustahil dalam waktu yang tidak terlalu lama bangsa Indonesia akan selesai riwayatnya. Untuk ini, tugas kita semua untuk seoptimal mungkin memperbaikinya. Disamping perbaikan untuk generasi sekarang ini, yang tidak kalah pentingnya adalah perbaikan untuk generasi mendatang.

 

Allah berfirman:

Artinya:

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak keturunan yang lemah….” (QS. An-Nisa’:9)

 

Untuk itu kita siapkan anak-anak kita, agar memiliki 6 kekuatan: (1) quwatul aqidah (keimanan), (2) quwatul ilmi (ilmu pengetahuan dan teknologi), (3) quwatul iqtishodi (ekonomi), (4) quwatul ijtima’ (persatuan dan kesatuan), (5) quwatul khuluqi (kekuatan moral), dan (6) quwatul jismi (kekuatan/kesehatan jasmani).

 

 

  1. Indikator yang terakhir, namun tidak kalah pentingnya, adalah semakin kokohnya persatuan dan kesatuan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bukankah dalam Islam ada dikenal 3 konsep ukhuwah:
  2. Ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan sesama umat Islam.
  3. Ukhuwah wathaniyah, yakni persaudaraan dengan sesama warga negara.
  4. Ukhuwah insaniyah, yakni persaudaraan sesama umat manusia.

 

Untuk di Indonesia, sejak dulu telah berkembang tradisi “syawalan” seusai puasa Ramadlan. Dalam tradisi syawalan ini, kita saling berkumpul untuk bersilaturahmi, saling melepas rindu dan saling maaf memaafkan. Ini semua tentu bisa menambah semakin kokohnya ukhuwah diantara kita.

Ayat Al-Qur’an yang biasa dibaca dalam acara syawalan ini adalah QS. Ali-Imran: 133-135.

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah:

  1. Gemar berinfak di jalan Allah, baik di waktu lapang maupun sempit
  2. Mampu manahan marah
  3. Ringan memaafkan kesalahan orang lain
  4. Bersegera ingat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya, bila terjerumus ke dalam perbuatan keji dan dzalim.

 

  1. Akhirnya, saya sekeluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, Taqobalallohu minna wa minkum. Minal ‘aidin wal faizin. Amin.

 

Yogyakarta,   Syawal 1436 H

Penulis

 

 

Drs. H. Mangun Budiyanto, MSI.

Telp. (0274) 415969

Hp:  08156886278

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s