Menuju Gerakan Shalat Berjama’ah

Posted: Oktober 2, 2016 in ke-masjid-an
  1. Pengertian Shalat Berjama’ah

Yang dimaksud shalat berjama’ah adalah shalat yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih dengan salah seorang menjadi imam (ikutan) sedangkan yang lain mengikutinya atau menjadi makmumnya (Depag, 1983:170).

 

  1. Hukum Shalat Berjama’ah

Bagi laki-laki yang tiada udzur, dalam shalat Jum’at hukumnya fardlu ‘ain. Sedangkan dalam shalat fardlu lima waktu, para ulama berbeda pendapat. Dalam hal ini, ada 4 pendapat:

 

  1. Hukumnya Sunnah Muakkad

Yang berpendapat demikian antara lain mazhab Hanafiyah dan Malikiyah (As-Sadlan, 1414 H:57). Sunnah muakkad artinya suatu perbuatan yang sangat dianjurkan karena Rasulullah saw senantiasa melakukannya.

Bila kita ikuti pendapat ini maka berjama’ah di setiap shalat fardlu lima waktu itu sepadan dengan shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang hukumnya juga sunnah muakkad.

 

  1. Hukumnya Fardlu Kifayah

Yang berpendapat demikian antara lain ulama Syafiiyah (Asymuni Abdurahman, 2003: 4), Abu Hanifah dan Jumhur Mutaqaddimin               (As-Sadlan, 1414 H:55).

Bila kita ikuti pendapat ini maka berjama’ah di setiap shalat fardlu lima waktu itu sepadan dengan shalat jenazah. Artinya wajib bagi setiap masjid ditegakkan shalat berjama’ah di masing-masing lima waktu. Bila tidak, maka seluruh warga jama’ah masjid yang bersang-kutan berdosa.

 

  1. Hukumnya Fardlu ‘Ain, tetapi tidak menjadi syarat sahnya shalat.

Yang berpendapat demikian antara lain mazhab Hanabilah, Atho’ bin Abi Rubah,          al-Auzai dan Abu Tsaur (As-Sadlan, 1414 H:60). Artinya, setiap laki-laki muslim yang men-dengar panggilan adzan sebagai tanda ditegak-kan shalat berjama’ah di suatu masjid/ mushalla maka ia wajib memenuhinya. Bila tidak, maka ia berdosa walaupun shalat sendirian yang ia lakukan tetap sah.

 

  1. Hukumnya Fardlu ‘Ain dan menjadi syarat sahnya shalat.

Yang berpendapat demikian antara lain Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Aqil, Ibnu Abi Musa dan mazhab Dzahiriyyah (As-Sadlan, 1414 H:58).

Bila kita ikuti pendapat ini maka berjama’ah di shalat lima waktu itu menjadi syarat sahnya shalat, sepadan dengan suci dari hadats, menutup aurat dan suci dari najis.

Demikianlah ada 4 pendapat sebagaimana tersebut diatas. Masing-masing pendapat disertai dengan dalil Al-Qur’an dan atau Hadits Rasul serta pendapat para ulama mujtahid. (Lebih lanjut baca As-Sadlan. 1414H: 55-65)

 

III.  Dalil Disyare’atkannya Shalat Berjama’ah

Lepas dari adanya 4 pendapat sebagaimana tersebut di atas, yang jelas para ulama sepakat bahwa shalat berjama’ah itu disyareatkan oleh agama. Hal ini didasarkan Al-Qur’an, Hadits-hadits Nabi, maupun pernyataan para shahabat Rasul.

 

  1. Dasar Al-Qur’an
  2. Dalam QS. Al-Baqarah:43 Allah memerin-tahkan:

 

Artinya:

Dan tegakkanlah shalat dan tunaikan zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’“.

 

Kata-kata “ruku’lah bersama orang-orang yang ruku“’ dapat difahami agar orang itu melakukan shalat berjama’ah. (Asmuni Abdurohman, 2003:1).

 

  1. Dalam QS. An-Nisa’:102 Allah memerintah-kan Rasulullah agar tetap menegakkan shalat berjama’ah walaupun dalam situasi pepe-rangan.

 

Artinya:

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersama kamu …

(QS. An-Nisa’: 102).

Dalam situasi peperangan yang genting sekalipun, shalat berjama’ah hendaknya tetap ditegakkan, apalagi bila dalam keadaan aman. (Wahbah Az-Zuhayly, 1989).

 

  1. Dasar Al-Hadits
  2. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa telah datang kepada Rasulullah saw. seorang tuna netra dan ia berkata “Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun yang menuntun saya untuk datang ke masjid”; kemudian ia minta keringanan kepada beliau agar diperkenan-kan shalat di rumahnya. Maka beliaupun mengizinkannya, tetapi ketika ia bangkit hendak pulang, beliau bertanya kepadanya: (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999:154).

 

Artinya:

Apakah kamu mendengar adzan? Ia menjawab: “Ya”. Beliau bersabda: “Kamu harus datang ke masjid‘ (HR. Muslim).

 

Hadits ini menunjukkan akan pentingnya shalat berjama’ah bagi orang yang men-dengar adzan sampai orang tuna netra sekalipun tidak diberi keringanan oleh Rasul untuk tidak berjama’ah.

 

  1. Rasulullah saw, berniat untuk membakar rumah orang-orang yang tidak mau shalat berjama’ah. (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999: 155).

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasaiku. Sungguh aku benar-benar bermaksud menyuruh mengumpul-kan kayu bakar. Kemudian aku memerin-tahkan shalat dengan mengumandang-kan adzan lebih dulu. Lalu aku menyuruh seseorang mengimami orang banyak. Kemudian aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka (HR. Bukhari Muslim)

 

  1. Dasar Pernyataan Shahabat Rasul

Salah seorang shahabat Rasulullah, Ibnu Mas’ud r.a. berkata (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999:156): “Barangsiapa senang apabila berte-mu Allah besok (pada hari kiamat) dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia meme-lihara shalat pada waktunya, ketika mendengar suara adzan. Sesungguhnya Allah telah mensyareatkan kepada Nabi Muhammad saw. jalan-jalan petunjuk, sedangkan shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk. Seandainya kalian melakukan shalat itu di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi. Pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat diantara kita tidak ada meninggalkan shalat jama’ah, kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik. Sungguh pernah terjadi seorang lelaki diantar ke masjid, ia terhuyung-huyung diantara dua orang, sampai ia didirikan dalam shaf” (Riwayat Muslim).

 

Pernyataan Ibnu Mas’ud ini menjadi bukti bahwa para shahabat Rasul sangat memper-hatikan shalat berjama’ah. Hanya orang-orang munafik yang telah nyata-nyata akan kemunafikannya saja yang enggan shalat berjama’ah.

 

  1. KEUTAMAAN SHALAT BERJAMA’AH

Banyak hadits-hadits Rasulullah saw yang menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah dibandingkan shalat sendirian, antara lain:

  1. Shalat berjama’ah jauh lebih utama
  2. Rasulullah saw bersabda (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999:153):

Artinya:

Shalat berjama’ah itu lebih utama dari-pada shalat sendirian, dengan 27 derajat” (HR. Bukhari Muslim)

 

  1. Khusus untuk jama’ah Isya’ dan Subuh, Rasulullah saw bersabda (Imam Nawawi, Jilid 2 :157):

 

Artinya:

Barangsiapa yang shalat Isya’ dengan berjama’ah, seolah-olah ia mengerjakan shalat setengah malam. Dan barangsiapa yang shalat Subuh dengan berjama’ah seolah-olah ia mengerjakan shalat sema-lam suntuk” (HR. Muslim).

 

Dan juga Rasulullah bersabda (Imam Nawawi, Jilid 2,1999:158):

Artinya :

Seandainya manusia tahu keutamaan shalat Isya’ dan Subuh tentu mereka mendatangi keduanya (berjama’ah) wa-laupun dengan merangkak” (HR. Bukhari-Muslim)

  1. Khusus untuk barisan shaf yang pertama, Rasulullah saw bersabda (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999:164):

 

Artinya:

Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala mendatangi adzan dan shaf pertama, kemudian untuk mendapat- kannya harus diundi, niscaya mereka mau mengadakan undian

(HR. Bukhari-Muslim)

 

  1. Semakin jauh dari masjid, semakin banyak pahala

 

  1. Rasulullah saw bersabda (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999:150):

 

 

Artinya :

Sungguh, orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalanannya menuju tempat shalat” (HR. Bukhari Muslim)

 

  1. Rasulullah saw juga bersabda (Imam Nawawi, Jilid 2,1999:151)

 

Artinya:

Apabila kalian melihat seseorang yang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman

(HR. At-Turmudzi).

  1. Semakin banyak peserta jama’ahnya, semakin baik dan lebih disukai Allah.

 

Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda (Asymuni Abdurohman, 2003:12):

 

 

 

 

 

 

Artinya:

Shalatnya seseorang berjama’ah dengan satu orang yang lain, lebih baik daripada shalat sendirian. Dan shalatnya dia berja-ma’ah dengan 2 orang yang lain lebih baik dibandingkan berjama’ah dengan satu orang. Dan semakin banyak jama’ahnya, itulah yang lebih disukai oleh Allah

(HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i)

 

  1. Ancaman Bagi Orang Yang Meninggal-kan Shalat Berjama’ah

 

Disamping banyak hadits Rasulullah saw yang mendorong umatnya agar mengerjakan shalat berjama’ah, ternyata banyak pula didapat hadits- hadits yang mengingatkan adanya bahaya bagi orang-orang yang meninggalkan shalat berja-ma’ah ini. Antara Iain (As-Sadlan, 1414 H:28)

 

  1. Enggan berjama’ah sebagai tanda-tanda kemunafikan. Rasulullah saw bersabda:

 

 

Artinya :

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka tahu besarnya pahala pada keduanya niscaya mereka mendatanginya walaupun sambil merangkak” (HR. Bukhari Muslim).

 

  1. Rasulullah saw pernah mengancam akan membakar rumah orang-orang yang enggan mendatangi panggilan shalat berjama’ah (HR. Bukhari-Muslim), sebagai mana tercantum pada halaman 6.

 

  1. Rasulullah saw mengingatkan adanya bahaya terkaman syetan bagi orang yang enggan shalat berjama’ah (Imam Nawawi, Jilid 2, 1999:157). Rasulullah bersabda:

Artinya:

Apabila di suatu desa atau kampung ter-dapat tiga orang, dan disitu tidak diadakan shalat berjama’ah niscaya mereka telah dijajah oleh syaitan. Oleh karena itu hendak-lah kamu sekalian selalu mengerjakan shalat berjama’ah, sebab, srigala itu hanya mener-kam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya” (HR. Abu Dawud).

 

  1. Wanita Diperbolehkan Berjama’ah

      Di Masjid

 

Mengingat betapa besar keutamaan shalat berjama’ah di masjid, Rasulullah saw, memerin-tahkan kepada para suami untuk mengizinkan para istrinya mendatangi shalat berjama’ah di masjid, walaupun baginya tidaklah wajib.

Rasulullah saw bersabda (Abdul Baqi, Juz I, t.th:91):

Artinya:

Jika istri kamu minta izin untuk (berjama’ah shalat) di masjid, maka jangan dicegah

(HR. Bukhari).

 

Namun demikian, hendaklah mereka tetap menjaga adab kesopanan, berpakaian menutup aurat dan tidak berhias yang bisa menimbulkan syahwat. Rasulullah saw bersabda (As-Sadlan, 1414 H: 177):

 

Artinya:

Janganlah kamu halangi wanita-wanita hamba Allah memasuki masjid-masjid Allah, akan tetapi hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak memakai harum-haruman.” (HR. Abu Dawud)

VII. Penutup

Demikianlah uraian sekilas tentang shalat berjama’ah yang walaupun sedikit, diharapkan makalah ini bisa menggerakkan kaum muslimin untuk memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Sebab dalam kenyataannya, masih banyak yang belum memperhatikan shalat berjama’ah ini. Masjid cukup ramai disaat shalat Jum’at, tetapi dishalat lima waktu, khususnya Isya’ dan Subuh, jama’ahnya masih sangat memprihatinkan.

Padahal hanya dengan menambah sedikit usaha, akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar. Siapakah yang akan melepaskan uang            Rp 27.000,- dibanding uang Rp 1.000,- hanya dengan sedikit usaha melangkahkan kaki menuju masjid?

Untuk itu, marilah kita jadikan shalat ber-jama’ah di masjid dan mushalla sebagai gerakan bersama. Semoga!!!!

 

Yogyakarta, 17 Agustus 2012

Penulis

 

Drs. H.M. Budiyanto, MSI.

(0274) 7813480

08156886278

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Baqi, Muhammad Fuad

t.th.          Lu’lu’ wal Marjan. Darul Fikri.

Asymuni Abdurrahman, Prof. Drs. H.

  1. Sholat Berjama’ah. Yogyakarta: Suara

Muhammadiyah

As-Sadlan

1414 H    Sholatul Jama’ah. Riyadh: Darul Wathon.

Dep. Agama RI

  1. Ilmu Fiqih. Jakarta: Dep. Agama RI.

Imam Nawawi

  1. Riyadhus Sholihin. Alih bahasa Ahmad

Sunarto. Jakarta: Pustaka Amani.

Maulana Muhammad Zakariyya

  1. Himpunan Fadhilah Amal. Penerjemah Ust. A. Abdurrahman Ahmad. Yogyakarta: Ash-

Shaff.

Sayid Sabiq

  1. Fikih Sunnah. Penerjemah Mahyuddin Syaf.

Bandung: PT. Al-Ma’arif.

Sulaiman Rasyid

1976        Fiqih Islam, Jakarta: At-Tahiriyah, Cet.2

Wahbah Az-Zuhayly

  1. Al-Fiqh Al-Islami Wa’adillatuh. Damsyiq Suriah: Darul Fikri.

 

 

Menuju Gerakan

Sholat Berjama’ah

Oleh :

Drs. HM. Budiyanto, MSI.

 

Penerbit :

Lembaga Da’wah dan Pendidikan Al-Qur’an (LDPQ)

Yogyakarta

Bekerjasama dengan

Dewan Masjid Indonesia (DMI)

Wilayah Provinsi DIY

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s