AGAMA DI TENGAH KEKERASAN MASSA


(Perlunya Paradigma Baru dalam Pendidikan Agama)

(Drs HM Budiyanto, MSI)

 

I.              PENDAHULUAN

Ahad 1 Juni 2008, kembali terjadi tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kali ini terjadi di tengah jantung ibukota Indonesia, Jakarta, tepatnya di Lapangan Monas. Kekerasan kali ini dilakukan massa beratribut Front Pembela Islam dan beberapa organisasi masyarakat lain terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang saat itu sedang berunjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Pancasila. (Harian “Kompas”, 2 Juni 2008).

Sudah bisa diduga, aksi itupun kemudian disusul oleh tindak kekerasan berikutnya sebagai balasan. Malamnya, massa yang menamakan diri barisan anak muda NU, mendatangi dan merusak markas FPI di Kecamatan Weru Cirebon. Sedang malam berikutnya, giliran massa yang menamai atribut Banser NU menyerang markas FPI Yogyakarta (Berita Pagi RCTI dan SCTV, 3 Juni 2008).

Demikianlah, sejak 10 tahun terakhir ini, kerusuhan nampaknya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa kita. Semboyan “tiada hari tanpa kerusuhan” nampaknya telah benar-benar ikut memperkaya khasanah perbendaharaan kalimat bahasa kita, setelah dulu kita juga sering mendengar istilah-istilah semacam “tiada hari tanpa olah raga”, “tiada hari tanpa membaca”, dan sebagainya. Betapa tidak! Kerusuhan demi kerusuhan terus melanda negeri ini, diawali dengan kerusuhan Situbondo (1998), Tasikmalaya (1998), Solo (1999), Jakarta (2000), Ketapang (2003), Kupang (2004), Karawang (2005), Sukabumi (2008) dan yang baru saja terjadi Jakarta (2008). Sungguh ini fenomena yang sangat memprihatinkan sekaligus memilukan!

Yang lebih memprihatinkan lagi, banyak diantara kasus-kasus kerusuhan itu yang ternyata bermuara, atau setidak-tidaknya dimuarakan pada masalah SARA. Dan SARA yang berkaitan dengan masalah agama, ternyata yang paling sering terjadi, di bandingkan dengan SARA yang bersinggungan dengan masalah suku, ras dan antar golongan. Tercatat misalnya kasus Situbondo, Tasikmalaya, Ketapang dan Ambon, telah menyeret rasa kebencian dan permusuhan antar 2 kelompok pemeluk agama, Islam dan Kristen. Buahnya, sekian banyak lagi tempat ibadah dirusak atau diganggu.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa hal ini bisa terjadi di negeri yang dikenal akan keramahan dan kesantunan pendudukknya? Dimana letak salahnya? Makalah ditulis untuk mencoba menjawab pertanyaan ini dan sekaligus mencoba menawarkan solusi pemecahannya berdasarkan pendekatan sosiologi paedogogis.

II.           APA ITU AGAMA?

Kata “agama” adalah kata yang dipakai sehari-hari dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta. Disamping kata itu, dikenal pula istilah lain, yaitu “religie” dari bahasa Latin, “religion” dari bahasa Inggris dan “ad-dien” dari bahasa Semit (Arab) (Nasikun, 1984:3). Meskipun dari kata tersebut (agama, religie, religion dan ad-dien) masing-masing mempunyai tekanan arti tersendiri, namun terdapat persamaan (titik temu) pada inti dasarnya, yaitu “ikatan”.

Kata “agama” yang berasal dari bahasa Sansekerta menurut suatu pendapat (Nasikun, 1984:3) terdiri dari suku “A” dan Gama”. “A” berarti tidak dan “gama” berarti pergi. Jadi “agama” berarti tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun; sedang menurut pendapat lain, agama berarti teks atau kitab suci; dan menurut pendapat ketiga “agama” berasal dari suku kata “gam” yang berarti tuntunan.

Adapun kata “religie” berasal dari bahasa Latin yang menurut suatu pendapat berani “mengumpulkan dan membaca”, dan menurut pendapat yang lain berarti “mengikat”. Sedang kata “ad-dien” yang berasal dari bahasa Semit (Arab) berarti “undang-undang dan hukum” yang mempunyai sifat-sifat: menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan dan kebiasaan (Nasikun, 1984:4)

Setelah diketahui pengertian dasar dari agama, maka dari uraian tersebut dapat dikemukakan definisi agama. Dengan demikian, ternyata, tidaklah mudah merumuskan definisi agama yang memuaskan semua pihak, demikian menurut Elizabeth K. Notingham (1996:3) dalam sebuah penegasannya. Sekedar sebagai bahan perbandingan, di sini dikemukakan pendapat Prof. Hunt dalam The American People Encyclopedia (Nasikun, 1984:7), menyatakan bahwa “religion is the relation between man and supernatural being or beings in which or whom he believes”, artinya “Agama ialah suatu hubungan antara manusia dengan kekuatan gaib yang ia percayai”.

Sedang dalam The New Grolier Webster International Dictionary of Englihs language, dinyatakan bahwa (Nasikun, 1984:7) “religion is recognation on the part of man a controlling superhuman power entitled to obdience, reverenc and worship”, yang artinya bahwa “agama” adalah pengakuan manusia terhadap adanya kontrol dari kekuatan Yang Maha Kuasa yang dinyatakan dalam bentuk kekuatan, penyuluhan dan pemujaan.

Dari definisi kedua tokoh itu, dapatlah disimpulkan bahwa agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang bersumber pada kekuatan gaib (supernatural) .

III.        KEDUDUKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT

Thomas F. O’dea menegaskan (1995:1) bahwa penjelasan yang bagaimanapun adanya tentang agama, tidak akan pernah tuntas tanpa mengikut sertakan aspek-aspek sosiologisnya. Agama, yang menyangkut sistem kepercayaan serta berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan terus menerus senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat manusia.

Dari penegasan F. O’dea ini nampaknya bisa disimpulkan bahwa memang telah menjadi bagian integral dari kehidupan seseorang, baik individual maupun kolektif. Atau dengan kata lain, beragama pada hakekatnya adalah merupakan salah satu naluri atau instink dari manusia. Manusia adalah makhluk religius, yang hidupnya tak mungkin lepas dari beragama, apapun bentuk agamanya.

Elizabeth K. Nottingham telah menulis panjang lebar mengenai ketidak mungkinan manusia lepas dari agama. Dalam bukunya (1996:71-97) ia menguraikan bahwa dalam banyak situasi, manusia mau tidak mau mesti akhirnya akan kembali kepada agama. Misalnya dalam situasi yang penuh ketegangan dalam menghadapi kematian, dalam menghadapi misteri fenomena alam yang kekuatannya tidak bisa diramalkan (sepertii banjir, gunung meletus, badai angin ribut, dan sebagainya), bahkan dalam menghadapi ketegangan akibat oleh kemajuan teknologi yang diciptakan manusia sendiri, mau tidak mau ia akan berlindung dan mencari sesuatu yang disebut supernatural (agama). Pendeknya, agama adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan masyarakat. Jadilah agama merupakan salah satu struktur instusional penting yang melengkapi keseluruhan sistem sosial.

Di Indonesia, agama telah menjadi bagian yang tak terpisahkan, bukan hanya dalam kehidupan bermasyarakat saja, tetapi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam dasar negara Pancasila, tercantum secara tegas bahwa sila pertama dari kelima sila yang ada adalah pengakuan bangsa Indonesia terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian dipertegas lagi dalam UUD 1945, yaitu Bab XI Pasal 29 yang dirumuskan dalam 2 ayat: (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

IV.        FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT

Di atas telah ditegaskan, bahwa agama merupakan salah satu struktur institusional penting yang melengkapi keseluruhan sistem sosial. Akan tetapi masalah agama, demikian Thomas F. O’dea mengatakan (1995:1), berbeda dengan masalah pemerintahan dan hukum, yang lazim menyangkut alokasi serta pengendalian kekuasaan. Berbeda dengan lembaga ekonomi yang berkaitan dengan kerja, produksi dan pertukaran. Dan juga berbeda dengan lembaga keluarga yang mengatur serta memuliakan hubungan antar jenis kelamin, antar generasi yang diantaranya berkaitan dengan pertalian keturunan serta kekerabatan. Masalah inti dari agama tampaknya menyangkut sesuatu yang masih kabur serta tidak dapat diraba, yang realitas empirisnya sama sekali belum jelas. Ia menyangkut dunia luar (the beyond), hubungan manusia dengan dan sikap terhadap dunia luar itu, dan dengan apa yang dianggap manusia sebagai implikasi praktis dari dunia luar tersebut terhadap kehidupan manusia.

Walaupun para sosiolog (seperti Thomas O’dea di atas) menganggap bahwa agama adalah menyangkut masalah yang berkaitan dengan dunia luar (the beyond), yang seolah-olah jadi tidak begitu penting bagi kehidupan masyarakat, namun dalam kenyataannya menunjukkan lain. Agama ternyata menyangkut dan menyentuh keseluruhan aspek kehidupan manusia. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa agama dan lembaga-lembaga keagamaan merupakan bentuk asosiasi manusia yang paling mungkin untuk terus bertahan.

Untuk itu para ahli sosiologi telah banyak yang mengkaji masalah fungsi agama bagi masyarakat. Nampaknya semuanya mengakui bahwa agama memiliki pengaruh besar terhadap perilaku masyarakat, khususnya bagi masyarakat pemeluknya, baik pengaruh positif maupun negatif sifatnya. Emile Durklieim misalnya, seorang pelopor sosiologi agama dari Perancis mengatakan bahwa agama merupakan sumber semua kebudayaan yang sangat tinggi; namun sebaliknya Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia (Bryan S. Turner, 1991: 45,63).

Lepas dari perbedaan sudut pandang kedua tokoh ini tentang agama, yang jelas keduanya telah membuktikan bahwa agama punya pengaruh terhadap perilaku masyarakat. Dalam hal ini, Thomas F. O’dea menegaskan (1995:30) bahwa sumbangan agama kepada masyarakat bisa bersifat positif tetapi juga bisa bersifat negatif. Agama mungkin bisa mendukung kesinambungan eksistensi masyarakat (berfungsi sebagai faktor integratif), atau juga bisa berperan sebagai faktor yang menghancurkan (sebagai faktor disintegratif). Demikian pula J. Milton Yinger, seorang ahli sosiologi agama dari Amerika (Thomas F. O’dea, 1995:30) juga melihat adanya 2 wajah dari agama, disatu sisi agama bisa melakukan fungsi pemersatu (integratif), namun disisi lain (bahkan dalam waktu yang bersamaan) agama juga dapat sebagai unsur pengganggu dan unsur pendobrak (destruktif).

Fenomena sejarah memang membenarkan pendapat adanya 2 wajah dari agama itu. Sejarah bangsa Arab misalnya, sebelum datangnya Islam mereka dikenal sebagai bangsa yang terus menerus berperang antar suku-suku yang ada di antara mereka. Namun begitu Islam datang, mereka bisa disatukan di bawah satu bendera ke-Islaman, sehingga kemudian menjadi bangsa kokoh dan bisa malang melintang selama beberapa abad menjadi negara adi kuasa. Artinya, atas nama agama mereka bersatu. Namun, atas nama agama pula, telah terjadi peperangan yang dasyat baik antara pemeluk satu agama (Islam dengan Islam; Kristen dengan Kristen) atau antar pemeluk yang berbeda agama, seperti Islam dengan Kristen dalam perang salib.

Tegasnya, agama bisa dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublim, sebagai sejumlah besar ikatan moralitas, sebagai sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu-individu masyarakat, sebagai sesuatu yang dimuliakan dan yang membuat manusia serta masyarakat beradab. Tetapi disisi lain, agama juga bisa sebagai penghambat kemajuan manusia (misalnya sikap penerimaan yang total terhadap takdir), sebagai faktor yang mempertinggi fanatisme dan sikap tidak toleran, sikap acuh tak acuh, pengabaian, tahayul dan kesia-siaan.

V.           AGAMA DAN KEKERASAN

Di atas telah tergambar bahwa dalam diri agama, dilihat dari perspektif sosiologis, menampakkan 2 wajah yang berbeda. Suatu saat berwajah manis, sejuk, penuh kedamaian, cinta kasih, toleran dan bisa menjadi alat pemersatu serta perekat suatu masyarakat. Namun dalam kesempatan yang lain, atau malah dalam waktu yang bersamaan, agama bisa menampakkan wajah yang sebaliknya, garang, kasar, fanatik, tidak toleran dan bahkan menjadi alat pemecah belah suatu tatanan masyarakat yang sudah menyatu.

Mengingat di Indonesia agama (apapun agamanya), telah merupakan darah daging sebagian besar rakyatnya, sehingga sadar atau tidak sadar, agama telah menjiwai berbagai aspek kehidupannya (dalam kuantum dan intensitas yang gradual). Dengan demikian sikap seseorang terhadap kehidupan dan lingkungan sedikit banyak akan terpengaruh oleh sikap kereligiusannya itu. Apakah akan menampilkan wajah agama yang sejuk atau yang sebaliknya, tergantung dari pemahaman dia terhadap agamanya masing-masing.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa agama dilihat dari satu sisi yang lain, mempunyai 2 dimensi (A. Ludjito, dkk., 1982:17), yaitu dimensi transedental  (ukhrowi) dan dimensi mondial (duniawi). Yang pertama menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya (segi ibadah), yang kedua menyangkut hubungan manusia dengan manusia lainnya dan lingkungan. Dan dalam kehidupan sehari-hari kedua dimensi itu dalam satu pribadi secara terpadu yang ikut menentukan corak dan bentuk kepribadian pemeluknya. Namun satu kenyataan menunjukkan bahwa terdapat suatu gradasi tertentu dalam hal pengaruh kedua unsur itu pada individu-individu di masyarakat, yang terbukti dengan adanya perbedaan sikap kepekaan seseorang terhadap masalah-masalah kemasyarakatan, baik yang berada dalam lingkungan sempitnya maupun yang lebih luas. Akibatnya, realitas yang muncul di masyarakat kemudian adalah tingginya “intensitas religiusnya” terhadap sesama umat manusia. Bahkan ada kecenderungan, semakin tinggi intensitas religiusnya justru akan semakin tinggi kemungkinan menjadi pemicu timbulnya konflik, khususnya terhadap umat pemeluk agama lain.

Tegasnya, salah satu penyebab munculnya konflik sosial di Indonesia yang bermuara atau dimuarakan pada masalah agama, adalah karena pemahaman para pemeluk terhadap agama masing-masing yang masih persial dan lebih menekankan pada dimensi transedental (ukhrowi). Sedangkan dimensi mondial (duniawi) yang menyangkut aspek hubungan manusia dengan manusia serta lingkungannya, kurang mendapat perhatian dan masih sangat dangkal.

VI.        DIPERLUKAN PENDIDIKAN AGAMA YANG MENYEJUKKAN

Tentunya kita semua sepakat bahwa berbagai kerusuhan, apapun latar belakangnya, harus dihentikan. Sebab siapapun dan apapun agamanya, rasanya tidak akan ditemukan ajaran untuk membenarkan kerusuhan demi kerusuhan ini terjadi di tanah air tercinta. Untuk itu sudah mendesak saatnya para tokoh masyarakat, pemikir dan para pemuka agama, apapun agamanya, untuk segera tampil kedepan. Kuncinya, untuk jangka pendek adalah dengan banyak mengadakan silaturahim antar mereka, berdialog dan bertukar pikiran secara intens, dengan tulus ikhlas menghilangkan saling kecurigaan. Untuk jangka panjang, perlu dipikirkan reorientasi terhadap sistem pendidikan nasional. Materi atau mata pelajaran yang mendidikkan jiwa patriotisme dan cinta tanah air, perlu diberi bobot lebih.

Khusus yang berkaitan dengan pendidikan agama, reorientasi diarahkan pada pemahaman agama yang disertai rasa dan olah batin yang menyejukkan. Suatu pengalaman batin dimana manusia dibawa kepada yang Ilahi begitu rupa sehingga ia rela melepaskan diri dari belenggu nafsunya, dan menundukkan diri kepada Tuhan. Ini semua diperlukan:

a.       Tersedianya waktu yang cukup untuk mata pelajaran pendidikan agama di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta, baik Madrasah ataupun Sekolah Umum.

b.      Terciptanya suasana dan lingkungan sekolah yang religius. Setiap sekolah perlu  ada musholla/masjid dan tempat ibadah yang diperlukan secara memadai.   Seragam  dan  pakaian  sekolah  harus  mencerminkan  budaya Indonesia yang religius.

c.       Adanya keteladanan dari semua pihak. Pendidikan agama bukanlah menjadi tanggung jawab guru agama saja, tetapi semua pihak hendaknya menyadari bahwa masing-masing mereka adalah umat beragama yang harus mentaati agamanya.

Pada akhirnya, penghayatan keagamaan yang demikian akan memungkinkan timbulnya sikap keagamaan yang penuh toleran dan inklusif terhadap pengalaman religiusitas pribadi orang lain, termasuk terhadap orang atau kelompok masyarakat yang berlainan agama. Disinilah perlunya dicari paradigma baru dalam pendidikan agama. Agama yang menyejukkan, bukan agama yang garang.

Ini semua sangat tergantung pada kesadaran semua umat beragama, khususnya para pemuka agama. Para pemuka agama, baik itu ulama, kiai, pendeta, biksu dan lain-lain kesemuanya punya andil besar bagi terwujudnya agama yang menyejukkan ini. Sebab merekalah yang punya otoritas untuk melakukan perubahan-perubahan pada materi dakwah atau missi pendidikan agamanya kepada umatnya masing-masing. Sekali lagi. membangun pemahaman agama yang sistemik sangat diperlukan, agar keberagamaan umat tidak lagi parsial tetapi integral. Bila bisa demikian, maka akan terjadi semakin tinggi intensitas religiusitas seseorang akan semakin tinggi pula intensitas jiwa solidaritasnya terhadap sesama umat manusia. Bukan sebaliknya!

DAFTAR  PUSTAKA

– Abdurrahman Wahid.

1981        Muslim Ditengah Pergumulan. Jakarta: Leppenas.

– A. Ludjito, dkk.

1982        Penelitian Agama, Masalah dan Pemikiran. Jakarta: Sinar Harapan.

– Bryan S. Turner.

1991        Religion and Social Theory. London: Sage Publication.

– Elizabet K. Nottingham

1996        Agama dan Masyarakat (Terjemah Abdul Muis Naharong). Jakarta: Rajawali Pers.

– George Ritzer

1992        Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Saduran Alimandan). Jakarta: Rajawali Pers.

– Muhaimin, Prof. Dr. MA

2006        Nuansa Baru Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

– Muhammad AR

2003        Pendidikan di Alaf Baru. Yogyakarta: Prismasophie.

– Nasikun

1998        Globalisasi dan Tantangan Agama Memasuki Awal Milenium Ketiga (Makalah).

– Sutrisno

2005        Revolusi Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

– Thomas F. O’dea

1995        Sosiologi Agama (Diterjemahkan Tim Yasogama). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

– UURI Nomer 2

1986        Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Kloang Klede Jaya

– UURI Nomer 20

2003        Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s